KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali mengubah seseorang. Jabatan yang semula dipandang sebagai amanah perlahan bergeser menjadi hak istimewa. Rumah dinas berubah menjadi simbol status, kendaraan menjadi penanda kasta, sementara fasilitas publik perlahan dianggap sebagai milik pribadi. Di titik itulah, yang berubah bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara memandang kekuasaan itu sendiri.
Sejarah memperlihatkan bahwa runtuhnya sebuah pemerintahan sering kali tidak dimulai dari kekalahan di medan perang, melainkan dari kemewahan yang perlahan memutus hubungan penguasa dengan rakyatnya. Ketika seorang pemimpin berhenti merasakan denyut kehidupan orang kebanyakan, keputusan-keputusannya pun kehilangan empati.
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar belajar dari nasib para penguasa terdahulu:
وَسَكَنتُم فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ
“Dan kamu telah tinggal di tempat-tempat orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Telah nyata bagimu bagaimana Kami memperlakukan mereka, dan Kami telah memberikan berbagai perumpamaan kepadamu” (QS. Ibrahim: 45)
Ayat ini bukan sekadar kisah tentang kaum masa lalu. Ia menyimpan peringatan yang selalu relevan: jangan sampai kita menempati bangunan yang dahulu dihuni para tiran, lalu menjalankan pola hidup yang sama. Sebab yang membedakan sebuah pemerintahan bukan hanya siapa yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan nilai yang menggerakkan mereka.
Di sinilah ujian terbesar seorang pejabat dimulai. Godaan itu bukan semata korupsi dalam arti mengambil uang negara. Ada bentuk lain yang lebih halus: rasa pantas untuk hidup lebih mewah daripada rakyat yang dipimpinnya. Ketika jabatan dianggap sebagai tiket menuju kenyamanan pribadi, saat itulah amanah berubah menjadi alat pemuas hawa nafsu.
Dalam konteks yang lebih luas, ada dua jalan yang selalu terbuka bagi siapa pun yang memperoleh kekuasaan.
Jalan pertama adalah jalan para pemburu dunia. Mereka mengejar jabatan agar dapat mengumpulkan kekayaan, memperluas pengaruh, mempercantik rumah, memperbanyak fasilitas, atau memastikan keluarganya hidup dalam kemewahan. Kekuasaan hanyalah kendaraan menuju kepentingan pribadi. Semakin tinggi jabatan, semakin besar peluang menikmati dunia.
Namun ada jalan kedua, jalan yang ditempuh para nabi dan orang-orang saleh. Mereka memandang kekuasaan sebagai beban pelayanan, bukan sarana pemanjaan diri.
Tentang Rasulullah saw diriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَأْكُلُ أَكْلَ الْعَبْدِ وَيَجْلِسُ جِلْسَةَ الْعَبْدِ
“Rasulullah makan sebagaimana seorang hamba makan dan duduk sebagaimana seorang hamba duduk”
Ungkapan itu bukan sekadar menggambarkan kesederhanaan lahiriah. Ia menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di hadapan manusia, semakin rendah hatinya di hadapan Allah. Tidak ada keinginan menciptakan jarak sosial melalui pakaian, makanan, atau protokol yang berlebihan.
Gagasan ini kemudian menemukan bentuk yang lebih tegas dalam kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Sebagai kepala pemerintahan yang wilayahnya membentang luas, ia justru berkata:
أَلَا وَإِنَّ إِمَامَكُمْ قَدِ اكْتَفَى مِنْ دُنْيَاهُ بِطِمْرَيْهِ وَمِنْ طُعْمِهِ بِقُرْصَيْهِ
“Ketahuilah, pemimpin kalian telah mencukupkan diri dari dunia ini dengan dua helai pakaian sederhana dan dua potong roti”
Pernyataan itu lahir ketika beliau menegur gubernurnya, Utsman bin Hunaif, yang menghadiri jamuan kaum kaya sementara kaum miskin tidak diundang. Bagi Imam Ali a.s, persoalannya bukan sekadar menghadiri pesta. Yang lebih berbahaya adalah ketika seorang pejabat mulai merasa nyaman berada dalam lingkaran kemewahan hingga perlahan kehilangan kepekaan terhadap penderitaan rakyat.
Namun Imam Ali a.s juga menyadari bahwa tidak semua orang mampu mencapai tingkat kezuhudan seperti dirinya. Karena itu beliau berkata:
أَلَا وَإِنَّكُمْ لَا تَقْدِرُونَ عَلَى ذَلِكَ وَلَكِنْ أَعِينُونِي بِوَرَعٍ وَاجْتِهَادٍ
“Aku tahu kalian tidak akan mampu hidup seperti itu. Tetapi bantulah aku dengan ketakwaan dan kesungguhan”
Kalimat ini terasa sangat manusiawi. Islam tidak menuntut setiap pemimpin hidup dalam kemiskinan. Yang dituntut adalah menjaga arah hidup agar tidak mengikuti budaya para penguasa dunia yang menjadikan jabatan sebagai pintu menuju kemewahan.
Di titik ini, ukuran kesederhanaan bukanlah seberapa murah pakaian yang dikenakan atau seberapa kecil rumah yang ditempati. Ukurannya adalah apakah gaya hidup seorang pemimpin masih membuatnya mampu merasakan kegelisahan rakyat yang dipimpinnya.
Sebab kemewahan memiliki satu akibat yang sering tidak disadari: ia menciptakan tembok. Ketika perjalanan dilakukan dengan pengawalan berlapis, makanan selalu tersedia tanpa antre, biaya hidup tak lagi menjadi persoalan, dan semua kebutuhan dipenuhi negara, seorang pejabat perlahan kehilangan pengalaman yang setiap hari dialami masyarakat biasa. Dari situlah lahir keputusan-keputusan yang jauh dari realitas.
Kesederhanaan sesungguhnya adalah cara menjaga hati agar tetap dekat dengan manusia. Ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan berakhir. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Terhormat”, esok ia hanya tinggal nama dalam arsip sejarah.
Karena itu, ancaman terbesar bagi seorang pemimpin bukanlah kehilangan jabatan. Ancaman terbesar adalah ketika jabatan mengubah dirinya menjadi pribadi yang tak lagi mengenal batas antara amanah dan hak istimewa.
Seorang pemimpin yang baik tidak harus hidup miskin. Tetapi ia harus hidup wajar. Tidak berlebihan, tidak bermewah-mewahan, tidak menjadikan fasilitas negara sebagai sarana memenuhi selera pribadi. Sebab rakyat lebih mudah memaafkan pemimpin yang hidup sederhana daripada pemimpin yang pandai berbicara tentang pengorbanan tetapi hidup dalam kemegahan.
Pada akhirnya, sejarah tidak mengingat berapa luas rumah seorang penguasa atau berapa mahal kendaraannya. Sejarah mengingat apakah ia menggunakan kekuasaan untuk melayani, atau justru dilayani oleh kekuasaan itu sendiri.







