KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: keadilan, keberanian moral, dan keberpihakan kepada manusia kecil.
Di tengah kecenderungan itu, sosok Ali bin Abi Thalib a.s sering kali direduksi menjadi sekadar ikon romantik sejarah Islam. Padahal, yang paling penting dari Imam Ali a.s bukanlah bagaimana ia berpakaian atau bagaimana bentuk kehidupannya secara fisik. Yang paling penting adalah prinsip hidup dan cara pandangnya terhadap manusia.
Dalam sebuah penjelasan yang tajam, disebutkan bahwa prinsip Islam bukanlah apakah Imam Ali a.s mengenakan kain sederhana atau baju tertentu sehingga semua orang hari ini harus menyalin persis penampilan itu. Inti Islam justru terletak pada nilai-nilai yang diperjuangkan Ali a.s: keadilan, tauhid, kejujuran terhadap rakyat, penghormatan pada hak manusia, pembelaan terhadap kaum lemah, dan keberanian menghadapi kekuatan zalim.
Nilai-nilai itu tidak pernah usang.
Masalahnya, manusia modern sering lebih mudah meniru simbol daripada substansi. Mengubah pakaian lebih gampang daripada mengubah watak kekuasaan. Memanjangkan jubah lebih mudah daripada berlaku adil kepada bawahan. Menghafal pidato Imam Ali a.s lebih mudah daripada menolak korupsi ketika kesempatan datang.
Karena itu, pembicaraan tentang “pemerintahan Alawi” atau “kepemimpinan ala Imam Ali a.s” sesungguhnya bukan nostalgia sejarah, melainkan kritik terhadap dunia modern.
Sebab problem manusia ternyata tidak banyak berubah sejak ribuan tahun lalu. Yang kuat masih menindas yang lemah. Yang kaya terus memperbesar kuasa. Negara-negara besar masih merasa berhak menentukan nasib bangsa lain. Dalam skala kecil, kantor, institusi, bahkan keluarga pun sering berjalan dengan logika dominasi: siapa kuat, dia menang.
Di situlah relevansi Imam Ali a.s menjadi terasa sangat kontemporer.
Ia hadir bukan hanya sebagai tokoh ibadah, tetapi sebagai standar moral tertinggi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan. Namun justru karena itulah, Imam Ali a.s nyaris mustahil dibandingkan dengan siapa pun.
Bahkan cucunya sendiri, Ali Zainal Abidin a.s yang dikenal sebagai Imam Sajjad dan terkenal luar biasa dalam ibadah, pernah mengatakan sesuatu yang sangat mengguncang.
Ketika seseorang memuji ibadahnya dan membandingkannya dengan ibadah Imam Ali a.s, ia menjawab:
عِبَادَتِی عِنْدَ عِبَادَةِ جَدِّی كَعِبَادَةِ جَدِّی عِنْدَ عِبَادَةِ رَسُولِ اللَّهِ
“Ibadahku dibanding ibadah kakekku hanyalah seperti ibadah kakekku dibanding ibadah Rasulullah”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan tawaduk. Ia menunjukkan betapa tingginya maqam spiritual Imam Ali a.s hingga bahkan seorang imam maksum seperti Imam Sajjad merasa dirinya sangat jauh.
Bayangkan: seorang ahli ibadah besar mengaku tidak layak dibandingkan dengan Ali a.s. Lalu bagaimana mungkin manusia biasa hari ini dengan mudah merasa sudah cukup saleh hanya karena simbol-simbol agama yang tampak di permukaan?
Di titik ini, Imam Ali a.s bukan lagi sekadar figur sejarah, tetapi sebuah “puncak”. Ia adalah arah, bukan sekadar target yang bisa dicapai penuh. Seperti gunung tinggi yang menjadi penunjuk orientasi perjalanan. Orang mungkin tidak sampai ke puncaknya, tetapi tetap membutuhkan gunung itu agar tidak kehilangan arah.
Dan mungkin inilah salah satu masalah besar zaman modern: manusia kehilangan standar moral yang tinggi. Kita terlalu sering puas dengan versi minimal dari kebaikan. Politik cukup dianggap berhasil jika tidak terlalu korup. Pemimpin dianggap baik jika sekadar tidak kasar. Padahal, dalam logika Imam Ali a.s, kekuasaan harus melindungi yang lemah, memuliakan manusia, dan berdiri melawan kezaliman.
Konsep itu terasa semakin relevan ketika dunia hari ini dipenuhi “para kuat” yang merasa berhak atas segalanya. Negara besar menekan negara kecil. Korporasi mengendalikan hidup jutaan orang. Informasi dimanipulasi. Ekonomi dikonsentrasikan pada segelintir elite. Sementara rakyat biasa hidup dalam kecemasan yang panjang.
Ironisnya, semua itu sering dilakukan atas nama peradaban, keamanan, bahkan demokrasi.
Dalam konteks inilah logika pemerintahan Imam Ali a.s menjadi sangat radikal. Ia menolak kekuasaan yang memakan manusia. Ia menentang sistem yang membuat kelompok kuat semakin rakus. Baik di dalam masyarakat maupun dalam hubungan antarbangsa, prinsipnya tetap sama: jangan biarkan yang kuat menelan yang lemah.
Itulah sebabnya warisan Imam Ali a.s tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Karena manusia modern sebenarnya masih mencari hal yang sama: pemimpin yang adil tanpa pencitraan, kuat tanpa kesombongan, religius tanpa manipulasi.
Namun sejarah juga mengajarkan satu hal pahit: semakin tinggi standar moral seseorang, semakin sulit dunia menerimanya.
Imam Ali a.s hidup sederhana di tengah budaya elite kekuasaan. Ia keras terhadap korupsi ketika banyak orang ingin menikmati privilese. Ia berbicara tentang keadilan saat sebagian masyarakat justru menginginkan keuntungan kelompoknya sendiri.
Dan mungkin di situlah tragedinya.
Dunia sering mengagumi Imam Ali a.s setelah beliau tiada, tetapi tidak siap hidup bersama nilai-nilainya ketika beliau masih ada.
Maka pertanyaan terbesar hari ini bukanlah apakah kita mampu menjadi seperti Imam Ali a.s. Bahkan Imam Sajjad pun merasa sangat jauh darinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadikan keadilan, pembelaan terhadap yang lemah, dan penghormatan terhadap hak manusia sebagai inti agama bukan sekadar hiasan pidato dan simbol identitas?







