KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang selalu bertahan dalam sejarah manusia, bahkan ketika zaman berubah begitu cepat: harapan. Di tengah perang, ketidakadilan, krisis moral, dan kegelisahan yang menguasai kehidupan modern, manusia tetap mencari sosok yang menjadi penanda bahwa masa depan tidak sepenuhnya gelap. Dalam tradisi Islam, harapan itu menjelma dalam sosok Imam Mahdi, yang juga dikenal dengan gelar Baqiyyatullah “Yang tersisa dari Allah” atau “Titipan Ilahi” yang tetap hadir di bumi.
Peringatan pertengahan bulan Syaban bukan sekadar perayaan kelahiran seorang tokoh suci. Ia adalah momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa di balik hiruk-pikuk dunia yang tampak tak menentu, masih ada janji Tuhan yang tidak pernah pudar.
Salah satu ungkapan yang paling indah dalam tradisi Islam adalah salam yang dipanjatkan kepada Imam Mahdi melalui Ziarah Al Yasin:
اَلسَّلامُ عَلَيكَ يا بَقِيَّةَ اللَّهِ في أَرضِهِ، السَّلامُ عَلَيكَ يا ميثاقَ اللَّهِ الَّذي أَخَذَهُ وَوَكَّدَهُ، السَّلامُ عَلَيكَ يا وَعدَ اللَّهِ الَّذي ضَمِنَهُ، السَّلامُ عَلَيكَ أَيُّهَا العَلَمُ المَنصوبُ وَالعِلمُ المَصبوبُ وَالغَوثُ وَالرَّحمَةُ الواسِعَةُ، وَعدًا غَيرَ مَكذوبٍ.
“Salam atasmu, wahai Baqiyyatullah di bumi-Nya. Salam atasmu, wahai perjanjian Allah yang diteguhkan. Salam atasmu, wahai janji Allah yang dijamin terlaksana. Salam atasmu, wahai panji yang ditegakkan, ilmu yang dicurahkan, penolong, dan rahmat Allah yang luas; sebuah janji yang tidak akan pernah diingkari”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar rangkaian doa. Ia merupakan bahasa cinta yang lahir dari keyakinan. Setiap sapaan mengingatkan bahwa Imam Mahdi afs bukan hanya figur yang dinantikan, melainkan simbol kesinambungan rahmat Tuhan bagi manusia.
Menariknya, salam itu tidak berhenti pada penyebutan gelar-gelar mulia. Ziarah Al Yasin kemudian menghadirkan sapaan yang sangat personal:
اَلسَّلامُ عَلَيكَ حينَ تَقومُ، السَّلامُ عَلَيكَ حينَ تَقعُدُ، السَّلامُ عَلَيكَ حينَ تَقرَأُ وَتُبَيِّنُ
“Salam atasmu ketika engkau berdiri. Salam atasmu ketika engkau duduk. Salam atasmu ketika engkau membaca dan menjelaskan”
Dalam bagian berikutnya, salam itu terus mengalir: ketika beliau shalat, rukuk, sujud, bertasbih, memuji Allah, memohon ampun, pada pagi hari, petang, bahkan sepanjang malam dan siang. Seolah-olah tidak ada satu pun detik kehidupan yang luput dari hubungan batin antara seorang mukmin dan imamnya.
Di titik inilah makna salam menjadi lebih dalam. Salam bukan hanya ucapan penghormatan, melainkan bentuk kehadiran hati. Ia menandakan bahwa hubungan spiritual tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu. Meski tak berjumpa secara fisik, seorang mukmin tetap dapat menghadirkan cinta, doa, dan kesetiaan melalui salam yang terus dipanjatkan.
Tradisi ini juga berakar pada sebuah tuntunan yang dinisbatkan kepada Imam Mahdi afs sendiri. Dalam sebuah tauqi’ surat yang diriwayatkan berasal dari beliau, umat diajarkan cara bertawassul kepada Allah melalui Ahlulbait dengan mengucapkan firman-Nya:
سَلَامٌ عَلَى آلِ يَاسِينَ
“Salam sejahtera atas keluarga Yasin”
Dari sanalah lahir Ziarah Al Yasin yang hingga kini menjadi salah satu doa paling dicintai oleh para pencari kedekatan spiritual. Menariknya, hampir seluruh isi ziarah ini dibangun di atas satu kata yang terus diulang: salam.
Pengulangan itu bukan tanpa makna. Dalam bahasa Arab, salam berarti kedamaian, keselamatan, sekaligus pengakuan. Ketika seseorang mengucapkan salam kepada Imam Mahdi afs, sesungguhnya ia sedang menyatakan bahwa dirinya ingin menjadi bagian dari jalan damai yang dibawa para pewaris risalah.
Dalam konteks yang lebih luas, salam juga menjadi bentuk komitmen moral. Sulit membayangkan seseorang mengaku mencintai imam keadilan tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru menebarkan kebencian, kebohongan, atau ketidakadilan. Salam yang diucapkan berulang-ulang seharusnya membentuk karakter yang semakin damai, jujur, dan penuh kasih.
Di tengah dunia yang dipenuhi polarisasi, permusuhan di media sosial, serta perlombaan mengejar kepentingan pribadi, doa-doa seperti ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Harapan bukanlah sikap pasif menunggu perubahan datang dari langit. Harapan adalah cara mempersiapkan diri agar layak menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Karena itulah, menanti Imam Mahdi afs dalam tradisi Islam bukan sekadar menghitung kapan beliau akan muncul. Penantian sejati adalah memperbaiki diri, memperluas kasih sayang, menegakkan keadilan di lingkungan terdekat, serta menjaga harapan ketika banyak orang memilih putus asa.
Gagasan ini kemudian menyentuh satu kenyataan yang sering terlupakan: manusia hidup bukan hanya karena memiliki masa lalu, tetapi juga karena memiliki masa depan yang diyakini. Ketika harapan hilang, kehidupan perlahan kehilangan arah. Sebaliknya, ketika janji Tuhan tetap hidup di dalam hati, setiap langkah, sekecil apa pun, memperoleh makna yang lebih besar.
Itulah sebabnya Ziarah Al Yasin terasa begitu menyentuh. Ia tidak menawarkan teori yang rumit, melainkan mengajak hati untuk terus menyapa. Salam demi salam menjadi pengingat bahwa hubungan dengan imam tidak dibangun oleh jarak fisik, melainkan oleh kesetiaan, cinta, dan keyakinan.
Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukanlah seberapa sering kita mengucapkan salam, melainkan apakah salam itu telah mengubah cara kita memandang kehidupan. Sebab setiap kali kita berkata, “Assalamu’alaika ya Baqiyyatallah,” sesungguhnya kita sedang memperbarui harapan bahwa keadilan masih memiliki masa depan, rahmat Tuhan masih menaungi bumi, dan janji-Nya tidak pernah ingkar.







