KHAMENEI.ID– Ada banyak orang tampak religius ketika hidup sedang tenang. Mereka mudah tersenyum saat rezeki lancar, mudah berbicara tentang syukur ketika tubuh sehat, dan mudah terlihat sabar selama masalah belum datang. Tetapi watak sejati manusia sering baru terlihat ketika hidup mulai mengguncang dirinya.
Dalam tradisi Islam, iman bukan sekadar keyakinan yang disimpan di kepala. Ia adalah karakter yang muncul dalam cara seseorang menghadapi dunia: ketika dihina, ketika diuji, ketika diberi kelapangan, bahkan ketika berhadapan dengan musuhnya sendiri.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s pernah menggambarkan sosok mukmin melalui sebuah hadis yang terasa sangat relevan dengan manusia modern hari ini. Beliau berkata:
يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ فِيهِ ثَمَانُ خِصَالٍ وَقُورٌ عِنْدَ الْهَزَاهِزِ صَبُورٌ عِنْدَ الْبَلَاءِ شَكُورٌ عِنْدَ الرَّخَاءِ قَانِعٌ بِمَا رَزَقَهُ اللَّهُ لَا يَظْلِمُ الْأَعْدَاءَ وَلَا يَتَحَامَلُ لِلْأَصْدِقَاءِ بَدَنُهُ مِنْهُ فِي تَعَبٍ وَالنَّاسُ مِنْهُ فِي رَاحَةٍ
“Seorang mukmin semestinya memiliki delapan sifat: tenang saat guncangan datang, sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur saat lapang, merasa cukup dengan rezeki Allah, tidak menzalimi musuh, tidak membela teman secara berlebihan hingga menzalimi orang lain, dirinya bersusah payah, sementara orang lain merasa nyaman karenanya.”
Hadis ini terasa menarik karena tidak berbicara tentang simbol-simbol besar keagamaan. Tidak membahas pakaian, slogan, atau penampilan lahiriah. Yang dibicarakan justru kualitas mental dan kedewasaan moral.
Sifat pertama adalah waqūr ‘indal hazāhiz tetap tenang ketika hidup berguncang.
Kata hazāhiz dalam penjelasan ulama diartikan sebagai peristiwa yang mengguncang batin manusia: penyakit, perang, kemiskinan, fitnah, kabar buruk, atau ketakutan yang datang tiba-tiba. Imam Shadiq a.s menggambarkan mukmin sebagai pribadi yang tidak mudah panik. Ia tidak kehilangan akal hanya karena isu, tekanan, atau rumor.
Di zaman media sosial, sifat ini terasa makin langka. Hari ini manusia begitu mudah terseret kepanikan massal. Sedikit kabar buruk langsung membuat orang kalang kabut. Sedikit hinaan membuat emosi meledak. Sedikit ancaman membuat manusia kehilangan arah.
Padahal ketenangan adalah bentuk kekuatan.
Mukmin bukan manusia tanpa rasa takut, melainkan orang yang tidak membiarkan ketakutan mengendalikan dirinya.
Sifat kedua: shabūr ‘indal balā’ sabar ketika musibah datang.
Sabar bukan berarti diam pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berjalan meski ada hambatan. Seperti seseorang yang sedang menempuh perjalanan lalu menemukan batu besar di tengah jalan. Orang yang tidak sabar memilih pulang. Orang yang sabar mencari cara untuk melewati rintangan itu.
Karena itu, sabar dalam Islam bukan kelemahan. Ia justru daya tahan.
Kita hidup di zaman serba cepat, ketika manusia ingin semua hal selesai seketika. Sedikit gagal langsung menyerah. Sedikit terluka langsung kehilangan harapan. Padahal banyak hal besar lahir justru dari kemampuan bertahan dalam masa sulit.
Lalu hadis itu berbicara tentang sifat ketiga: syakūr ‘indar rakhā’ bersyukur ketika hidup sedang mudah.
Ini terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit.
Manusia biasanya ingat Tuhan ketika terdesak. Namun saat hidup mulai nyaman, perlahan ia merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya sendiri. Al-Qur’an menggambarkan watak ini dengan kalimat tajam:
أَن رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
“Ketika manusia merasa dirinya telah cukup” (QS. AL-’Alaq: 7)
Perasaan “sudah aman” sering membuat manusia lupa diri. Sedikit kaya mulai sombong. Sedikit terkenal mulai merasa lebih tinggi dari orang lain. Sedikit sehat merasa tidak membutuhkan siapa-siapa.
Karena itu syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”. Syukur adalah kesadaran bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Hadis itu kemudian menyentuh satu penyakit sosial yang sangat modern: kerakusan.
Qāni‘un bimā razaqahullāh merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Bukan berarti berhenti bekerja keras. Islam tidak memuji kemalasan. Tetapi setelah segala usaha dilakukan, manusia diajarkan untuk tidak terus-menerus hidup dalam rasa kurang.
Hari ini banyak orang sebenarnya tidak miskin, tetapi tidak pernah merasa cukup. Dunia modern membangun industri besar di atas rasa tidak puas manusia. Kita didorong terus membeli, terus membandingkan diri, terus merasa tertinggal.
Akibatnya hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Padahal ketenangan sering lahir bukan ketika seseorang memiliki segalanya, tetapi ketika ia mampu merasa cukup.
Menariknya, hadis ini juga berbicara tentang etika terhadap musuh.
Lā yazhlimul a‘dā’ tidak menzalimi musuh.
Ini mungkin salah satu standar moral paling tinggi dalam Islam. Sebab banyak orang bisa baik kepada teman, tetapi berubah kejam ketika membenci seseorang. Imam Shadiq a.s menolak logika itu. Kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk berbohong, memfitnah, mengambil hak orang lain, atau menghina martabatnya.
Musuh tetap manusia.
Di tengah budaya politik dan media sosial yang penuh caci maki, nasihat ini terasa sangat asing sekaligus sangat penting. Hari ini banyak orang merasa sah melakukan apa saja selama targetnya adalah “lawan”.
Padahal keadilan sejati justru diuji ketika kita memiliki alasan untuk membenci.
Hadis ini lalu mengkritik fanatisme kelompok: wa lā yatahāmalu lil-ashdiqā’ tidak membela teman secara membabi buta.
Manusia sering tidak objektif terhadap orang yang dekat dengannya. Kesalahan teman dibenarkan. Keburukan kelompok sendiri ditutupi. Yang penting “orang kita” menang.
Bukankah ini wajah masyarakat hari ini?
Kita hidup dalam era kubu-kubuan. Orang dinilai bukan dari benar atau salah, tetapi dari “dia pihak mana”.
Imam Shadiq a.a seperti sedang mengingatkan bahwa iman menuntut keadilan bahkan terhadap orang yang kita cintai sendiri.
Dan akhirnya, hadis itu ditutup dengan gambaran yang sangat indah:
بَدَنُهُ مِنْهُ فِي تَعَبٍ وَالنَّاسُ مِنْهُ فِي رَاحَةٍ
“Dirinya bersusah payah, sementara orang lain merasa nyaman karenanya.”
Inilah inti akhlak seorang mukmin: ia tidak hidup untuk menjadi beban bagi orang lain. Kehadirannya membawa ketenangan, bukan keresahan.
Sebuah contoh sederhana: ketika seseorang terganggu oleh kebiasaan temannya saat tidur, ia memilih menahan sedikit ketidaknyamanan daripada membuat orang lain tersinggung atau terluka.
Mungkin di situlah ukuran kedewasaan spiritual yang sesungguhnya: kemampuan mengalahkan ego demi menjaga kenyamanan orang lain.
Pada akhirnya, hadis ini tidak sedang menggambarkan manusia sempurna. Ia sedang menunjukkan arah tentang seperti apa iman seharusnya membentuk karakter seseorang.
Sebab agama tanpa akhlak hanya akan menjadi identitas kosong. Dan dunia hari ini tampaknya tidak kekurangan orang yang terlihat religius, tetapi justru kekurangan manusia yang mampu tetap tenang saat guncangan datang, tetap adil saat membenci, tetap rendah hati saat berhasil, dan tetap lembut meski hidupnya sendiri tidak mudah.







