Saat Spiritualitas Bertemu Politik Dunia

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang telah lama hidup di benak banyak orang: agama seharusnya berbicara tentang surga, sedangkan politik mengurus dunia. Masjid dianggap tempat ibadah, sementara persoalan geopolitik, perang, ekonomi, dan hubungan internasional seolah bukan bagian dari mimbar keagamaan. Cara pandang seperti ini membuat agama tampak sunyi di hadapan berbagai persoalan besar yang menentukan nasib manusia.

Padahal, sejak awal Islam justru memperlihatkan wajah yang berbeda. Di dalam shalat Jumat, spiritualitas tidak pernah dipisahkan dari realitas sosial. Mimbar bukan hanya tempat mengingatkan manusia tentang akhirat, tetapi juga ruang untuk membantu umat memahami dunia yang sedang bergerak.

Karena itu, khutbah Jumat bukan sekadar rangkaian nasihat moral yang berulang setiap pekan. Ia adalah jembatan antara langit dan bumi: menghubungkan ketakwaan kepada Allah dengan kesadaran terhadap berbagai peristiwa yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Imam Ridha a.s pernah menjelaskan tugas seorang khatib Jumat. Beliau bersabda:

يُخْبِرُهُمْ بِمَا وَرَدَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْآفَاقِ مِنَ الْأَهْوَالِ الَّتِي لَهُمْ فِيهَا الْمَضَرَّةُ وَالْمَنْفَعَةِ

“Khatib hendaknya memberitahukan kepada mereka berbagai berita dan peristiwa penting dari berbagai penjuru yang membawa manfaat maupun mudarat bagi kehidupan dan masa depan mereka”

Pesan ini terasa sangat relevan pada zaman ketika informasi mengalir tanpa henti. Namun, banjir informasi tidak selalu melahirkan pemahaman. Justru sering kali masyarakat tenggelam dalam potongan berita, opini yang saling bertabrakan, atau propaganda yang sulit dibedakan dari fakta.

Di sinilah khutbah Jumat menemukan fungsinya. Seorang imam bukan sekadar menyampaikan kabar, melainkan membantu umat membaca makna di balik berbagai peristiwa. Ia menghubungkan fakta dengan nilai, lalu mengajak jamaah melihat sebuah persoalan melalui kacamata moral dan kemanusiaan.

Baca Juga  Arbain, Cinta yang Berjalan: Mengapa Jutaan Orang Rela Menempuh Jalan Panjang Menuju Karbala?

Dalam konteks yang lebih luas, dunia hari ini saling terhubung. Sebuah perang di satu kawasan dapat mengguncang harga pangan di negeri lain. Ketegangan politik antarnegara bisa memengaruhi ekonomi, energi, hingga stabilitas kehidupan masyarakat yang tinggal ribuan kilometer jauhnya. Persoalan seperti konflik bersenjata, perlombaan teknologi, krisis energi, perubahan peta kekuatan dunia, maupun perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah isu yang sepenuhnya jauh dari kehidupan umat.

Karena itu, khutbah Jumat tidak cukup hanya mengulang nasihat yang bersifat umum tanpa menyentuh realitas. Jamaah juga membutuhkan penjelasan yang jernih mengenai berbagai persoalan besar yang sedang berlangsung, terutama yang berdampak langsung atau tidak langsung terhadap kehidupan mereka. Tentu bukan dalam bentuk agitasi politik atau dukungan membabi buta kepada kelompok tertentu, melainkan penjelasan yang berlandaskan pengetahuan yang benar, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan pandangan yang adil.

Namun, Islam memberikan satu syarat penting. Pembicaraan mengenai urusan dunia tidak boleh melepaskan manusia dari orientasi spiritualnya. Karena itu, khutbah Jumat selalu diawali dengan seruan untuk bertakwa.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini menghadirkan keseimbangan yang sangat indah. Sebelum berbicara tentang dunia, manusia terlebih dahulu diingatkan agar menjaga hubungan dengan Allah. Setelah itu, barulah ia diminta menyampaikan perkataan yang benar. Artinya, politik dalam pandangan Islam tidak boleh dipisahkan dari kejujuran, tanggung jawab, dan ketaqwaan.

Di titik ini, kita dapat memahami bahwa politik yang dimaksud bukanlah perebutan kekuasaan semata. Politik adalah upaya mengelola kehidupan bersama, membaca arah zaman, dan mengambil keputusan yang membawa kemaslahatan. Ketika politik kehilangan moral, ia berubah menjadi sekadar permainan kepentingan. Sebaliknya, ketika spiritualitas menutup mata terhadap kenyataan sosial, agama berisiko kehilangan daya transformasinya.

Baca Juga  Ikhtiar dan Doa: Mengapa Perubahan Tidak Pernah Datang dengan Sendirinya

Karena itu, seorang khatib memikul amanah yang tidak ringan. Ia dituntut memiliki wawasan yang luas, memahami perkembangan dunia, sekaligus mampu menimbang setiap informasi secara jernih. Mimbar Jumat bukan tempat menyebarkan rumor, memperuncing kebencian, atau mengulang narasi yang belum terverifikasi. Mimbar adalah ruang pendidikan publik yang mengajarkan umat untuk berpikir kritis tanpa kehilangan akhlak.

Di tengah derasnya arus media sosial, tugas ini menjadi semakin penting. Banyak orang mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi sedikit yang memahami mengapa itu terjadi dan bagaimana seharusnya menyikapinya. Informasi telah menjadi komoditas, sedangkan kebijaksanaan menjadi sesuatu yang semakin langka.

Karena itulah khutbah Jumat idealnya tidak berhenti pada penyampaian berita, melainkan membangun kesadaran. Ia mengajak masyarakat agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh emosi sesaat, tidak mudah termakan propaganda, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Spiritualitas yang sehat melahirkan kejernihan berpikir, sedangkan kejernihan berpikir melahirkan sikap politik yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, inilah salah satu keunikan Islam yang sering luput dipahami. Islam tidak mengurung agama di dalam ruang ibadah, tetapi juga tidak membiarkan politik berjalan tanpa kompas moral. Keduanya dipertemukan dalam satu mimbar, pada satu hari setiap pekan, di hadapan masyarakat.

Shalat Jumat mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya menjadi hamba yang tekun beribadah. Ia juga harus menjadi warga yang sadar terhadap keadaan zamannya. Sebab, ketakwaan yang sejati bukan hanya tampak ketika seseorang menengadah ke langit, melainkan juga ketika ia mampu membaca dunia dengan jernih, berkata benar, dan mengambil sikap yang berpihak pada kemaslahatan bersama.

Bagikan:
Terkait
Komentar