KHAMENEI.ID– Ada satu cara pandang yang diam-diam membentuk kehidupan manusia modern: keyakinan bahwa hidup dimulai saat lahir, berakhir saat mati, lalu selesai. Dalam pandangan ini, manusia hanyalah makhluk biologis yang diberi waktu singkat untuk menikmati dunia sebelum akhirnya lenyap. Tak heran jika kebebasan kemudian diukur dari seberapa luas seseorang bisa memuaskan keinginan, melampiaskan hasrat, atau mengejar ambisi tanpa batas.
Namun, Islam menawarkan definisi kebebasan yang jauh lebih luas bahkan lebih radikal. Kebebasan bukan pertama-tama soal lepas dari aturan sosial atau politik, melainkan terbebas dari penjara cara pandang yang membatasi manusia hanya pada dunia materi. Inilah fondasi penting dari konsep kebebasan dalam Islam: manusia tidak diciptakan untuk berakhir di liang kubur, tetapi untuk memasuki kehidupan yang lebih hakiki.
Pandangan materialistis melihat kematian sebagai garis akhir. Segala pencapaian, kegagalan, cinta, kekuasaan, bahkan sejarah manusia, berhenti di sana. Dari cara berpikir seperti ini lahirlah perlombaan tanpa akhir untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kenikmatan selama masih hidup. Kebebasan lalu dimaknai sebagai hak untuk melakukan apa saja selama mampu melakukannya.
Tetapi benarkah itu kebebasan?
Jika seseorang tidak mampu mengendalikan syahwatnya, mudah dikuasai amarah, atau tergoda menzalimi orang lain demi kepentingannya sendiri, apakah ia benar-benar bebas? Atau justru ia sedang menjadi tawanan dorongan-dorongan paling dasar dalam dirinya?
Di sinilah Islam membalik cara kita memandang kebebasan. Manusia tidak dibelenggu oleh aturan agama, melainkan dibebaskan dari perbudakan hawa nafsu. Kebebasan bukan izin untuk mengikuti setiap keinginan, tetapi kemampuan untuk tidak diperbudak oleh keinginan itu sendiri.
Pandangan ini lahir dari keyakinan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti di dunia. Sebuah sabda yang dinukil dalam literatur klasik Islam menyatakan:
إِنَّمَا خُلِقْتُمْ لِلْبَقَاءِ لَا لِلْفَنَاءِ
“Sesungguhnya kalian diciptakan untuk kekal, bukan untuk binasa”
Kalimat singkat ini mengubah seluruh orientasi hidup. Jika manusia memang diciptakan untuk keberlangsungan, maka kematian bukanlah kehancuran, melainkan perpindahan. Dunia hanyalah satu fase dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Kesadaran seperti ini melahirkan cara hidup yang berbeda. Orang tidak lagi menilai segala sesuatu hanya dari manfaat sesaat. Kekayaan tidak menjadi tujuan akhir. Kekuasaan tidak dipandang sebagai puncak kehidupan. Bahkan penderitaan pun memperoleh makna baru karena tidak berhenti pada dunia yang fana.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Janganlah engkau menyembah tuhan lain selain Allah. Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia. Milik-Nyalah segala kekuasaan, dan kepada-Nyalah kamu semua dikembalikan” (QS. Al-Qashash: 88)
Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang kefanaan alam semesta. Ia mengingatkan bahwa semua yang begitu kita banggakan jabatan, popularitas, harta, bahkan tubuh kita sendiri pada akhirnya akan sirna. Yang tetap hanyalah Allah, dan kepada-Nya seluruh perjalanan manusia bermuara.
Kesadaran akan kefanaan justru menjadi pintu menuju kebebasan. Seseorang yang memahami bahwa dunia bukan tujuan akhir tidak mudah diperbudak oleh dunia. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaannya. Ia memiliki harta, tetapi tidak diperbudak hartanya. Ia menikmati kehidupan, tetapi tidak kehilangan arah ketika kenikmatan itu berakhir.
Pandangan semacam ini pernah diungkapkan dengan indah oleh Jalaluddin Rumi. Ia menggambarkan kematian bukan sebagai akhir, melainkan lompatan menuju kehidupan yang lebih luas. Dalam puisinya, ia menulis bahwa saat kematian datang, itulah saat seseorang keluar dari aliran sempit menuju samudra yang tak bertepi, seraya mengingat firman Allah, “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya”
Puisi itu bukan sekadar renungan mistik. Ia mengajak manusia melihat kematian dari sudut yang berbeda. Selama ini kita menganggap kematian sebagai kehilangan, padahal dalam perspektif iman, ia adalah awal dari babak utama kehidupan.
Di tengah peradaban modern yang begitu memuja kebebasan individu, gagasan ini terasa semakin relevan. Banyak orang merasa bebas karena dapat memilih apa saja, mengatakan apa saja, atau menikmati apa saja. Namun pada saat yang sama, mereka justru semakin terikat oleh kecemasan, konsumsi tanpa henti, ketakutan kehilangan status, dan obsesi terhadap pengakuan.
Kebebasan yang hanya berputar di sekitar materi ternyata tidak selalu melahirkan manusia yang merdeka. Sebaliknya, ia sering menghasilkan bentuk-bentuk perbudakan baru yang lebih halus: kecanduan, keserakahan, dan ketergantungan pada penilaian orang lain.
Islam menawarkan jalan yang berbeda. Kebebasan sejati lahir ketika manusia menyadari identitasnya sebagai makhluk yang diciptakan untuk kehidupan yang abadi. Dari kesadaran itulah seseorang mampu melepaskan dirinya dari belenggu yang selama ini tampak seperti kenikmatan.
Pada akhirnya, kebebasan bukanlah tentang memiliki semakin banyak pilihan, melainkan tentang menemukan tujuan yang membuat setiap pilihan memiliki makna. Ketika manusia memahami bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian, dunia tidak lagi menjadi penjara yang membatasi harapannya. Ia berubah menjadi ladang perjalanan menuju kehidupan yang lebih besar.
Mungkin di situlah makna terdalam dari kebebasan dalam Islam: bukan sekadar bebas melakukan apa yang kita inginkan, tetapi bebas dari segala sesuatu yang menghalangi kita untuk kembali kepada Yang Mahakekal.







