KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah masyarakat tidak sadar bahwa mereka sedang kehilangan manusia terbaik yang pernah mereka miliki. Mereka baru menyadarinya setelah semuanya terlambat. Ketika keadilan telah digantikan ketakutan, ketika suara hati dikalahkan oleh kekuasaan, dan ketika penyesalan tak lagi mampu mengubah sejarah.
Begitulah salah satu pelajaran paling getir yang tersimpan di balik hari-hari terakhir kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Menjelang syahidnya, beliau bukan hanya menghadapi luka akibat pedang beracun yang menghantam kepalanya di Masjid Kufah. Jauh sebelum itu, beliau telah memikul luka yang lebih dalam: kekecewaan terhadap umat yang begitu sulit menerima keadilan.
Sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Hasan a.s mengisahkan percakapan yang berlangsung beberapa hari sebelum tragedi itu terjadi. Saat mengenang Perang Badar bersama ayahnya, Imam Ali a.s menceritakan sebuah mimpi yang datang setelah beliau menyelesaikan ibadah pada suatu pagi.
Beliau berkata bahwa matanya sempat terpejam sejenak.
مَلَكَتْنِي عَيْنِي وَأَنَا جَالِسٌ فَسَنَحَ لِي رَسُولُ اللَّهِ
“Mataku tertidur sejenak ketika aku sedang duduk, lalu Rasulullah saw. hadir di hadapanku”
Dalam mimpi itu, Imam Ali a.s mengadu kepada Rasulullah saw.
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا ذَا لَقِيتُ مِنْ أُمَّتِكَ مِنَ الْأَوَدِ وَاللَّدَدِ
“Wahai Rasulullah, begitu banyak penyimpangan dan permusuhan yang kuterima dari umatmu”
Keluhan itu bukanlah keluhan seorang pemimpin yang lelah karena kekuasaan. Ia adalah jeritan seorang manusia yang selama hidupnya hanya menginginkan tegaknya kebenaran, tetapi justru berkali-kali berhadapan dengan kepentingan, fanatisme, dan ambisi politik.
Jawaban Rasulullah saw sangat singkat.
ادْعُ عَلَيْهِمْ
“Berdoalah terhadap mereka”
Di titik inilah sejarah berubah arah.
Ali a.s tidak meminta kekayaan. Ia tidak memohon kemenangan atas musuh-musuh pribadinya. Bahkan beliau tidak meminta pembalasan yang spektakuler. Doa yang keluar dari lisannya justru sangat sederhana, tetapi memiliki dampak yang menggetarkan.
أَبْدَلَنِي اللَّهُ بِهِمْ خَيْرًا مِنْهُمْ، وَأَبْدَلَهُمْ بِي شَرًّا لَهُمْ مِنِّي
“Ya Allah, gantikan mereka bagiku dengan orang-orang yang lebih baik daripada mereka, dan gantikan aku bagi mereka dengan seseorang yang lebih buruk bagi mereka”
Doa itu bukan lahir dari kemarahan sesaat. Ia lahir setelah bertahun-tahun menyaksikan masyarakat yang lebih memilih kenyamanan daripada keadilan. Berkali-kali Imam Ali a.s mengajak mereka berdiri melawan kezaliman, tetapi banyak yang memilih diam. Berkali-kali beliau mengingatkan agar tidak menjual hati kepada dunia, tetapi kepentingan pribadi selalu lebih menggoda.
Tak lama kemudian, doa itu dikabulkan.
Pada pagi 19 Ramadan, pedang Ibnu Muljam menghantam kepala Imam Ali a.s ketika beliau sedang menunaikan salat Subuh. Dunia Islam kehilangan salah satu manusia paling agung yang pernah dibesarkan oleh Rasulullah saw. Tangisan memenuhi Kufah, dan sebuah ungkapan yang kemudian menjadi simbol duka sejarah menggema di berbagai penjuru.
تَهَدَّمَتْ وَاللَّهِ أَرْكَانُ الْهُدَى
“Demi Allah, tiang-tiang petunjuk telah runtuh”
Kalimat itu bukan sekadar ratapan atas wafatnya seorang tokoh. Ia menggambarkan runtuhnya sebuah zaman ketika keadilan masih memiliki penjaga.
Namun jika ditarik lebih jauh, yang paling tragis bukanlah syahidnya Imam Ali a.s. Yang lebih menyedihkan adalah apa yang terjadi setelah beliau tiada.
Doa itu mulai menunjukkan maknanya.
Masyarakat Kufah yang dahulu sering mengeluhkan ketegasan Imam Ali a.s akhirnya dipimpin oleh orang-orang yang jauh lebih keras. Kekuasaan berganti tangan kepada para gubernur Dinasti Umayyah yang memerintah dengan intimidasi. Nama Hajjaj bin Yusuf menjadi simbol pemerintahan yang penuh teror. Setelahnya datang penguasa-penguasa lain seperti Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi yang dikenal karena kekejamannya.
Ironisnya, orang-orang yang dahulu merasa keberatan dipimpin oleh Imam Ali a.s justru harus hidup di bawah rezim yang tidak lagi mengenal kasih sayang maupun keadilan.
Sejarah seolah sedang memperlihatkan satu hukum yang terus berulang: ketika masyarakat menolak pemimpin yang adil, bukan berarti mereka akan hidup tanpa pemimpin. Yang datang sering kali justru pemimpin yang jauh lebih zalim.
Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini tidak berhenti pada Kufah abad pertama Hijriah. Ia berbicara kepada setiap generasi.
Sering kali manusia baru menghargai kejujuran setelah kebohongan menjadi kebiasaan. Kita baru merindukan pemimpin yang bersih setelah korupsi merajalela. Kita baru memahami arti keadilan setelah penindasan menjadi kenyataan sehari-hari.
Yang hilang bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga kesempatan.
Imam Ali a.s tidak meminta umat mencintainya secara berlebihan. Yang beliau perjuangkan hanyalah agar masyarakat berdiri bersama kebenaran. Namun ketika kebenaran dianggap terlalu berat untuk diikuti, sejarah bergerak menuju babak yang lebih pahit.
Barangkali itulah pesan terdalam dari doa Imam Ali a.s. Doa itu bukan kutukan yang lahir karena dendam, melainkan cermin tentang konsekuensi pilihan sebuah masyarakat. Ketika manusia menolak cahaya, mereka tidak sedang menciptakan ruang kosong. Mereka sedang membuka pintu bagi datangnya kegelapan.
Karena itu, mengenang syahadah Imam Ali a.s bukan semata mengenang tragedi masa lalu. Ia adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita mampu mengenali pemimpin yang jujur ketika ia masih berada di tengah kita, atau kita baru akan menyadari nilainya setelah sejarah kembali berkata, “sudah terlambat.”







