Jahiliyah Modern: Ketika Ilmu Kehilangan Nurani dan Kekuasaan Mengalahkan Kemanusiaan

KHAMENEI.ID– Peradaban modern sering dipuji sebagai puncak pencapaian manusia. Teknologi melesat, ilmu pengetahuan berkembang tanpa jeda, dan batas-batas geografis seolah lenyap oleh derasnya arus informasi. Namun di balik kemajuan itu, sebuah pertanyaan mendasar tetap menggantung: benarkah manusia hari ini semakin beradab?

Hari peringatan Isra Mikraj atau Maulid Nabi saw sering mengajak umat Islam mengenang perjalanan sejarah. Namun peringatan Isra Mi’raj maupun Maulid sesungguhnya bukan sekadar nostalgia. Demikian pula peringatan Isra Mi’raj? Tidak. Yang lebih relevan adalah Mab’ats Nabi Muhammad saw, momentum ketika risalah kenabian dimulai. Peristiwa itu bukan sekadar tonggak sejarah agama, melainkan titik balik peradaban. Sebab, menurut Al-Qur’an, Nabi saw diutus untuk memberi peringatan kepada seluruh alam:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam” (QS. Al-Furqan: 1)

Pesan itu menunjukkan bahwa risalah Islam sejak awal tidak dibatasi oleh ruang geografis ataupun kelompok tertentu. Lawannya pun bukan hanya masyarakat Arab abad ketujuh, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: jahiliyah.

Selama ini jahiliyah sering dipahami sekadar sebagai masa ketika manusia belum mengenal ilmu. Padahal maknanya jauh lebih luas. Jahiliyah adalah keadaan ketika hawa nafsu dan amarah menguasai kehidupan, sementara akal sehat, moralitas, dan keadilan tersingkir. Di dalam masyarakat seperti itu, yang kuat menentukan kebenaran, sementara yang lemah hanya menjadi korban.

Sejarah mencatat bagaimana masyarakat pra-Islam tenggelam dalam dua kutub yang sama-sama merusak. Di satu sisi, syahwat dilepaskan tanpa batas. Di sisi lain, kekerasan menjadi bahasa yang lumrah. Bahkan Al-Qur’an mengecam praktik mengubur anak-anak hidup-hidup:

Baca Juga  Islam Rahmatan Bukan Berarti Lunak kepada Musuh

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Sungguh rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan” (QS. Al-An’am: 140)

Ayat itu bukan sekadar mengecam pembunuhan fisik. Ia menggambarkan sebuah masyarakat yang kehilangan belas kasih hingga darah dagingnya sendiri tak lagi memiliki nilai. Ketika nafsu dan kemarahan menjadi penguasa, manusia perlahan kehilangan kemanusiaannya.

Namun jika ditarik lebih jauh, jahiliyah ternyata bukan sekadar bab dalam buku sejarah. Ia dapat muncul kapan saja, bahkan di tengah masyarakat yang mengaku paling maju.

Hari ini dunia menyaksikan paradoks yang mencolok. Ilmu pengetahuan berkembang luar biasa, tetapi peperangan semakin canggih. Teknologi informasi mempermudah komunikasi, namun juga menjadi mesin propaganda yang membentuk persepsi publik. Kecerdasan manusia menghasilkan senjata yang semakin presisi, sementara korban sipil terus berjatuhan.

Di titik inilah lahir apa yang dapat disebut sebagai “jahiliyah modern”. Bedanya dengan jahiliyah masa lampau hanya satu: kini ia dipersenjatai oleh ilmu pengetahuan.

Sains yang semestinya membebaskan manusia justru dipakai untuk memperluas dominasi. Data menjadi alat pengawasan, media menjadi instrumen pembentukan opini, sementara teknologi militer menjadikan penghancuran berlangsung lebih cepat dan lebih efisien. Kemajuan tidak lagi otomatis berarti kemanusiaan.

Dalam konteks yang lebih luas, keadaan ini juga tampak pada politik internasional. Negara-negara besar berbicara lantang tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian. Namun pada saat yang sama, mereka kerap terlibat dalam konflik yang menghancurkan kehidupan masyarakat sipil, mendukung rezim tertentu, atau membiarkan penderitaan berkepanjangan selama kepentingan strategis mereka tetap terjaga.

Retorika moral sering kali menjadi bungkus bagi kepentingan politik. Kebenaran dibungkus oleh narasi yang dipoles sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dari kebohongan. Di era informasi, propaganda bahkan dapat bergerak lebih cepat daripada fakta.

Baca Juga  Qasem Soleimani: Ketika Kejujuran dan Keikhlasan Menjadi Sebuah Mazhab

Gagasan ini kemudian menyentuh satu persoalan penting: bagaimana seharusnya umat manusia merespons keadaan seperti itu?

Jawabannya bukan dengan membangun permusuhan baru atau memperluas kebencian, melainkan dengan menghidupkan kembali ruh risalah kenabian. Inti ajaran Islam bukanlah keberpihakan berdasarkan identitas, melainkan keberpihakan kepada keadilan.

Warisan yang dinisbahkan kepada Imam Ali a.s memberikan prinsip yang sangat tegas:

كُنْ لِلظَّالِمِ خَصْمًا وَلِلْمَظْلُومِ عَوْنًا

“Jadilah musuh bagi orang yang zalim dan penolong bagi orang yang tertindas”

Kalimat singkat ini membalik tradisi jahiliyah yang membela kelompok sendiri, benar ataupun salah. Dalam pandangan Islam, ukuran keberpihakan bukan suku, bangsa, mazhab, ataupun kepentingan politik. Ukurannya hanyalah keadilan.

Karena itu, membela kaum tertindas bukan sekadar sikap politik, melainkan panggilan moral. Sebaliknya, menentang kezaliman bukan berarti memusuhi suatu bangsa, melainkan menolak setiap tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Di tengah dunia yang dipenuhi polarisasi, prinsip ini terasa semakin penting. Banyak konflik dipelihara dengan menciptakan rasa takut antarkelompok. Bangsa dipertentangkan dengan bangsa lain. Mazhab diposisikan sebagai musuh mazhab yang lain. Perbedaan identitas dipelihara agar perhatian manusia teralihkan dari akar persoalan yang sesungguhnya: kerakusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Di sinilah relevansi peringatan Mab’ats Nabi. Kebangkitan yang dibawa Rasulullah saw bukan sekadar perubahan ritual keagamaan, tetapi perubahan cara memandang manusia. Islam datang untuk menaklukkan ego, bukan menaklukkan sesama. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tanpa moral hanya akan melahirkan bentuk baru dari kebiadaban.

Tentu jalan menuju perubahan tidak pernah mudah. Kebatilan sering kali tampak dominan. Kekuatan yang zalim kerap terlihat lebih besar dan lebih terorganisasi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa dominasi seperti itu tidak pernah abadi. Sebesar apa pun kekuatan yang dibangun di atas ketidakadilan, ia menyimpan benih keruntuhannya sendiri.

Baca Juga  Cahaya Al-Qur'an yang Mengubah Peradaban: Mengapa Umat Islam Harus Kembali kepada Kitabullah

Karena itulah, tantangan terbesar umat manusia hari ini bukan sekadar memperbanyak pengetahuan, melainkan menumbuhkan kebijaksanaan. Bukan sekadar menciptakan teknologi yang lebih hebat, tetapi memastikan teknologi itu tetap berada di bawah kendali hati nurani.

Mempelajari mab’ats: hari diutusnya Nabi saw mengingatkan bahwa peradaban tidak diukur dari tingginya gedung, canggihnya mesin, atau besarnya kekuatan militer. Peradaban sejati lahir ketika ilmu berjalan bersama akhlak, kekuasaan tunduk kepada keadilan, dan manusia mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Selama pertarungan itu masih berlangsung, pesan kenabian akan tetap hidup dan jahiliyah, dalam bentuk apa pun, akan selalu menemukan lawannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar