KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan manusia dengan dunia. Hampir semua orang sadar bahwa hidup ini sementara. Kita menyaksikan kematian, kehilangan, dan perubahan setiap hari. Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta membuat kita menjaga jarak. Justru sebaliknya. Semakin lama hidup, semakin banyak yang merasa dunia adalah tempat menetap, bukan sekadar tempat singgah.
Barangkali karena itulah Imam Ali bin Abi Thalib a.s berbicara tentang dunia dengan nada yang berbeda dari tema-tema lain. Dalam Nahjul Balaghah, ketika beliau menggambarkan hakikat dunia, bahasa yang dipilihnya begitu puitis sekaligus mengguncang. Seolah-olah setiap kalimat bukan sekadar nasihat, melainkan potret tentang bagaimana manusia perlahan-lahan tertipu oleh sesuatu yang sebenarnya rapuh.
Beliau berkata:
فَإِنَّ الدُّنْيَا رَنِقٌ مَشْرَبُهَا، رَدِغٌ مَشْرَعُهَا، يُونِقُ مَنْظَرُهَا، وَيُوبِقُ مَخْبَرُهَا، غُرُورٌ حَائِلٌ، وَضَوْءٌ آفِلٌ، وَظِلٌّ زَائِلٌ، وَسِنَادٌ مَائِلٌ
“Sesungguhnya dunia memiliki sumber air yang keruh, jalan masuk yang berlumpur. Penampilannya memikat, tetapi kenyataannya membinasakan. Ia adalah tipuan yang terus berubah, cahaya yang segera padam, bayangan yang akan lenyap, dan sandaran yang mudah roboh”
Kalimat-kalimat itu bukan hanya indah untuk dibaca. Ia menghadirkan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Dunia tampak memesona dari kejauhan, tetapi ketika didekati, tidak selalu memberikan apa yang dijanjikan. Ia menawarkan rasa aman, tetapi sewaktu-waktu dapat merenggutnya. Ia menjanjikan kepastian, padahal seluruh fondasinya dibangun di atas sesuatu yang terus berubah.
Namun, yang paling tajam dari peringatan Imam Ali a.s justru datang setelah itu. Beliau menggambarkan sebuah proses yang berlangsung perlahan, hampir tanpa disadari. Dunia, katanya, terus memamerkan keindahannya hingga akhirnya:
حَتَّى إِذَا آنَسَ نَافِرَهَا، وَاطْمَأَنَّ نَاكِرُهَا
“Hingga ketika orang yang semula menjauhinya menjadi akrab dengannya, dan orang yang dahulu menolaknya justru merasa tenteram di sisinya”
Di titik inilah persoalannya bukan lagi dunia, melainkan manusia. Yang berubah bukan wajah dunia, tetapi hati kita.
Ada masa ketika seseorang begitu idealis. Ia berani meninggalkan kenyamanan demi prinsip. Kekayaan bukan tujuan hidupnya. Jabatan bukan impiannya. Popularitas bukan ukuran keberhasilannya. Tetapi waktu sering kali mengikis keteguhan itu sedikit demi sedikit. Yang dahulu dianggap beban berubah menjadi kebutuhan. Yang semula dihindari perlahan menjadi kebanggaan.
Perubahan itu jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia datang seperti air yang mengikis batu: pelan, nyaris tak terdengar, tetapi pasti. Sampai suatu hari seseorang tidak lagi merasa aneh hidup dalam kemewahan yang dahulu ia kritik, atau menikmati kekuasaan yang dulu ia curigai.
Imam Ali a.s tidak sedang mengecam harta atau kehidupan dunia itu sendiri. Yang beliau soroti adalah saat hati mulai bergantung kepada dunia. Ketika dunia tidak lagi menjadi alat untuk berbuat baik, melainkan berubah menjadi tujuan akhir.
Sejarah Islam menyimpan contoh yang sangat menyentuh tentang perubahan itu. Pada masa Rasulullah saw, banyak sahabat meninggalkan rumah, kebun, perdagangan, bahkan keluarga demi mempertahankan keimanan. Mereka rela berhijrah dari Makkah ke Madinah, hidup dalam kesederhanaan, dan menanggung lapar demi cita-cita yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Namun beberapa dekade setelah Rasulullah saw wafat, keadaan berubah. Sebagian di antara generasi yang pernah hidup begitu sederhana akhirnya meninggalkan kekayaan dalam jumlah yang luar biasa. Riwayat menyebutkan bahwa emas warisan mereka harus dipecahkan dengan kapak sebelum dibagikan kepada ahli waris. Gambaran ini bukan sekadar kisah tentang bertambahnya harta, melainkan tentang betapa mudah hati manusia berubah arah.
Inilah yang dimaksud Imam Ali a.s ketika orang yang dahulu menjauh dari dunia akhirnya merasa nyaman berada di dalam pelukannya.
Dalam konteks yang lebih luas, peringatan itu terasa sangat relevan hari ini. Dunia modern tidak lagi menggoda melalui kebun kurma atau kafilah dagang. Ia hadir melalui layar ponsel, angka-angka dalam rekening, pengakuan di media sosial, jabatan yang diperebutkan, dan gaya hidup yang terus mengajarkan bahwa kebahagiaan selalu berada pada pencapaian berikutnya.
Ironisnya, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangannya. Ketenteraman yang dijanjikan dunia ternyata sering berubah menjadi kecemasan yang tak berkesudahan.
Karena itu, kritik Imam Ali a.s bukanlah ajakan membenci dunia atau meninggalkan kehidupan. Dunia tetap perlu diolah, pekerjaan tetap harus dijalankan, keluarga tetap harus dinafkahi, dan peradaban tetap harus dibangun. Yang harus dijaga adalah posisi dunia di dalam hati. Jangan sampai ia berpindah dari tangan menuju jiwa.
Barangkali inilah mengapa bahasa Imam Ali a.s begitu kuat. Beliau tidak hanya menjelaskan bahwa dunia akan berlalu. Beliau memperlihatkan bagaimana dunia bekerja: mula-mula memikat, kemudian membuat lupa, lalu menghadirkan rasa aman yang semu. Setelah manusia merasa benar-benar nyaman, dunia melepaskan sandarannya. Kematian datang tanpa kompromi, sementara semua yang selama ini dikumpulkan tetap tinggal di belakang.
Pada akhirnya, dunia bukanlah musuh manusia. Musuh yang sebenarnya adalah saat kita kehilangan kemampuan untuk melihatnya sebagaimana adanya: indah, tetapi sementara; berguna, tetapi bukan tujuan. Selama kesadaran itu tetap hidup, dunia akan menjadi jalan menuju kebajikan. Namun ketika pesonanya telah menguasai hati, saat itulah manusia mulai lupa bahwa setiap cahaya dunia, seperti kata Imam Ali a.s, pada akhirnya akan meredup.







