Arba’in dan Kekuatan Persatuan Umat: Ketika Jutaan Langkah Menjadi Syiar Islam

KHAMENEI.ID – Setiap tahun, dunia menyaksikan sebuah fenomena yang sulit ditemukan tandingannya dalam sejarah manusia. Jutaan orang berjalan menuju satu tujuan yang sama: Karbala. Mereka berasal dari berbagai negara, bahasa, budaya, bahkan mazhab. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan politik ataupun ekonomi, melainkan oleh cinta kepada Imam Husain as dan keyakinan kepada Allah swt.

Dalam pandangan Sayyid Ali Khamenei qs, fenomena Arba’in bukan sekadar ibadah ziarah. Ia adalah salah satu syiar terbesar Islam yang memperlihatkan kekuatan iman ketika hadir dalam ruang publik. Arba’in menjadi bukti bahwa agama bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga mampu melahirkan peradaban yang menyatukan jutaan manusia dalam satu gerakan spiritual.

Pada penyelenggaraan Arba’in tahun itu, jutaan peziarah memenuhi jalan menuju Karbala. Peristiwa tersebut tidak hanya menarik perhatian umat Islam, tetapi juga diamati oleh para pengamat dunia yang menilai Arba’in sebagai pertemuan manusia terbesar di muka bumi. Bukan karena kekuatan politik yang mengorganisasikannya, melainkan karena daya tarik keyakinan yang menggerakkan hati manusia.

Bagi Imam Khamenei, setiap langkah yang ditempuh para peziarah merupakan amal kebajikan yang agung. Ia mengaitkan perjalanan itu dengan firman Allah swt:

“Janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Arba’in dipandang sebagai bagian dari syiar Allah, yaitu simbol-simbol yang menghidupkan agama dalam kehidupan umat. Ketika jutaan orang berjalan bersama demi mengenang pengorbanan Imam Husain as, mereka sedang menjaga salah satu syiar terbesar Islam.

Khamenei bahkan mengungkapkan kerinduannya kepada perjalanan tersebut dengan kalimat yang akrab di telinga para pecinta Ahlul Bait:

“Ya laitana kunna ma’akum fa nafuuza fauzan ‘azhima.”
“Seandainya kami bersama kalian, niscaya kami akan memperoleh kemenangan yang agung.”

Baca Juga  Diam di Hadapan Kezaliman: Mengapa Imam Husain Mengajarkan bahwa Netralitas Bisa Menjadi Dosa

Ungkapan itu bukan sekadar ekspresi emosional. Ia menggambarkan betapa Arba’in dipandang sebagai kesempatan istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah swt melalui kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad.

Namun, kekuatan Arba’in menurut Imam Khamenei tidak hanya terletak pada besarnya jumlah peserta. Yang lebih penting adalah karakter perjalanan itu sendiri.

Arba’in mempertemukan dua unsur yang sering dipisahkan: akal dan cinta.

Dalam tradisi Ahlul Bait, iman tidak dibangun hanya dengan logika, tetapi juga dengan kasih sayang dan kecintaan. Sebaliknya, cinta pun tidak dibiarkan berjalan tanpa arah, melainkan dipandu oleh keyakinan dan pemahaman yang benar.

Karena itu, perjalanan menuju Karbala bukanlah luapan emosi sesaat. Ia merupakan perpaduan antara keyakinan yang kokoh dan cinta yang mendalam kepada nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain.

Di sinilah, menurut Imam Khamenei, letak salah satu kekayaan besar mazhab Ahlul Bait. Kehadiran para Imam memberikan teladan yang bukan hanya dihormati, tetapi juga dicintai. Hubungan spiritual antara umat dan para Imam diwujudkan melalui ziarah, salam, doa, serta berbagai teks ziarah yang sarat dengan nilai tauhid, akhlak, dan perjuangan.

Ziarah bukan sekadar mengunjungi makam. Ia adalah dialog batin yang menghubungkan seorang mukmin dengan nilai-nilai yang diwariskan para Imam.

Arba’in juga memperlihatkan wajah Islam yang penuh keramahan.

Syahid Ali Khamenei qs secara khusus menyampaikan penghargaan kepada pemerintah, rakyat, serta berbagai kabilah Irak yang telah melayani jutaan tamu dengan kemurahan hati. Di sepanjang rute perjalanan, rumah-rumah dibuka, makanan dibagikan, tempat istirahat disediakan, dan pelayanan diberikan tanpa memandang asal-usul para peziarah.

Budaya melayani ini menjadi salah satu keajaiban Arba’in. Di tengah dunia yang sering diwarnai persaingan dan transaksi, Karbala justru menghadirkan budaya memberi tanpa pamrih.

Baca Juga  Menzalimi Pekerja: Ketika Upah yang Tertahan Menghapus Amal Kebaikan

Lebih jauh lagi, Imam Khamenei melihat Arba’in sebagai pelajaran besar tentang persatuan umat Islam.

Ia mengingatkan bahwa peserta Arba’in tidak hanya berasal dari kalangan Syiah. Banyak Muslim Sunni turut hadir dan berjalan bersama dalam suasana persaudaraan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada nilai-nilai Islam mampu menjadi titik temu yang melampaui berbagai perbedaan.

Karena itu, Arba’in bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga gambaran tentang seperti apa dunia Islam seharusnya dibangun.

Jika jutaan orang dapat berjalan berdampingan menuju Karbala, mengapa bangsa-bangsa Muslim tidak dapat berjalan bersama dalam menghadapi tantangan zaman?

Menurut Imam Khamenei, apabila negara-negara Islam, baik Sunni maupun Syiah, membersihkan hati dari prasangka, menghindari penghinaan terhadap sesama, dan membangun hubungan berdasarkan saling menghormati, maka dunia akan menyaksikan lahirnya kekuatan baru yang bermartabat.

Musuh-musuh Islam, menurutnya, pernah berusaha menghalangi jalan menuju Karbala. Namun kenyataannya, jalan itu justru berubah menjadi lautan manusia yang semakin besar setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa keyakinan tidak mudah dihentikan oleh tekanan atau hambatan.

Arba’in mengajarkan bahwa persatuan bukan sekadar slogan. Persatuan lahir ketika manusia memiliki tujuan yang sama, saling menghormati, dan rela berkorban demi nilai yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, jutaan langkah menuju Karbala bukan hanya perjalanan menuju sebuah kota suci. Ia adalah perjalanan menuju persaudaraan, solidaritas, dan persatuan umat. Setiap langkah yang diayunkan mengirimkan pesan kepada dunia bahwa Islam memiliki kekuatan untuk menyatukan manusia tanpa paksaan.

Dan mungkin di situlah makna terdalam Arba’in: ketika cinta kepada Imam Husain as berubah menjadi jalan menuju persatuan umat Islam dan kemuliaan agama di hadapan dunia.

Bagikan:
Terkait
Komentar