KHAMENEI.ID– Ada satu anggapan yang kerap mengendap dalam benak banyak orang: agama hanya berbicara tentang ibadah, sementara urusan ekonomi adalah wilayah pasar, pemerintah, dan angka-angka statistik. Padahal, jika menelusuri doa-doa para imam Ahlul Bait, kita menemukan kenyataan yang berbeda. Bahkan dalam munajat yang paling personal sekalipun, persoalan ekonomi hadir sebagai kegelisahan spiritual.
Imam Sajjad a.s mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan sekadar urusan dunia. Ia adalah bagian dari kesehatan jiwa, keadilan sosial, dan bahkan keselamatan moral manusia. Karena itu, dalam salah satu doanya yang masyhur di Shahifah Sajjadiyah, beliau memohon perlindungan kepada Allah:
وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ تَنَاوُلِ الْإِسْرَافِ، وَمِنْ فِقْدَانِ الْكَفَافِ
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perilaku berlebih-lebihan (israf) dan dari kehilangan kecukupan dalam penghidupan”
Doa ini tampak singkat, tetapi menyimpan pandangan yang amat dalam. Imam Sajjad a.s tidak hanya meminta dijauhkan dari kemiskinan, melainkan juga dari pemborosan. Dua hal yang tampak berlawanan itu justru ditempatkan berdampingan sebagai ancaman yang sama seriusnya.
Di titik ini, kita melihat bahwa Islam tidak mengagungkan kemiskinan sebagai simbol kesalehan, tetapi juga tidak memuji kekayaan yang kehilangan kendali. Yang dikehendaki adalah kafaf—kehidupan yang cukup, layak, dan bermartabat. Sebuah keadaan ketika kebutuhan terpenuhi tanpa harus tenggelam dalam kerakusan.
Dalam konteks yang lebih luas, doa tersebut berbicara tentang keseimbangan. Israf bukan sekadar menghamburkan uang. Ia adalah cara hidup yang melampaui batas: membeli tanpa kebutuhan, mengonsumsi tanpa kendali, mengejar kemewahan demi pengakuan sosial. Di sisi lain, hilangnya kecukupan bukan sekadar tidak memiliki harta, melainkan keadaan ketika seseorang kehilangan rasa aman karena kebutuhan dasar hidupnya tidak terpenuhi.
Keduanya sama-sama melahirkan kegelisahan. Pemborosan melahirkan kesombongan dan ketergantungan pada kenikmatan. Kemiskinan yang berkepanjangan dapat memunculkan keputusasaan, ketidakberdayaan, bahkan keretakan sosial. Imam Sajjad a.s mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat harus terbebas dari kedua ekstrem itu.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia modern menjadikan ekonomi sebagai arena pertarungan yang menentukan arah kehidupan bangsa. Krisis ekonomi tidak hanya mengguncang pasar atau nilai mata uang. Ia dapat mengikis optimisme masyarakat, melemahkan solidaritas, dan membuka ruang bagi konflik sosial.
Karena itulah para pemimpin yang berpandangan jauh selalu menempatkan ekonomi sebagai prioritas. Bukan semata-mata demi pertumbuhan angka, melainkan karena kesejahteraan rakyat merupakan fondasi kokohnya sebuah masyarakat. Ketika kebutuhan dasar warga terpenuhi, mereka memiliki ruang untuk berpikir, berkarya, dan membangun masa depan. Sebaliknya, tekanan ekonomi yang terus-menerus sering kali membuat seseorang sulit memikirkan hal-hal yang lebih luhur.
Namun Imam Sajjad a.s tidak berhenti pada persoalan ekonomi semata. Doa beliau menunjukkan bahwa akar persoalan sering kali berada di dalam diri manusia. Sebelum memohon dijauhkan dari israf dan kefakiran, beliau lebih dahulu memohon perlindungan dari ketamakan, kemarahan, iri hati, lemahnya kesabaran, sedikitnya rasa qanaah, dominasi hawa nafsu, serta kelalaian.
Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَيَجَانِ الْحِرْصِ… وَقِلَّةِ الْقَنَاعَةِ… وَإِلْحَاحِ الشَّهْوَةِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gejolak ketamakan, sedikitnya rasa qanaah, dorongan syahwat yang tak terkendali”
Susunan doa ini bukan kebetulan. Seolah Imam Sajjad a.s ingin mengatakan bahwa krisis ekonomi sering kali berawal dari krisis moral. Ketamakan melahirkan korupsi. Hilangnya qanaah melahirkan budaya konsumtif. Nafsu yang tak terkendali mendorong eksploitasi tanpa batas. Semua itu pada akhirnya menciptakan ketimpangan yang merugikan banyak orang.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: ekonomi sejatinya bukan sekadar soal produksi dan distribusi, melainkan juga soal karakter manusia. Sebuah bangsa dapat memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi jika kejujuran hilang dan keserakahan menguasai, kekayaan itu justru berubah menjadi sumber konflik.
Karena itu, dalam doa yang sama Imam Sajjad a.s juga memohon agar tidak menjadi penolong orang zalim, tidak menelantarkan mereka yang tertindas, tidak meremehkan kaum miskin, serta tidak bersikap angkuh terhadap sesama. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa ekonomi dalam Islam tidak pernah dipisahkan dari keadilan sosial. Kekayaan yang tidak menghadirkan kepedulian hanyalah angka tanpa makna.
Di zaman ketika keberhasilan sering diukur dari banyaknya aset, kendaraan, atau gaya hidup, doa Imam Sajjad a.s menghadirkan ukuran yang berbeda. Kekayaan sejati bukanlah memiliki segalanya, melainkan memiliki kecukupan yang disertai ketenangan. Sebaliknya, seseorang bisa bergelimang harta, tetapi tetap miskin karena tidak pernah merasa cukup.
Mungkin itulah sebabnya doa ini tidak meminta limpahan kekayaan tanpa batas. Yang dimohon adalah perlindungan dari dua jurang: pemborosan dan kekurangan. Di antara keduanya terdapat jalan tengah yang melahirkan ketenteraman, rasa syukur, dan kemampuan berbagi kepada sesama.
Pada akhirnya, ekonomi bukan hanya persoalan dompet, melainkan juga persoalan hati. Ketika hati dipenuhi keserakahan, sebanyak apa pun harta tidak akan pernah terasa cukup. Namun ketika hati mengenal qanaah, kecukupan akan berubah menjadi nikmat yang menumbuhkan rasa syukur.
Barangkali inilah pelajaran paling penting dari doa Imam Sajjad a.s. Sebuah masyarakat yang kuat bukan hanya dibangun oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh manusia-manusia yang mampu mengendalikan nafsunya, menghargai kecukupan, menjauhi pemborosan, dan memastikan bahwa kesejahteraan tidak menjadi hak segelintir orang, melainkan kesempatan yang dapat dirasakan bersama.







