Persatuan Umat Islam: Ketika Persamaan Mengalahkan Perbedaan

KHAMENEI.ID– Peradaban tidak runtuh karena terlalu banyak perbedaan. Ia runtuh ketika manusia lebih gemar membesarkan perbedaan daripada merawat persamaan. Dalam sejarah umat Islam, luka terdalam hampir selalu lahir bukan karena musuh dari luar, melainkan karena retaknya kepercayaan di dalam rumah sendiri. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pesan tentang persatuan terasa bukan sekadar ajakan moral, melainkan syarat utama untuk bertahan.

Di banyak tempat, masyarakat hidup berdampingan dengan latar belakang mazhab, suku, dan tradisi yang berbeda. Perbedaan itu sebenarnya bukan persoalan. Yang menentukan masa depan sebuah bangsa justru kemampuan mereka menempatkan persamaan sebagai fondasi bersama. Ketika identitas bersama lebih kuat daripada identitas kelompok, maka kepercayaan tumbuh, kerja sama menguat, dan kemenangan menjadi mungkin.

Pengalaman hidup masyarakat Muslim di berbagai wilayah yang dihuni oleh penganut Syiah dan Sunni menunjukkan pelajaran penting. Harmoni tidak lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama dalam setiap persoalan. Harmoni lahir karena mereka memilih menjadikan Islam sebagai rumah bersama yang lebih besar daripada sekat-sekat mazhab. Perbedaan tetap ada, tetapi tidak diizinkan berubah menjadi permusuhan.

Di titik inilah persatuan menemukan makna sejatinya. Persatuan bukan berarti menghapus keragaman, melainkan mengelola keragaman agar menjadi sumber kekuatan. Sebuah masyarakat akan lebih mudah mencapai keberhasilan apabila energi mereka tidak habis untuk saling mencurigai, melainkan diarahkan untuk membangun masa depan bersama.

Nilai ini sesungguhnya telah lama diajarkan oleh Imam Ali a.s. Dalam salah satu khutbahnya di Nahj al-Balaghah, beliau menegur kelompok Khawarij yang begitu mudah menghakimi kaum Muslim lainnya. Mereka menganggap kesalahan seseorang sebagai alasan untuk menyesatkan seluruh umat. Imam Ali a.s menolak cara berpikir seperti itu.

Baca Juga  Misi Para Nabi: Membebaskan Akal dari Belenggu Khurafat

Beliau mengingatkan bahwa Rasulullah saw tetap menegakkan hukum kepada orang yang bersalah, tetapi tidak mencabut identitas keislamannya. Seorang pezina yang telah menjalani hukuman tetap dishalatkan. Seorang pembunuh tetap memiliki hak waris bagi keluarganya. Seorang pencuri tetap menjadi bagian dari masyarakat Muslim setelah menerima hukuman. Dosa memang dihukum, tetapi martabat kemanusiaan dan ikatan keislaman tidak dihapus begitu saja.

Cara pandang ini mengajarkan perbedaan mendasar antara menegakkan keadilan dan menghilangkan persaudaraan. Seseorang boleh melakukan kesalahan, bahkan kesalahan besar, tetapi kesalahan itu tidak otomatis menjadi alasan untuk memutus seluruh ikatan sosial. Jika setiap kekeliruan dijadikan alasan untuk mengeluarkan orang lain dari komunitas, maka pada akhirnya tidak akan ada lagi komunitas yang tersisa.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang jauh lebih luas: budaya mengkafirkan, memberi cap sesat, dan meniadakan orang lain. Sejarah Islam mencatat bahwa fanatisme yang berlebihan sering kali lahir dari keyakinan bahwa hanya kelompok sendirilah yang sepenuhnya benar. Dari keyakinan seperti inilah konflik berkepanjangan bermula.

Imam Ali a.s justru memperingatkan bahaya dua sikap ekstrem. Ada orang yang mencintai seseorang secara berlebihan hingga kehilangan objektivitas. Sebaliknya, ada pula yang membenci secara berlebihan hingga menolak setiap kebaikan yang ada pada orang yang dibencinya. Kedua sikap ini sama-sama menjauhkan manusia dari kebenaran.

Karena itu beliau menyerukan agar umat memilih jalan tengah. Jalan moderasi bukanlah sikap lemah, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan ketika emosi menguasai akal. Orang yang berada di tengah tidak mudah terprovokasi oleh kebencian, tetapi juga tidak larut dalam fanatisme.

Salah satu pesan paling terkenal dalam khutbah tersebut berbunyi:

فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah (Bag. 17) : Ikuti Jalan Hidayah, Bukan Arus Dunia, Mayoritas Belum Tentu Benar

“Sesungguhnya pertolongan Allah bersama jamaah (kebersamaan). Maka jauhilah perpecahan”

Kalimat singkat ini mengandung filosofi yang sangat dalam. Pertolongan Allah tidak dikaitkan dengan kelompok tertentu, melainkan dengan kebersamaan. Sebaliknya, perpecahan digambarkan sebagai pintu yang membuka jalan bagi kehancuran.

Imam Ali a.s bahkan membuat perumpamaan yang sangat sederhana namun mengena. Beliau mengatakan bahwa orang yang memisahkan diri dari kebersamaan laksana seekor domba yang terpisah dari kawanannya; ia menjadi sasaran empuk bagi serigala. Gambaran ini tetap relevan hingga hari ini. Masyarakat yang tercerai-berai jauh lebih mudah diprovokasi, diadu domba, dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Dalam konteks yang lebih luas, persatuan bukan hanya persoalan hubungan antarmazhab. Ia juga menyangkut kemampuan sebuah bangsa menjaga ruang dialog di tengah perbedaan politik, budaya, maupun kepentingan ekonomi. Ketika setiap perbedaan berubah menjadi permusuhan, energi masyarakat habis untuk bertengkar. Sebaliknya, ketika perbedaan dikelola sebagai kenyataan yang harus dihormati, masyarakat memiliki kesempatan untuk bergerak maju.

Al-Qur’an sendiri menjadi titik temu yang semestinya menyatukan umat. Imam Ali a.s menjelaskan bahwa tujuan penyelesaian berbagai perselisihan adalah menghidupkan kembali nilai-nilai yang dihidupkan Al-Qur’an dan mematikan segala sesuatu yang ditolak oleh Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa menghidupkan Al-Qur’an berarti berkumpul di atas petunjuknya, sedangkan meninggalkannya berarti membuka jalan menuju perpecahan.

Pesan ini terasa semakin penting di era media sosial. Hari ini, pertengkaran dapat menyebar lebih cepat daripada pengetahuan. Sebuah potongan video, kutipan pendek, atau komentar provokatif sering kali cukup untuk memecah hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun. Di ruang digital, setiap orang memiliki peluang menjadi penyebar persatuan atau justru penyulut perpecahan.

Karena itu, ukuran kedewasaan sebuah masyarakat bukanlah hilangnya perbedaan, melainkan kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Persatuan tidak meminta semua orang berpikir sama. Persatuan hanya meminta agar perbedaan tidak mengalahkan rasa memiliki terhadap rumah yang sama.

Baca Juga  Transformasi Bukan Mengganti Identitas: Makna Perubahan Menurut Imam Ali Khamenei

Barangkali inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Imam Ali a.s. Kemenangan bukan semata hasil kekuatan militer, kekayaan, atau jumlah pengikut. Kemenangan lahir ketika manusia mampu menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompoknya. Sebab selama persamaan masih dipandang lebih berharga daripada perbedaan, harapan untuk membangun masa depan yang damai akan selalu menemukan jalannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar