KHAMENEI.ID– Ada masa ketika membedakan yang benar dan yang keliru terasa begitu mudah. Yang satu terang, yang lain gelap. Yang satu membela keadilan, yang lain terang-terangan menentangnya. Namun sejarah menunjukkan, masa seperti itu tidak selalu berlangsung lama. Ada saat ketika kebenaran justru tersembunyi di balik slogan-slogan yang sama, simbol yang sama, bahkan ritual keagamaan yang sama.
Di situlah ujian sesungguhnya dimulai.
Pada masa kepemimpinan Imam Ali a.s, dunia Islam memasuki babak yang jauh lebih rumit dibandingkan era sebelumnya. Ketika dua pasukan berhadapan di medan perang, keduanya sama-sama mengucapkan takbir. Keduanya mendirikan shalat. Jika Ramadan tiba, keduanya sama-sama berpuasa. Dari kedua kubu itu pula terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Di permukaan, hampir tidak ada pembeda yang kasatmata.
Justru kesamaan itulah yang melahirkan kebingungan.
Banyak orang kehilangan pegangan. Mereka tidak lagi hidup dalam suasana yang sederhana seperti pada masa Rasulullah saw, ketika batas antara yang hak dan yang batil relatif mudah dikenali. Kini, wajah-wajah yang sama-sama mengaku membela Islam berdiri saling berhadapan. Simbol tidak lagi cukup menjadi penanda. Slogan pun kehilangan daya jelaskannya.
Perang Shiffin menjadi salah satu contoh paling nyata dari kerumitan itu. Bahkan di tengah pasukan Imam Ali a.s sendiri, sesekali muncul keraguan. Sebagian orang bertanya dalam hati, mengapa sesama Muslim harus saling berperang? Bukankah mereka membaca kitab yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan menjalankan syariat yang sama?
Dalam situasi seperti itulah hadir sosok-sosok yang memiliki pandangan lebih dalam, seperti Ammar bin Yasir. Mereka bukan sekadar Muslim yang lebih tua usianya, melainkan orang-orang yang sejak awal menyaksikan lahirnya Islam, memahami perjalanan risalah, serta mengenali arah perjuangan Nabi saw. Pengalaman itu membuat mereka mampu membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kebanyakan orang.
Mereka memahami bahwa ukuran kebenaran tidak berhenti pada simbol-simbol keagamaan.
Di titik inilah Imam Ali a.s mengingatkan sebuah prinsip yang melampaui zamannya:
لا يَحْمِلُ هٰذَا الْعِلْمَ إِلَّا أَهْلُ الْبَصَرِ وَالصَّبْرِ
“Ilmu dan amanah perjuangan ini hanya dapat dipikul oleh orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan dan kesabaran”
Kalimat itu sering dipahami sebagai ajakan untuk bersabar menghadapi kesulitan. Padahal Imam Ali a.s menempatkan satu syarat lain yang tidak kalah penting: bashirah, ketajaman melihat kenyataan.
Kesabaran saja ternyata tidak cukup.
Seseorang bisa sangat sabar, tetapi bila gagal membaca keadaan, ia justru dapat terseret mengikuti arus yang salah. Sebaliknya, kecerdasan tanpa kesabaran sering kali membuat seseorang tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Karena itu, Imam Ali a.s memadukan keduanya: penglihatan yang jernih dan keteguhan hati.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar kisah sejarah. Dunia modern memperlihatkan kenyataan yang tidak jauh berbeda.
Hari ini hampir semua pihak berbicara tentang keadilan, demokrasi, kemanusiaan, perdamaian, kebebasan, bahkan agama. Kata-kata itu terdengar indah. Hampir tidak ada kelompok yang secara terbuka mengaku membela kezaliman atau penindasan. Semua memakai bahasa yang baik, slogan yang memikat, dan narasi yang tampak meyakinkan.
Namun, arah yang mereka tempuh sering kali bertolak belakang.
Ada yang berbicara tentang perdamaian sambil memelihara konflik. Ada yang mengatasnamakan hak asasi manusia tetapi menutup mata terhadap penderitaan kelompok tertentu. Ada pula yang mengusung nama agama, sementara tindakannya justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai yang diajarkan agama itu sendiri.
Di dunia Islam pun kenyataan tersebut tidak asing. Nama Islam dipakai oleh banyak pihak, tetapi pemahaman terhadap ajaran Islam bisa berbeda sejauh jarak antara iman dan kekufuran. Nilai-nilai yang paling mendasar sekalipun kadang diabaikan oleh mereka yang justru mengaku menjadi pembelanya.
Karena itulah, kesamaan slogan tidak pernah boleh dijadikan ukuran terakhir.
Yang lebih penting adalah melihat arah, tujuan, dan buah dari setiap gerakan. Apakah ia benar-benar melahirkan keadilan? Apakah ia menjaga martabat manusia? Apakah ia mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai yang diajarkan Allah, atau justru memanfaatkannya demi kepentingan kekuasaan?
Di era media sosial, persoalan ini menjadi semakin rumit. Informasi bergerak sangat cepat, sementara kemampuan manusia untuk memverifikasi sering kali tertinggal. Sebuah kalimat yang terdengar religius belum tentu lahir dari niat yang tulus. Sebuah video yang tampak meyakinkan belum tentu menghadirkan keseluruhan fakta. Bahkan kecerdasan buatan mampu menghasilkan narasi yang terlihat sangat autentik.
Semakin canggih teknologi, semakin besar pula kebutuhan akan bashirah.
Ketajaman pandangan bukan berarti selalu curiga kepada semua orang. Ia justru mengajarkan keseimbangan: tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menuduh. Tidak terpukau oleh penampilan luar, namun berusaha memahami hakikat yang tersembunyi di baliknya.
Imam Ali a.s seolah mengingatkan bahwa ujian terbesar suatu masyarakat bukanlah ketika kebatilan tampil dengan wajah yang menyeramkan. Ujian yang lebih berat adalah ketika kebatilan mengenakan pakaian kebenaran.
Sejarah membuktikan, banyak orang tersesat bukan karena mereka membenci kebenaran, melainkan karena gagal mengenalinya ketika ia tertutup oleh simbol-simbol yang tampak serupa.
Barangkali itulah pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini. Dunia tidak kekurangan slogan yang indah. Yang jauh lebih langka adalah mata yang mampu melihat arah di balik slogan itu dan hati yang cukup sabar untuk tetap berjalan bersama kebenaran, meskipun jalannya tidak selalu ramai.







