Mengapa Banyak Orang Sukses Tetap Rapuh? Jawabannya Mungkin Ada pada Shalat yang Ditinggalkan 

KHAMENEI.ID— Ada satu tragedi yang jarang disadari manusia modern: banyak orang berhasil membangun karier, tetapi gagal membangun dirinya sendiri. Mereka sibuk mempercantik kehidupan luar, tetapi membiarkan batinnya tumbuh liar tanpa arah. Gelar bertambah, penghasilan meningkat, jaringan sosial meluas, tetapi jiwa tetap rapuh, mudah marah, mudah kosong, dan gampang kehilangan makna.

Kita hidup di zaman ketika manusia begitu serius meng-upgrade perangkatnya, tetapi jarang meng-upgrade dirinya sendiri.

Padahal dalam pandangan Islam, tujuan hidup bukan sekadar bertahan hidup atau mencapai kenyamanan material. Hidup adalah proyek pembentukan diri. Manusia datang ke dunia seperti bahan mentah, belum selesai, belum matang, belum sempurna. Dan seluruh perjalanan hidup sesungguhnya adalah proses mengolah “bahan mentah” itu menjadi sesuatu yang lebih tinggi.

Karena itu ada pesan yang mengingatkan dengan nada yang sangat dalam: celakalah orang yang menjalani hidup tanpa pernah sungguh-sungguh bekerja atas dirinya sendiri.

Kalimat itu terasa menampar. Sebab banyak manusia memang bergerak sangat sibuk, tetapi tidak benar-benar bertumbuh. Mereka bertambah tua, bukan bertambah matang. Bertambah pengalaman, tetapi tidak bertambah bijak. Bahkan sebagian orang meninggalkan dunia dalam keadaan lebih rusak daripada ketika pertama kali datang: lebih penuh amarah, lebih dipenuhi iri hati, lebih keras, lebih egois, dan lebih jauh dari Tuhan.

Di sinilah konsep “self improvement” dalam Islam berbeda dari versi modern yang sering hanya berputar pada produktivitas dan pencapaian personal.

Islam berbicara tentang tazkiyatun nafs “penyucian dan pembentukan jiwa”.

Dan proses itu, harus berlangsung terus-menerus.Kalimat “terus-menerus” penting. Sebab banyak orang menganggap perubahan diri sebagai proyek musiman. Mereka semangat memperbaiki diri ketika sedang terkena musibah, saat Ramadhan datang, atau ketika hati sedang tersentuh ceramah agama. Tetapi setelah itu, hidup kembali berjalan otomatis seperti biasa.

Baca Juga  Dunia Memuji Imam Ali Setelah Wafat, Tapi Menolaknya Saat Berkuasa 

Padahal karakter manusia tidak dibentuk oleh ledakan semangat sesaat, melainkan oleh latihan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Karena itu Islam menciptakan ritme spiritual harian yang unik: shalat lima waktu.

Sering kali manusia memandang shalat hanya sebagai kewajiban ritual. Sesuatu yang harus “ditunaikan” agar tidak berdosa. Padahal hal ini berada pada dimensi yang jauh lebih dalam: shalat adalah mekanisme pembentukan diri yang dilakukan berulang setiap hari.

Bayangkan. Lima kali sehari manusia dipanggil keluar dari kesibukan hidupnya. Lima kali ia diminta berhenti sejenak dari urusan uang, pekerjaan, ambisi, konflik, dan kecemasan dunia. Lalu ia berdiri menghadap Tuhan sambil mengulang:

اِیّاكَ نَعبُدُ وَ اِیّاكَ نَستَعین

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”

Kalimat ini sebenarnya bukan sekadar bacaan liturgis. Ia adalah latihan mental harian. Pengingat bahwa manusia bukan pusat alam semesta. Bahwa ada Tuhan yang lebih besar daripada ego, ketakutan, dan ambisi manusia.

Lalu manusia rukuk, menundukkan tubuhnya. Kemudian sujud, meletakkan wajahnya ke tanah.

Mengapa semua gerakan itu diulang terus setiap hari?

Karena manusia mudah lupa.

Kesombongan tumbuh setiap hari, maka kerendahan hati juga harus dilatih setiap hari. Kecintaan pada dunia muncul setiap saat, maka jiwa perlu terus-menerus diingatkan tentang sesuatu yang lebih tinggi dari dunia.

Shalat adalah proses membengkokkan ego yang selalu ingin berdiri paling tinggi.

Masalahnya, kehidupan modern membuat manusia hampir tidak punya ruang untuk mengolah dirinya. Pikiran terlalu sibuk. Waktu terlalu padat. Perhatian terlalu tercerai-berai. Hidup berubah menjadi rangkaian notifikasi tanpa jeda refleksi.

Mungkin inilah yang sering tidak dipahami banyak orang: ibadah dalam Islam bukan pertama-tama untuk kepentingan Tuhan, tetapi untuk menyelamatkan manusia dari kerusakan dirinya sendiri.

Baca Juga  Ketika Setan Tidak Takut pada Orang yang Rajin Ibadah

Allah Ta’ala tidak membutuhkan shalat manusia. Manusialah yang membutuhkan shalat agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam dunia.

Tanpa latihan spiritual yang terus-menerus, manusia mudah berubah menjadi makhluk mekanis: bekerja, makan, tidur, mengulang rutinitas, lalu mati tanpa pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Dan mungkin itulah bentuk kehilangan terbesar dalam hidup.

Pada akhirnya, manusia harus melihat hidup secara lebih jujur. Bahwa tugas terbesarnya bukan hanya mencari nafkah, membangun reputasi, atau mengejar pengakuan sosial. Tugas terbesar manusia adalah membentuk dirinya sendiri menjadi lebih bersih, lebih matang, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Karena ketika hidup berakhir, yang tersisa bukan jabatan, bukan popularitas, bukan jumlah pengikut, melainkan kualitas jiwa yang berhasil kita bangun diam-diam sepanjang hidup.

Dan mungkin itulah mengapa manusia terus dipanggil setiap hari untuk shalat lima waktu : bukan karena Allah Ta’ala membutuhkan pengulangan itu, tetapi karena manusialah yang terlalu mudah kembali lupa siapa dirinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar