KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang kehilangan orang-orang terbaik yang pernah berjalan bersamanya.
Sejarah sering mengenang Imam Ali a.s sebagai sosok pemberani yang tak tertandingi di medan perang. Pedangnya menjadi simbol keberanian, sementara keteguhannya menjelma teladan keadilan. Namun, di balik ketegasan itu, tersimpan hati yang sangat lembut. Air mata bukanlah sesuatu yang asing baginya. Dalam doa-doanya, munajatnya, dan bisikan sunyi kepada Allah, tersimpan kerinduan yang dalam kepada mereka yang telah mendahuluinya.
Di berbagai kesempatan, Imam Ali a.s mengenang para sahabat yang gugur di jalan Allah. Mereka bukan sekadar rekan seperjuangan, melainkan orang-orang yang telah mengikat janji dengan Tuhan untuk mengorbankan segala yang mereka miliki demi kebenaran.
Dengan nada penuh kepedihan beliau berseru,
أین عمّار، أین ابن التّیّهان، أین ذو الشّهادتین و أین نظراؤهم من إخوانهم الّذین تعاقدوا علی المنیّة
“Di manakah Ammar? Di manakah Ibnu Tihan? Di manakah Dzu asy-Syahadatain? Di manakah saudara-saudara mereka yang telah berjanji untuk menyerahkan jiwa mereka di jalan Allah?”
Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Imam Ali a.s mengetahui ke mana mereka pergi. Mereka telah kembali kepada Tuhan. Yang sesungguhnya sedang diungkapkan adalah kerinduan yang tak mungkin lagi dipenuhi di dunia.
Nama-nama itu bukan nama biasa. Mereka adalah wajah-wajah yang menemani Rasulullah saw dalam masa-masa paling sulit, berdiri teguh ketika Islam masih rapuh, dan tidak mundur ketika pedang musuh mengelilingi mereka. Mereka hadir dalam berbagai pertempuran besar, mempertaruhkan hidup demi mempertahankan risalah. Sebagian lagi gugur ketika mendampingi Imam Ali a.s dalam perang Jamal maupun Shiffin. Yang tersisa hanyalah kenangan, sementara medan perjuangan menjadi semakin sunyi.
Duka Imam Ali a.s menjadi semakin dalam ketika mengenang bagaimana sebagian syuhada diperlakukan setelah wafat. Beliau menggambarkan bahwa kepala-kepala mereka dipenggal lalu dibawa sebagai persembahan kepada para penguasa zalim. Kekerasan rupanya tidak berhenti ketika nyawa telah meninggalkan jasad. Bahkan kehormatan orang-orang saleh pun masih menjadi sasaran kebencian.
Namun jika ditarik lebih jauh, ratapan Imam Ali a.s sesungguhnya bukan hanya tentang kehilangan individu. Ia adalah ratapan atas berkurangnya manusia-manusia yang memegang teguh prinsip. Kehilangan para pejuang berarti berkurangnya suara kejujuran. Semakin sedikit orang yang berani berkata benar, semakin berat pula beban yang harus dipikul oleh seorang pemimpin.
Kesepian seperti ini sering kali luput dari perhatian sejarah. Orang melihat pemimpin dikelilingi rakyat, tentara, dan pejabat, lalu mengira ia tidak pernah sendiri. Padahal kesendirian terbesar bukanlah ketika tidak ada orang di sekitar kita, melainkan ketika tidak ada lagi orang yang memiliki visi, keberanian, dan ketulusan yang sama.
Barangkali itulah sebabnya Imam Ali a.s begitu sering larut dalam munajat. Malam menjadi ruang tempat seluruh beban itu ditumpahkan kepada Allah. Di Masjid Kufah, orang-orang berkali-kali menyaksikan beliau berdiri dalam salat yang panjang, menangis, berdoa, dan berbicara kepada Tuhannya dengan penuh kerendahan hati. Dinding-dinding masjid menjadi saksi bisu doa-doa yang lahir dari hati seorang pemimpin yang memikul tanggung jawab jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.
Di titik ini, kita melihat sisi Imam Ali a.s yang sering terlupakan. Ia bukan hanya panglima perang yang perkasa, tetapi juga seorang hamba yang rapuh di hadapan Allah. Kekuatan sejatinya justru lahir dari pengakuan bahwa manusia memiliki batas, sementara pertolongan Tuhan tidak pernah berbatas.
Kesedihan itu mencapai puncaknya pada malam ke-19 Ramadan. Seperti malam-malam sebelumnya, Imam Ali a.s datang ke Masjid Kufah untuk menghadap Allah. Tidak ada pengawalan istimewa. Tidak ada benteng yang melindunginya. Seorang pemberani tidak pernah menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk meninggalkan rumah Allah.
Di dalam mihrab, ketika beliau sedang tenggelam dalam salat, tangan pengkhianatan bergerak dari balik gelapnya malam. Pedang beracun menghantam kepala manusia yang sepanjang hidupnya tidak pernah gentar menghadapi siapa pun di medan perang. Ironisnya, tidak ada seorang pun yang berani menantangnya secara terbuka pada siang hari. Serangan itu datang ketika beliau sedang bersujud, dalam keadaan paling dekat dengan Tuhannya.
Saat itulah terdengar kalimat yang kemudian dikenang sepanjang sejarah:
فزت و ربّ الکعبه
“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung”
Kalimat itu terdengar ganjil bagi manusia biasa. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja ditebas pedang justru mengucapkan kata “beruntung”? Namun bagi Imam Ali a.s, kemenangan bukanlah selamatnya tubuh dari luka, melainkan berhasil menjaga kesetiaan kepada Allah hingga napas terakhir. Syahadah bukan kekalahan, tetapi puncak perjalanan seorang mukmin.
Masyarakat Kufah bergegas menuju masjid setelah mendengar kabar yang menggetarkan. Mereka mendapati Imam Ali a.s bersimbah darah di tempat yang selama ini dipenuhi doa, tangisan, dan munajatnya. Masjid yang dahulu menjadi ruang ibadah kini menjadi saksi perpisahan seorang manusia agung dengan dunia.
Dalam konteks kehidupan modern, kisah ini menyampaikan pesan yang melampaui batas sejarah. Setiap zaman membutuhkan orang-orang seperti Ammar, Ibnu Tihan, dan para pejuang yang rela mempertahankan kebenaran tanpa mengharap imbalan dunia. Sebab yang paling menyakitkan bagi sebuah masyarakat bukanlah hilangnya orang-orang hebat, melainkan hilangnya karakter yang membuat mereka layak dikenang.
Kesepian Imam Ali a.s pada akhirnya adalah cermin bagi setiap generasi. Sebuah bangsa dapat memiliki banyak orang cerdas, banyak pemimpin, bahkan banyak pengikut. Tetapi ketika manusia-manusia yang jujur, setia, dan berani semakin langka, saat itulah kesepian seorang pemimpin berubah menjadi kesepian sebuah peradaban.







