KHAMENEI.ID– Ada ukuran-ukuran yang biasa dipakai manusia untuk menilai seseorang: jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh. Namun dalam tradisi Islam, ada ukuran lain yang jauh lebih sunyi sekaligus lebih tinggi: seberapa dekat seseorang dengan ridha Allah. Di titik inilah nama Fatimah Az-Zahra a.s menempati kedudukan yang hampir mustahil dibandingkan dengan manusia lain.
Bukan karena ia putri Nabi Muhammad saw semata, melainkan karena kehidupannya menjadi cermin nilai-nilai yang hidup dalam agama. Ia bukan hanya tokoh sejarah, tetapi juga ukuran moral. Karena itu, para ulama berulang kali mengingatkan bahwa kebesaran Fatimah a.s tidak dapat disejajarkan dengan siapa pun selain Rasulullah saw dan Ahlul Bait yang disucikan.
Salah satu hadis yang paling terkenal diriwayatkan baik dalam literatur Sunni maupun Syiah, menggambarkan kedudukan itu dengan sangat kuat:
إِنَّ اللَّهَ لَيَغْضَبُ لِغَضَبِ فَاطِمَةَ وَيَرْضَى لِرِضَاهَا
“Sesungguhnya Allah murka karena kemurkaan Fatimah dan ridha karena keridhaannya”
Kalimat singkat ini menyimpan makna yang sangat dalam. Ridha Fatimah a.s bukanlah ukuran yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari kebenaran dan keridhaan Tuhan. Artinya, kehidupan Fatimah a.s begitu menyatu dengan nilai-nilai Ilahi sehingga sikapnya menjadi penanda bagi sikap yang diridhai Allah.
Gagasan ini kemudian menyentuh pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang memperoleh keridhaan Allah? Jawabannya ternyata bukan hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga dengan meneladani akhlak yang dihidupi Fatimaha.s , kejujuran, kesucian hati, keberanian membela kebenaran, kepedulian kepada sesama, dan keteguhan menjaga martabat manusia.
Namun kemuliaan Fatimah a.s tidak hanya berbicara tentang dirinya sebagai pribadi. Ia juga membuka cara pandang Islam terhadap perempuan. Di tengah masyarakat yang kerap menilai perempuan dari penampilan atau perannya di ruang domestik semata, Islam justru mengangkat perempuan melalui penghormatan terhadap sosok ibu.
Sebuah hadis yang sangat populer menggambarkan hal itu. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah a.s dan bertanya:
يا رسولَ الله، مَن أَبَرُّ؟ قالَ: أُمَّكَ. قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: أُمَّكَ. قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: أُمَّكَ. قالَ: ثُمَّ مَن؟ قالَ: أَباكَ.
“Wahai Rasulullah, kepada siapa aku harus paling berbuat baik?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Nabi kembali menjawab, “Ibumu.” Setelah itu barulah Nabi berkata, “Kemudian ayahmu”
Pengulangan itu bukan sekadar penegasan bahasa. Ia adalah penempatan seorang ibu pada posisi yang luar biasa dalam bangunan keluarga. Tiga kali Rasulullah saw menyebut ibu sebelum ayah, seakan hendak mengingatkan bahwa kasih sayang, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu adalah fondasi pertama yang menopang kehidupan manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, penghormatan kepada ibu sesungguhnya merupakan penghormatan kepada martabat perempuan itu sendiri. Seorang perempuan bukan hanya dihargai karena hubungan biologisnya dengan anak, tetapi karena peran kemanusiaannya yang begitu besar dalam membentuk generasi.
Akan tetapi, Islam tidak berhenti pada penghormatan simbolik terhadap perempuan. Agama ini juga memandang bahwa tanggung jawab sosial tidak mengenal batas jenis kelamin. Kepedulian terhadap masyarakat bukan monopoli laki-laki, sebagaimana pengabdian di ruang keluarga bukan pula beban perempuan semata.
Rasulullah saw mengingatkan:
مَنْ أَصْبَحَ وَلَمْ يَهْتَمَّ بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ بِمُسْلِمٍ
“Barang siapa memasuki pagi hari tanpa memiliki kepedulian terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukanlah seorang Muslim”
Hadis ini menarik karena tidak membedakan siapa yang memikul tanggung jawab tersebut. Tidak disebut laki-laki ataupun perempuan. Yang dituntut adalah rasa memiliki terhadap masyarakat. Seorang ibu rumah tangga, guru, dokter, pengusaha, pekerja, mahasiswa, ataupun siapa saja memiliki kewajiban moral untuk tidak hidup dalam sikap acuh.
Kepedulian itu dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang mengobati orang sakit, ada yang mendidik anak-anak, ada yang membantu korban bencana, ada yang memperjuangkan keadilan melalui ilmu, tulisan, atau kebijakan. Yang terpenting bukan bentuk perannya, melainkan kesadaran bahwa penderitaan orang lain bukan sesuatu yang asing bagi dirinya.
Nilai ini semakin dipertegas oleh sabda Nabi saw yang lain:
مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يُنَادِي يَا لَلْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَيْسَ بِمُسْلِمٍ
“Barang siapa mendengar seseorang meminta pertolongan kepada kaum Muslimin lalu tidak meresponsnya, maka ia bukan seorang Muslim”
Di dunia modern, seruan meminta pertolongan tidak selalu terdengar secara langsung. Ia hadir melalui berita tentang perang, kelaparan, pengungsian, kemiskinan, atau ketidakadilan yang setiap hari memenuhi layar gawai kita. Persoalannya bukan lagi apakah kita mendengarnya, melainkan apakah hati kita masih mampu terusik olehnya.
Fatimah Az-Zahra a.s sendiri memberikan teladan yang menarik. Ia adalah seorang ibu, seorang istri, sekaligus pribadi yang memiliki keberanian menyuarakan kebenaran ketika melihat ketidakadilan. Kehidupan beliau menunjukkan bahwa kesalehan tidak identik dengan menarik diri dari persoalan masyarakat. Justru iman yang hidup melahirkan kepedulian yang nyata.
Karena itu, kebesaran Fatimah a.s tidak dapat dipahami hanya sebagai penghormatan kepada satu sosok perempuan dalam sejarah Islam. Ia adalah simbol tentang bagaimana kemuliaan manusia dibangun oleh iman, kasih sayang, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Dari rumah yang sederhana lahir pengaruh yang melampaui zaman, bukan karena kekuasaan, tetapi karena ketulusan.
Barangkali di situlah pelajaran terbesarnya. Dunia sering mengukur manusia dari apa yang dimilikinya. Sementara agama mengajarkan bahwa kemuliaan justru diukur dari siapa yang berhasil ia bahagiakan, siapa yang ia bela ketika tertindas, dan sejauh mana hidupnya menjadi jalan bagi hadirnya ridha Allah. Dalam ukuran itulah Fatimah Az-Zahra a.s tetap berdiri sebagai salah satu puncak kemanusiaan yang sulit dicapai, tetapi selalu layak dijadikan arah perjalanan.







