KHAMENEI.ID –
Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 6–7 tentang Hati yang Tertutup Ketika kepentingan dan hawa nafsu membuat seseorang menolak kebenaran, meski telah melihatnya dengan jelas.
Ada orang yang berubah hanya karena mendengar satu kalimat kebenaran. Ada pula yang berkali-kali diingatkan, tetapi tetap bergeming. Al-Qur’an mengakui kenyataan itu sejak awal Surah Al-Baqarah. Setelah menggambarkan sosok orang bertakwa yang terbuka terhadap petunjuk, Al-Qur’an memperlihatkan kelompok lain yang justru menutup diri dari kebenaran. Menurut Imam Ali Khamenei qs, persoalannya bukan karena kebenaran tidak sampai kepada mereka, melainkan karena mereka sendiri telah membangun tembok yang menghalangi cahaya petunjuk masuk ke dalam hati.
Firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka apakah engkau memberi peringatan atau tidak memberi peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup. Bagi mereka azab yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 6–7)
Syahid Ali Khamenei memulai penjelasan ayat ini dengan menguraikan makna inzar (peringatan). Tugas para nabi bukan sekadar menyampaikan informasi agama, tetapi membangunkan manusia dari keadaan yang menyesatkan. Inzar berarti memperingatkan seseorang tentang bahaya yang sedang ia jalani dan akibat buruk yang menantinya jika tetap berada di jalan itu.
Karena itu, peringatan para nabi bukanlah menakut-nakuti tanpa alasan. Mereka datang kepada masyarakat yang tenggelam dalam kebiasaan salah, lalu menunjukkan bahwa apa yang mereka anggap sebagai kehidupan normal sesungguhnya sedang membawa mereka menuju kehancuran. Orang yang tenggelam dalam kesalahan sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang tenggelam. Mereka memiliki akal dan pengetahuan, tetapi kehilangan kesadaran untuk melihat penyakit yang menguasai hidup mereka.
Imam Khamenei menjelaskan bahwa manusia bisa begitu larut dalam budaya, kepentingan, atau hawa nafsu hingga menganggap keburukan sebagai sesuatu yang baik. Bahkan slogan-slogan yang tampak indah pun dapat berubah menjadi alat untuk menutupi kezaliman apabila dipisahkan dari nilai kebenaran.
Beliau memberi contoh tentang konsep kebebasan. Kebebasan memang merupakan nilai yang mulia, tetapi bukan berarti setiap bentuk kebebasan selalu benar. Kebebasan melakukan kejahatan, menindas orang lain, menghancurkan hak sesama, atau menyebarkan kebohongan bukanlah kebebasan yang membawa manusia kepada kemuliaan. Ketika sebuah masyarakat kehilangan ukuran moral, istilah-istilah indah dapat dipakai untuk membenarkan tindakan yang justru merusak manusia.
Dalam pandangan Imam Khamenei, fenomena serupa juga tampak dalam cara opini publik dibentuk. Banyak orang menerima begitu saja narasi yang disebarkan media tanpa mengetahui akar persoalan yang sebenarnya. Akibatnya, mereka melihat sebuah konflik hanya dari permukaan, bukan dari keadilan yang melatarbelakanginya.
Beliau mengibaratkan keadaan itu seperti seseorang yang melihat dua orang sedang bertengkar, lalu buru-buru meminta mereka berdamai tanpa mengetahui bahwa salah satunya telah merampas rumah, harta, dan hak milik yang lain. Perdamaian semacam itu tampak indah di permukaan, tetapi justru mengabadikan kezaliman.
Karena itulah, menurut Imam Khamenei, ukuran utama bukan sekadar perdamaian, melainkan keadilan. Perdamaian yang dibangun di atas ketidakadilan hanya akan memperpanjang penindasan. Sebaliknya, keadilan menjadi fondasi yang tidak boleh dikorbankan demi slogan apa pun.
Dari sinilah makna firman Allah swt menjadi lebih jelas:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka apakah engkau memberi peringatan atau tidak memberi peringatan, mereka tidak akan beriman.”
Ayat ini, menurut Imam Khamenei, tidak sedang mengatakan bahwa dakwah para nabi sia-sia. Yang dimaksud adalah kelompok manusia yang telah memilih untuk menolak kebenaran karena dorongan kepentingan dan hawa nafsunya sendiri. Mereka bukan sekadar belum mengetahui kebenaran, tetapi telah menutup pintu agar kebenaran tidak lagi dapat masuk.
Beliau mengutip sebuah ungkapan yang sangat menggambarkan keadaan ini: orang yang tertidur masih dapat dibangunkan, tetapi bagaimana membangunkan orang yang berpura-pura tidur? Orang yang benar-benar tidur akan bangun ketika dipanggil atau disadarkan. Sebaliknya, orang yang sengaja berpura-pura tidur akan terus memejamkan mata sekalipun semua orang berusaha membangunkannya.
Begitulah keadaan sebagian manusia ketika berhadapan dengan petunjuk Ilahi. Kadang mereka sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena kesombongan, kepentingan, atau rasa takut kehilangan kedudukan.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan keadaan itu dalam kisah Fir’aun dan para pengikutnya:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14)
Menurut Imam Khamenei, sebagian orang memang mengetahui bahwa kebenaran itu benar, tetapi memilih mengingkarinya. Sebagian yang lain bahkan telah kehilangan kemampuan untuk mengenalinya karena terlalu lama hidup dalam kebatilan.
Keadaan inilah yang kemudian dijelaskan oleh ayat berikutnya:
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup.”
Imam Khamenei menjelaskan bahwa “hati yang terkunci” bukan berarti manusia dipaksa untuk sesat. Gambaran ini menunjukkan keadaan hati yang sudah tidak lagi mau membuka diri terhadap kebenaran. Pintu hati mereka tertutup rapat sehingga setiap gagasan baru ditolak sebelum sempat dipertimbangkan.
Begitu pula pendengaran mereka. Yang dimaksud bukan telinga secara fisik, melainkan kemampuan untuk benar-benar mendengar. Mereka mungkin mendengar suara dakwah, tetapi tidak pernah memberi kesempatan kepada pesan itu memasuki ruang pertimbangan akalnya.
Hal yang sama berlaku pada penglihatan. Mata mereka masih melihat, tetapi tidak lagi mampu menangkap makna di balik kenyataan. Dalam bahasa Al-Qur’an, terdapat tabir yang menghalangi pandangan mereka dari kebenaran.
Imam Khamenei menegaskan bahwa sikap yang benar justru sebaliknya. Seorang pencari kebenaran tidak menutup pintu bagi sebuah pemikiran baru. Ia membiarkan gagasan itu masuk, kemudian mengujinya dengan ukuran yang benar. Bila belum memiliki kemampuan menilai sendiri, ia harus merujuk kepada orang-orang yang memiliki ilmu dan perangkat penilaian yang lebih kuat. Menutup diri sejak awal bukanlah sikap yang diajarkan Islam.
Dengan demikian, menurut Imam Khamenei, kekafiran dalam ayat ini bukan sekadar persoalan tidak mengetahui kebenaran, melainkan keputusan untuk terus mempertahankan penolakan terhadapnya. Ketika hati, pendengaran, dan penglihatan terus-menerus ditutup oleh kesombongan, kepentingan, dan hawa nafsu, peringatan sebesar apa pun tidak lagi mampu menembusnya. Sebaliknya, hati yang tetap terbuka akan selalu memiliki kesempatan menerima cahaya petunjuk, betapa pun jauh seseorang pernah tersesat.






