Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 15) Mengapa Sebagian Orang Menolak Kebenaran Meski Sudah Diperingatkan?

KHAMENEI.ID –

Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 6–7 menurut Imam Khamenei menjelaskan siapa yang dimaksud orang kafir serta mengapa sebagian manusia menolak kebenaran meski telah datang petunjuk Allah swt.

Setelah menggambarkan sosok orang-orang bertakwa sebagai penerima hidayah Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berada di sisi berseberangan. Jika ayat-ayat sebelumnya memperlihatkan bagaimana hati yang bersih menyambut petunjuk, kini Al-Qur’an menjelaskan mengapa ada hati yang justru menolaknya.

Allah swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup. Bagi mereka azab yang besar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 6–7)

Menurut Imam Ali Khamenei qs, setelah Al-Qur’an memperkenalkan kelompok pertama, yaitu al-muttaqin, kini wahyu memperkenalkan dua kelompok lain yang memiliki sikap berbeda terhadap petunjuk Allah swt. Kelompok pertama dijelaskan dalam dua ayat ini, sedangkan kelompok berikutnya—orang-orang munafik—akan diuraikan lebih panjang pada ayat-ayat setelahnya.

Dengan demikian, pembukaan Surah Al-Baqarah membagi manusia menjadi tiga kelompok besar dalam menghadapi wahyu: orang bertakwa, orang kafir, dan orang munafik.

Siapa yang Dimaksud Orang Kafir?

Ketika membaca ayat ini, muncul pertanyaan penting: siapakah yang dimaksud dengan “orang-orang kafir”?

Imam Khamenei menjelaskan bahwa sebelum risalah para nabi disampaikan kepada suatu masyarakat, seluruh masyarakat itu pada dasarnya belum mengenal wahyu yang akan datang kepada mereka.

Sebelum Nabi Muhammad saw menyampaikan dakwah tauhid di Makkah, masyarakat Arab hidup dalam tradisi penyembahan berhala. Mereka belum mengenal ajaran Islam karena memang wahyu itu belum disampaikan kepada mereka.

Baca Juga  Tafsir surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 4)

Mereka meyakini banyak tuhan.

Mereka menyembah patung-patung.

Mereka menjalani kehidupan yang dikendalikan hawa nafsu dan tradisi jahiliah.

Sementara dakwah Nabi datang membawa sesuatu yang sama sekali berbeda: tauhid, penyucian jiwa, penghambaan hanya kepada Allah, dan pembebasan manusia dari belenggu hawa nafsu.

Karena itu, seluruh masyarakat saat itu pada mulanya berada di posisi yang berlawanan dengan ajaran yang baru datang tersebut.

Mengapa Sebagian Orang Langsung Beriman?

Namun setelah dakwah tauhid disampaikan, tidak semua orang memberikan respons yang sama.

Sebagian orang segera menerima kebenaran.

Menurut Imam Khamenei, mereka inilah yang telah dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya sebagai orang-orang bertakwa.

Mereka memiliki kesiapan batin.

Mereka menjaga diri agar tidak menutupi kebenaran.

Mereka tidak membiarkan hawa nafsu menguasai penilaian mereka.

Mereka memiliki kesadaran (dzikr), kewaspadaan, dan kesiapan untuk menerima kenyataan ketika kebenaran itu tampak di hadapan mereka.

Karena itulah fitrah mereka segera menjawab panggilan wahyu.

Begitu kebenaran datang, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menerimanya.

Allah kemudian membimbing mereka dengan hidayah yang terus bertambah.

Sebagaimana telah dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya, menurut Imam Khamenei, hidayah ini tidak berhenti pada saat seseorang pertama kali beriman. Selama ketakwaannya terus bertambah, Allah akan terus menambah petunjuk, memperluas pemahaman, dan memperdalam bashirahnya.

Ketika Kepentingan Mengalahkan Kebenaran

Kelompok kedua adalah mereka yang tetap bertahan dalam kekafiran.

Menurut Imam Khamenei, masalah utama mereka bukan semata-mata karena tidak mengetahui kebenaran.

Persoalannya jauh lebih dalam.

Mereka bersikeras mempertahankan kebatilan karena kebenaran mengancam kepentingan yang telah mereka bangun.

Di sinilah hawa nafsu mulai memainkan peran.

Ketika wahyu bertabrakan dengan ambisi pribadi, sebagian orang memilih mempertahankan kepentingannya daripada menerima petunjuk Allah.

Baca Juga  Taqwa: Saat Kita Benar-Benar Memegang Kendali Hidup

Karena itu, penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan persoalan kurangnya bukti, melainkan karena adanya kepentingan yang ingin dipertahankan.

Kekuasaan yang Tak Mau Kehilangan Singgasana

Imam Khamenei memberikan contoh yang sangat jelas.

Bayangkan sebuah masyarakat yang selama bertahun-tahun dipimpin oleh sistem yang bertentangan dengan hukum Allah swt.

Kemudian datang seruan agar masyarakat tunduk kepada pemerintahan yang berlandaskan Al-Qur’an.

Siapa yang paling dahulu menentangnya?

Menurut Imam Khamenei, secara alami orang yang paling keras menolak adalah mereka yang kekuasaannya berdiri di atas sistem yang bertentangan dengan ajaran Allah swt.

Menerima kebenaran berarti mengakui bahwa fondasi kekuasaan mereka selama ini salah.

Itu berarti mereka harus kehilangan kedudukan, pengaruh, dan berbagai keuntungan yang telah dinikmati.

Karena itulah mereka memilih menolak kebenaran, bukan karena tidak memahaminya, melainkan karena konsekuensinya terlalu besar bagi kepentingan mereka.

Kesombongan Intelektual juga Bisa Menghalangi Hidayah

Imam Khamenei juga menunjukkan bentuk penolakan lain yang lebih halus.

Seseorang mungkin telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membela sebuah pemikiran.

Ia menulis, mengajar, berdebat, bahkan membangun reputasi berdasarkan ide tersebut.

Lalu datang kebenaran yang membuktikan bahwa seluruh pandangannya keliru.

Secara fitrah, ia seharusnya menerima kebenaran itu.

Namun hawa nafsu sering kali membuatnya enggan mengakui kesalahan.

Harga diri, gengsi intelektual, dan rasa malu untuk mengubah pendirian menjadi penghalang yang lebih kuat daripada kurangnya pengetahuan.

Akhirnya, ia mempertahankan kebatilan yang telah lama dibelanya.

Bukan karena bukti belum cukup, tetapi karena egonya tidak siap menerima kenyataan.

Kekafiran Berawal dari Penolakan Hati

Dari penjelasan Imam Khamenei tampak bahwa ayat keenam dan ketujuh Surah Al-Baqarah tidak sedang berbicara tentang orang yang belum pernah mengenal kebenaran.

Baca Juga  Jangan Biarkan Kesempatan Berlalu: Amanah Pelayanan yang Tak Datang Dua Kali

Ayat ini menggambarkan orang-orang yang ketika kebenaran datang justru memilih menolaknya.

Penolakan itu lahir karena hawa nafsu, kepentingan, kekuasaan, fanatisme, atau kesombongan yang membuat hati tidak lagi mau tunduk kepada petunjuk Allah swt.

Karena pilihan yang terus-menerus mereka ambil itulah akhirnya hati menjadi tertutup sehingga peringatan apa pun tidak lagi memberikan pengaruh.

Pada awal Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an tidak sekadar membagi manusia menjadi kelompok yang beriman dan tidak beriman. Imam Khamenei menunjukkan bahwa pembagian itu berakar pada sikap hati terhadap kebenaran.

Orang bertakwa menerima petunjuk karena menjaga fitrahnya tetap hidup.

Sebaliknya, orang-orang kafir yang digambarkan dalam ayat 6–7 memilih mempertahankan kepentingan dan hawa nafsu ketika berhadapan dengan wahyu. Dari pilihan itulah lahir penolakan yang berulang-ulang, hingga hati kehilangan kesiapan untuk menerima hidayah.

Bagikan:
Terkait
Komentar