KHAMENEI.ID – Di dunia yang semakin terhubung, batas-batas negara tampak semakin tipis. Barang bergerak melintasi benua, informasi berpindah dalam hitungan detik, gagasan melompat dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Hubungan internasional menjadi kebutuhan yang sulit dihindari. Tetapi justru karena dunia semakin terhubung, satu pertanyaan menjadi semakin penting: sampai di mana sebuah bangsa harus membuka diri tanpa kehilangan dirinya sendiri?
Imam Ali Khamenei qs menyebut salah satu kewajiban penting, terutama dalam situasi politik yang penuh persaingan, adalah menetapkan batas yang jelas dengan pihak yang dianggap sebagai lawan. Dalam bahasa Persia beliau menyebutnya Marzbandi: penegasan batas, mengetahui dengan jelas siapa diri kita, siapa pihak lain, dan di mana kepentingan masing-masing berdiri.
Gagasan itu berangkat dari Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Mumtahanah, Nabi Ibrahim as dan orang-orang yang bersamanya disebut sebagai teladan ketika mereka menyatakan kepada kaumnya bahwa mereka berlepas diri dari apa yang disembah selain Allah dan menegaskan perbedaan di antara kedua pihak.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ…
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…”
Bagi Imam Khamenei, ayat tersebut bukan sekadar kisah masa lalu. Al-Qur’an menyebutnya sebagai uswah hasanah, teladan yang dapat diikuti. Artinya, sebuah masyarakat perlu memiliki kejelasan batas: batas keyakinan, batas kepentingan, batas politik, dan batas yang menentukan identitasnya.
Namun di sinilah sering terjadi salah pengertian. Menetapkan batas bukan berarti menutup pintu.
Imam Khamenei memberikan perumpamaan yang sederhana: batas negara.
Sebuah negara memiliki perbatasan dengan negara lain. Tetapi keberadaan perbatasan tidak berarti tidak boleh ada orang yang melintas. Perdagangan tetap berlangsung. Diplomasi tetap berjalan. Warga dapat bepergian. Pemerintah dapat melakukan kerja sama. Yang membedakan adalah bahwa semua itu berlangsung secara teratur.
Siapa yang datang harus jelas. Untuk apa ia datang harus jelas. Bagaimana ia datang juga harus jelas. Begitu pula ketika warga sebuah negara pergi ke negara lain. Ada aturan, kepentingan, dan prosedur yang harus diperhatikan.
Begitulah, menurut Imam Ali Khamenei qs, seharusnya batas ideologis dan politik dipahami.
Batas bukan tembok yang membuat sebuah bangsa terisolasi. Batas adalah garis yang membuat hubungan tetap memiliki aturan.
Al-Qur’an bahkan memberikan contoh yang menarik melalui kisah Nabi Ibrahim. Setelah menegaskan sikapnya terhadap kaumnya, masih ada ruang bagi Ibrahim untuk menunjukkan kasih sayang kepada ayahnya. Ia mengatakan akan memohonkan ampun bagi sang ayah. Ini menunjukkan bahwa ketegasan prinsip tidak harus menghapus kemanusiaan.
Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki prinsip tanpa kehilangan belas kasih. Sebuah bangsa dapat mempertahankan kedaulatan tanpa harus memusuhi seluruh dunia.
Surah Al-Kafirun juga memberikan gambaran yang tegas tentang prinsip tersebut. Ayatnya menyatakan:
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.”
Pesannya bukan sekadar tentang perbedaan keyakinan. Dalam konteks yang lebih luas, ia menunjukkan pentingnya kejelasan identitas. Perbedaan tidak harus disamarkan agar hubungan tetap berlangsung.
Masalah muncul ketika batas mulai dianggap sebagai sesuatu yang harus dihapus.
Dalam politik, misalnya, independensi sebuah negara dapat perlahan kehilangan makna jika hubungan internasional tidak lagi dibangun atas kesadaran akan kepentingan nasional. Atas nama keterbukaan, globalisasi, atau menjadi bagian dari komunitas dunia, sebuah negara dapat tergoda untuk menganggap bahwa semakin larut ia dalam tatanan global, semakin modern dirinya.
Padahal menjadi bagian dari dunia tidak sama dengan kehilangan kemandirian.
Sebuah negara tentu membutuhkan hubungan dengan negara lain. Tidak ada masyarakat modern yang dapat hidup sepenuhnya sendirian. Ekonomi membutuhkan perdagangan, ilmu pengetahuan membutuhkan pertukaran, teknologi membutuhkan kerja sama, dan diplomasi membutuhkan komunikasi.
Tetapi pertanyaan pentingnya tetap sama: dengan siapa hubungan itu dibangun, untuk kepentingan apa, melalui cara apa, dan dengan batas seperti apa?
Inilah makna Marzbandi yang ditekankan Imam Khamenei. Bukan isolasi, melainkan kesadaran.
Hubungan tanpa batas yang jelas dapat berubah menjadi ketergantungan. Keterbukaan tanpa pertimbangan dapat berubah menjadi kehilangan identitas. Dan kerja sama tanpa kejelasan kepentingan dapat membuat sebuah negara sulit membedakan antara mitra dan pihak yang memiliki agenda berbeda.
Persoalan ini bahkan tidak hanya berlaku dalam hubungan luar negeri. Imam Ali Khamenei qs juga mengaitkannya dengan dinamika internal sebuah masyarakat. Batas-batas politik dan prinsip harus dipahami dengan jelas agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi kebingungan mengenai prinsip dasar.
Sebab sebuah bangsa yang tidak lagi tahu batas antara prinsip dan kompromi akan mudah kehilangan arah.
Pada akhirnya, dunia modern memang menuntut keterhubungan. Tidak mungkin sebuah negara hidup tanpa berinteraksi dengan negara lain. Tetapi keterhubungan bukan alasan untuk menghapus identitas.
Justru semakin luas hubungan yang dibangun, semakin matang pula kemampuan sebuah bangsa menetapkan batasnya.
Mungkin itulah pelajaran paling relevan dari gagasan Imam Ali Khamenei qs: sebuah bangsa tidak harus memilih antara membuka diri dan mempertahankan identitas. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melakukan keduanya dengan sadar.
Pintu boleh terbuka. Hubungan boleh terjalin. Kerja sama boleh berkembang. Tetapi garis batas harus tetap terlihat.
Sebab ketika sebuah bangsa tidak lagi mengetahui di mana batas dirinya, persoalannya bukan lagi sekadar soal hubungan dengan dunia. Ia mulai kehilangan kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri.






