Taqwa, Obat Dunia yang Terlalu Memikat

KHAMENEI.ID– Ada yang aneh dengan kehidupan modern. Semakin banyak yang dimiliki manusia, semakin sulit ia merasa cukup. Jabatan dikejar tanpa henti, harta dikumpulkan tanpa batas, dan pengakuan menjadi mata uang yang tak pernah kehilangan nilai. Dunia menawarkan begitu banyak kilau hingga manusia sering lupa bahwa tidak semua yang berkilau layak diperebutkan.

Dalam pandangan Islam, persoalan ini bukan sekadar soal moral, melainkan penyakit hati. Kecintaan berlebihan kepada dunia membuat seseorang kehilangan ukuran. Yang fana diperlakukan seolah-olah kekal, sementara yang abadi justru diletakkan di pinggir kehidupan. Karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s menawarkan sebuah terapi yang tidak dimulai dari mengurangi harta, melainkan membesarkan Tuhan di dalam hati.

Dalam Khutbah Muttaqin, beliau menggambarkan ciri orang-orang bertakwa dengan kalimat yang sangat singkat tetapi mengandung makna yang luas:

عَظُمَ الْخَالِقُ فِي أَنْفُسِهِمْ فَصَغُرَ مَا دُونَهُ فِي أَعْيُنِهِمْ

“Sang Pencipta menjadi begitu agung dalam jiwa mereka, sehingga segala sesuatu selain-Nya tampak kecil di mata mereka”

Di situlah letak rahasianya. Dunia tidak harus dimusuhi, tetapi ukurannya harus dikembalikan pada tempat yang semestinya. Ketika Allah memenuhi ruang batin seseorang, segala sesuatu yang sebelumnya tampak sangat besar; jabatan, kekayaan, pujian, bahkan kemewahan hidup, perlahan kehilangan pesonanya. Semua itu tetap ada, tetapi tidak lagi menguasai hati.

Namun jika ditarik lebih jauh, nasihat ini sesungguhnya sedang berbicara tentang cara manusia memandang realitas. Banyak orang terjerat dunia bukan karena dunia terlalu besar, melainkan karena Tuhan menjadi terlalu kecil dalam kesadarannya. Ketika orientasi hidup hanya berhenti pada keuntungan materi, hampir semua keputusan akhirnya diukur dengan angka, status, atau popularitas.

Taqwa mengubah cara pandang itu. Ia bukan sekadar kepatuhan menjalankan ritual, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak diperbudak oleh apa pun selain Allah. Orang bertakwa tetap bekerja, berdagang, memimpin, bahkan mengelola kekuasaan. Tetapi semua itu hanya menjadi amanah, bukan identitas yang menentukan harga dirinya.

Baca Juga  Imam Ali dan Seni Menahan Pedang: Ketika Kesabaran Menjadi Jalan Keadilan

Gagasan ini menemukan teladan paling nyata pada diri Imam Ali a.s sendiri. Beliau memimpin wilayah Islam yang sangat luas, tetapi kehidupan pribadinya jauh dari kemewahan. Sejarah menggambarkan beliau berdiri di atas batu, mengenakan pakaian wol yang sederhana dan telah usang, sementara alas kakinya dibuat dari pelepah atau kulit pohon kurma. Gambaran itu bukan romantisme tentang kemiskinan. Ia justru menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus melahirkan kemewahan.

Di tangan banyak orang, jabatan sering menjadi pintu menuju kenyamanan pribadi. Sebaliknya, pada Imam Ali a.s, kekuasaan justru menjadi beban pelayanan. Semakin besar amanah yang dipikul, semakin sederhana kehidupan yang dijalani. Karena itu, kata-kata beliau memiliki bobot moral yang tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman hidup.

Dalam konteks yang lebih luas, kesederhanaan bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah kebebasan batin. Orang yang bebas dari ketergantungan kepada dunia tidak mudah dibeli, tidak mudah diancam, dan tidak mudah tergoda. Ia mampu berkata benar meskipun kebenaran itu membuatnya kehilangan keuntungan.

Pelajaran ini tampak jelas dalam salah satu peristiwa Perang Shiffin. Di tengah situasi perang yang menentukan masa depan umat, seseorang datang kepada Imam Ali a.s dan bertanya tentang peristiwa Saqifah, sebuah persoalan politik yang telah berlalu. Imam Ali a.s menegurnya dengan keras karena pertanyaan itu disampaikan pada waktu yang tidak tepat. Beliau mengingatkan bahwa setiap pembicaraan memiliki tempat dan waktunya.

Namun yang menarik, setelah menegur, Imam Ali a.s tetap menjawab pertanyaan itu. Beliau tidak menolak hak orang tersebut untuk bertanya. Dengan singkat beliau menjelaskan bahwa peristiwa itu merupakan perebutan keistimewaan; ada orang-orang yang begitu ingin menggenggamnya, sementara yang lain memilih melepaskannya.

Baca Juga  Jalan Lurus Bukan Jalan Lunak: Memahami Makna Moderasi dalam Islam

Jawaban itu tidak hanya menjelaskan sejarah. Ia mengungkap penyakit yang terus berulang dalam kehidupan manusia: ambisi terhadap kekuasaan. Sejak dahulu hingga sekarang, perebutan kedudukan sering kali dibungkus dengan berbagai slogan yang tampak mulia. Padahal, di baliknya, yang bekerja adalah nafsu untuk memiliki lebih banyak pengaruh, lebih banyak kehormatan, dan lebih banyak kendali atas orang lain.

Imam Ali a.s tidak mengutuk kekuasaan sebagai sebuah institusi. Yang beliau kecam adalah ketika kekuasaan berubah menjadi tujuan hidup. Saat itulah manusia mulai mengorbankan kejujuran, persaudaraan, bahkan agama demi mempertahankan kursinya.

Fenomena semacam ini terasa begitu dekat dengan kehidupan sekarang. Di dunia politik, jabatan sering menjadi medan persaingan yang menghalalkan berbagai cara. Di lingkungan kerja, promosi kadang lebih penting daripada integritas. Bahkan di media sosial, manusia berlomba mengumpulkan perhatian seolah-olah jumlah pengikut adalah ukuran kemuliaan.

Semua itu sesungguhnya memiliki akar yang sama: hati yang terlalu terpikat kepada dunia.

Karena itu, Imam Ali a.s tidak menawarkan solusi yang bersifat administratif atau politik semata. Beliau mengajak manusia kembali kepada sumber persoalan, yaitu hati. Obatnya adalah memperbanyak mengingat Allah, memperdalam munajat, dan membangun hubungan yang hidup dengan Sang Pencipta. Ketika hati dipenuhi keagungan-Nya, dunia akan kembali ke ukuran yang sebenarnya.

Taqwa tidak membuat seseorang meninggalkan dunia. Taqwa membuat dunia kehilangan kemampuannya untuk memperbudak manusia. Orang bertaqwa tetap memiliki harta, tetapi hartanya tidak memiliki dirinya. Ia boleh memegang jabatan, tetapi jabatannya tidak menguasai jiwanya.

Barangkali di situlah letak kebebasan yang paling hakiki. Bukan ketika manusia memiliki segalanya, melainkan ketika ia tidak lagi diperbudak oleh apa yang dimilikinya. Sebab hanya hati yang dipenuhi kebesaran Allah yang mampu memandang seluruh gemerlap dunia sebagai sesuatu yang kecil, sementara kehidupan akhirat tetap menjadi tujuan yang paling besar.

Baca Juga  Mengapa Salat Kita Sering Terasa Hampa? Imam Ali Khamenei Menjelaskan Hakikat Menghadapkan Hati kepada Allah
Bagikan:
Terkait
Komentar