Iran Phobia di Hadapan Keteguhan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh krisis ekonomi atau gejolak politik, melainkan oleh kemampuan untuk tetap berdiri di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah. Tekanan itu jarang hadir dalam satu bentuk. Ia bisa muncul sebagai kesulitan hidup, kecemasan sosial, perang informasi, propaganda, bahkan upaya memecah kepercayaan masyarakat terhadap dirinya sendiri.

Dalam pandangan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengenai kerusuhan Iran pada 2022, peristiwa itu tidak dibaca sebagai ledakan spontan yang berdiri sendiri. Ia melihat adanya sebuah rancangan besar yang memanfaatkan hampir semua celah yang tersedia. Namun, di balik luasnya rancangan tersebut, menurutnya terdapat satu kekeliruan mendasar: perhitungan tentang daya tahan masyarakat Iran.

Di situlah persoalan menjadi menarik. Sebab dalam sejarah politik, sebuah strategi bisa tampak nyaris sempurna di atas kertas, tetapi tetap gagal karena salah membaca manusia.

Iran memasuki tahun-tahun itu dengan persoalan ekonomi yang nyata. Harga kebutuhan hidup, tekanan terhadap daya beli, dan kesulitan yang dirasakan masyarakat bukan sesuatu yang ditutup-tutupi. Justru kondisi seperti itulah yang, menurut Imam Ali Khamenei qs, dianggap sebagai pintu masuk paling efektif untuk mengguncang stabilitas. Ketika rakyat sedang letih, keresahan lebih mudah tumbuh. Ketika kebutuhan sehari-hari semakin berat, kepercayaan terhadap masa depan dapat retak.

Namun tekanan ekonomi hanyalah satu bagian dari gambaran yang lebih luas.

Di titik ini, narasi Imam Ali Khamenei bergerak ke medan lain: keamanan dan informasi. Ia menggambarkan adanya upaya infiltrasi, jaringan intelijen, serta kampanye media yang telah dibangun jauh sebelum kerusuhan pecah. Istilah “Iranophobia” atau ketakutan terhadap Iran, menurutnya, bukan muncul mendadak. Ia dibentuk melalui pemberitaan, pernyataan politik, dan pengulangan citra bahwa Iran adalah sumber ancaman bagi kawasan dan dunia.

Baca Juga  Jangan Biarkan Kesempatan Berlalu: Amanah Pelayanan yang Tak Datang Dua Kali

Dalam dunia modern, perang seperti ini tidak lagi membutuhkan tank untuk memasuki sebuah negara. Cukup dengan membentuk persepsi. Ketika sebuah bangsa terus-menerus digambarkan sebagai ancaman, setiap tindakannya akan dibaca dengan kecurigaan. Ketika citra itu sudah tertanam, fakta sering kali kalah cepat dibanding prasangka.

Namun jika ditarik lebih jauh, gagasan ini tidak berhenti pada Iran. Ia menyentuh soal hubungan antara dunia Islam dan kekuatan-kekuatan besar yang selama lebih dari satu abad terbiasa menentukan arah politik global.

Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs melihat adanya garis pemisah yang semakin tegas antara dunia Islam dan dunia yang ia sebut sebagai kekuatan dominasi, kolonialisme, dan imperialisme. Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar perbedaan kepentingan, melainkan kebiasaan panjang dari negara-negara kuat untuk memaksakan kehendaknya tanpa menghadapi penolakan berarti.

Kebiasaan itu, katanya, terganggu ketika ada sebuah negara yang memilih berdiri tegak dan secara terbuka menolak tunduk.

Iran, dengan posisi geografisnya yang strategis dan pengaruhnya di Timur Tengah, dianggap memainkan peran seperti itu. Bukan hanya melalui kebijakan politik, tetapi juga melalui pesan yang dikirimkannya kepada masyarakat Muslim lain: bahwa kekuatan besar dapat ditantang dan bahwa ketundukan bukan satu-satunya pilihan.

Di sinilah, menurut Imam Ali Khamenei, kemarahan negara-negara Barat terutama Amerika Serikat menemukan akarnya. Bukan semata-mata karena perbedaan pandangan, melainkan karena sejumlah rencana politik mereka di kawasan tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Contoh yang sering ia kemukakan adalah munculnya kelompok ISIS. Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs berulang kali menuduh bahwa kelompok tersebut dibentuk atau setidaknya didukung oleh Amerika Serikat, sebuah tuduhan yang menjadi bagian dari kritik politiknya terhadap kebijakan Washington di Timur Tengah. Ketika Iran kemudian terlibat membantu pemerintah-pemerintah di kawasan melawan ISIS, ia menilai hal itu membuat sejumlah pihak kehilangan ruang pengaruh.

Baca Juga  Iman yang Mengubah Peta Dunia: Mengapa Kekuatan Besar Tersendat di Asia Barat?

Dari sudut pandangnya, kegagalan berbagai rencana geopolitik itu kemudian melahirkan gelombang propaganda lain. Iran dituduh mencampuri urusan negara-negara tetangga. Pada saat yang sama, sentimen anti-Syiah juga terus dipupuk, seolah-olah konflik politik dapat dijelaskan semata-mata melalui perbedaan mazhab.

Padahal, tuduhan campur tangan itu tidak mencerminkan kenyataan. Yang terjadi justru hubungan politik dan keamanan yang dibangun atas permintaan pemerintah-pemerintah tertentu dalam menghadapi ancaman bersama.

Terlepas dari apakah seseorang sepenuhnya menerima pandangan tersebut atau tidak, ada satu pertanyaan yang tetap relevan bagi pembaca modern: mengapa perang informasi menjadi begitu penting dalam konflik antarnegara?

Jawabannya mungkin sederhana. Karena di zaman ketika masyarakat hidup di tengah arus berita tanpa henti, siapa yang berhasil membentuk cerita sering kali memperoleh keuntungan sebelum perdebatan dimulai. Citra dapat mendahului fakta. Ketakutan dapat dibangun sebelum ancaman benar-benar dirasakan. Dan opini publik dapat diarahkan melalui pengulangan yang sabar.

Itulah sebabnya sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kekuatan ekonomi dan militer. Ia juga membutuhkan kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap dirinya sendiri. Ketika masyarakat kehilangan keyakinan bahwa mereka memiliki masa depan bersama, tekanan dari luar menjadi jauh lebih mudah bekerja.

Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyebut bahwa “rencana musuh” pada 2022 cukup lengkap, tetapi “perhitungannya salah”. Kalimat itu, di luar konteks politik Iran, menyimpan pelajaran yang lebih luas. Dalam banyak peristiwa sejarah, kekuatan besar sering gagal bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena terlalu yakin bahwa manusia dapat diperlakukan seperti angka dalam sebuah strategi.

Padahal masyarakat memiliki ingatan, identitas, dan ikatan yang tidak selalu dapat dihitung. Mereka bisa mengeluh tentang ekonomi, marah terhadap pemerintah, dan kecewa terhadap keadaan, tetapi itu tidak otomatis berarti mereka akan menerima setiap agenda yang datang dari luar.

Baca Juga  Menjadi Perhiasan Ahlul Bait: Ketika Dakwah Dimulai dari Akhlak

Di situlah keteguhan sebuah bangsa diuji. Bukan ketika tidak ada masalah, melainkan ketika masalah datang bertubi-tubi dan masyarakat tetap berusaha membedakan antara kritik yang lahir dari kepedulian dan tekanan yang memanfaatkan kelemahan.

Sejarah jarang bergerak sesuai rencana siapa pun. Strategi yang tampak sempurna bisa runtuh karena satu kesalahan membaca watak masyarakat. Sebaliknya, bangsa yang memiliki banyak kekurangan kadang justru bertahan karena masih menyimpan keyakinan bahwa nasibnya tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh orang lain.

Barangkali itulah yang dimaksud dengan keteguhan: bukan merasa tidak pernah lemah, melainkan tetap berdiri meski tahu ada banyak celah. Sebab dalam politik maupun kehidupan, yang sering menentukan bukan seberapa lengkap sebuah rencana, melainkan seberapa tepat seseorang memahami manusia yang menjadi sasaran rencana itu.

Bagikan:
Terkait
Komentar