Belajar Makna Isar dari Fatimah Az-Zahra: Ketika Cinta Dibuktikan dengan Pengorbanan

KHAMENEI.ID– Mencintai seseorang selalu terdengar mudah. Yang sulit adalah menapaki jalan hidupnya. Barangkali di sinilah letak perbedaan antara kekaguman dan keteladanan. Kekaguman berhenti pada pujian, sedangkan keteladanan menuntut keberanian untuk berubah.

Nama Fatimah Az-Zahra a.s sering disebut dengan penuh hormat. Kita mengenangnya sebagai putri Rasulullah, perempuan mulia, penghulu para wanita surga. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kecintaan itu telah mengubah cara kita hidup? Ataukah ia hanya menjadi ungkapan yang indah di lisan, tetapi tak pernah menjelma menjadi tindakan?

Salah satu sifat paling menonjol dari Fatimah a.s adalah itsar mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Dalam dunia yang semakin didorong oleh persaingan dan kepentingan pribadi, nilai ini terasa asing. Kita diajarkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin, mempertahankan apa yang dimiliki, dan memastikan diri sendiri aman terlebih dahulu. Fatimah a.s justru menunjukkan arah yang berlawanan.

Al-Qur’an mengabadikan semangat itu dalam firman-Nya:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri berada dalam kesulitan” (QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk bersedekah. Ia berbicara tentang kemenangan manusia atas ego. Seseorang rela mengurangi miliknya, bahkan menahan lapar, agar orang lain dapat bertahan hidup. Dalam pandangan Al-Qur’an, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan kerakusan diri sendiri.

Semangat itulah yang menjelma dalam kehidupan Fatimah Az-Zahra a.s. Sejarah mencatat sebuah peristiwa yang kemudian diabadikan dalam Surah Al-Insan. Selama tiga hari berturut-turut, keluarga kecil Fatimah a.s bersama Imam Ali a.s, Hasan a.s, Husain a.s, dan pembantu mereka berpuasa karena nazar. Ketika waktu berbuka tiba, makanan yang hanya cukup untuk mereka justru diberikan kepada seorang miskin, seorang yatim, dan seorang tawanan yang datang bergantian meminta pertolongan.

Baca Juga  Masa Depan Dunia Islam dan Gagasan Perlawanan: Mengapa Umat Harus Menentukan Nasibnya Sendiri?

Allah kemudian mengabadikan peristiwa itu:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ۝ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Mereka memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap rida Allah; kami tidak menghendaki balasan maupun ucapan terima kasih dari kalian” (QS. Al-Insan: 8–9)

Yang mengagumkan bukan sekadar mereka memberi. Mereka memberi ketika mereka sendiri membutuhkan. Mereka tidak menunggu berlimpah untuk menjadi dermawan. Mereka tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menunda kebaikan.

Di titik ini, pengorbanan Fatimah a.s tidak lagi menjadi kisah sejarah, melainkan cermin bagi kehidupan hari ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang dimiliki. Anehnya, semakin banyak yang dimiliki, semakin sulit pula seseorang berbagi. Kelimpahan tidak selalu melahirkan kemurahan hati. Sebaliknya, hati yang lapang justru sering lahir dari mereka yang hidup sederhana.

Namun, pengorbanan Fatimah a.s tidak berhenti pada persoalan materi. Ia juga mengajarkan keberanian membela kebenaran. Meski kondisi fisiknya lemah setelah wafatnya Rasulullah saw, ia tetap mendatangi masjid untuk menyampaikan pembelaan terhadap hak yang diyakininya. Baginya, kebenaran tidak boleh dikorbankan hanya karena keadaan sedang tidak berpihak.

Keberanian itu sejalan dengan pesan Imam Ali a.s:

لَا تَسْتَوْحِشُوا فِي طَرِيقِ الْهُدَى لِقِلَّةِ أَهْلِهِ

“Jangan merasa gentar menempuh jalan petunjuk hanya karena sedikit orang yang melaluinya”

Kalimat pendek ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Tidak sedikit orang yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan karena takut dikucilkan. Ada pula yang mengikuti arus, bukan karena yakin, tetapi karena tidak ingin berbeda dari mayoritas. Fatimah a.s menunjukkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah jumlah pengikutnya, melainkan kesetiaan kepada nilai yang benar.

Baca Juga  Bashirah dan Kesabaran: Dua Senjata Umat Melawan Propaganda dan Tekanan Musuh

Keteladanan lainnya tampak dalam hubungan spiritualnya dengan Allah. Riwayat menyebutkan bahwa tidak ada perempuan yang lebih tekun beribadah daripada Fatimah a.s. Ia berdiri begitu lama dalam shalat hingga kedua kakinya membengkak.

Kesaksian Hasan al-Bashri tentang dirinya sangat terkenal:

مَا كَانَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَعْبَدُ مِنْ فَاطِمَةَ، كَانَتْ تَقُومُ حَتَّى تَوَرَّمَ قَدَمَاهَا

“Tidak ada seorang pun di umat ini yang lebih tekun beribadah daripada Fatimah. Ia berdiri dalam salat hingga kedua kakinya membengkak”

Ibadah dalam diri Fatimah a.s bukanlah pelarian dari kehidupan sosial. Justru dari kedekatannya kepada Allah lahir keberanian, kepedulian, dan ketulusan melayani sesama. Spiritualitas tidak membuatnya menjauh dari persoalan masyarakat, melainkan menguatkannya untuk hadir di tengah persoalan itu.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah tantangan bagi siapa pun yang mengaku mencintai Fatimah Az-Zahra a.s. Cinta tidak cukup diwujudkan melalui peringatan, pujian, atau air mata. Cinta harus tampak dalam keberanian membela yang lemah, dalam kesediaan berbagi ketika diri sendiri belum sepenuhnya berkecukupan, dalam keteguhan beribadah, dan dalam kesetiaan pada kebenaran meski harus berjalan sendirian.

Barangkali kritik paling tajam justru tertuju kepada diri kita sendiri. Betapa mudah mengaku sebagai pengikut Fatimah a.s, tetapi betapa sulit meneladani pengorbanannya. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita bukan hanya enggan mengurangi hak kita demi orang lain, melainkan tanpa sadar mengambil hak mereka yang lebih lemah. Padahal, isar tidak pernah tumbuh dari kelimpahan harta, melainkan dari kelapangan hati.

Pada akhirnya, warisan terbesar Fatimah Az-Zahra a.s bukanlah kisah heroik yang hanya dikenang dalam buku sejarah. Warisan itu adalah cara hidup. Sebuah ajakan agar manusia tidak diperbudak oleh kepentingan dirinya sendiri. Sebab, di saat dunia sibuk mengajarkan cara memiliki lebih banyak, Fatimah a.s mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sulit: bagaimana menjadi manusia yang rela memberi lebih banyak. Di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling nyata.

Baca Juga  Perempuan Dijual sebagai Komoditas? Mendalami Kritik Imam Ali Khamenei terhadap Peradaban Barat
Bagikan:
Terkait
Komentar