KHAMENEI.ID – Di zaman media sosial, sebuah potongan ayat sering kali lebih cepat menyebar daripada penjelasan utuhnya. Satu kalimat dikutip, dipisahkan dari konteksnya, lalu dijadikan dasar untuk membangun sebuah kesimpulan besar. Tidak jarang, kesimpulan itu justru bertentangan dengan pesan Al-Qur’an secara keseluruhan.
Salah satu contohnya adalah perdebatan mengenai pluralisme agama. Sebagian orang berpendapat bahwa Islam mengajarkan semua agama sama benarnya. Mereka mengutip ayat yang menyebut orang-orang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in, lalu menyimpulkan bahwa siapa pun bebas memilih agama apa pun karena semuanya dianggap sama di hadapan Allah swt.
Menurut Imam Khamenei, cara membaca seperti ini merupakan contoh memahami Al-Qur’an secara sepotong-sepotong.
Menghormati Semua Nabi Tidak Sama dengan Menganggap Semua Agama Setara
Imam Khamenei menjelaskan bahwa Islam memang memerintahkan umatnya untuk beriman kepada seluruh nabi Allah. Seorang Muslim tidak boleh hanya menerima Nabi Muhammad saw lalu mengingkari Nabi Musa, Nabi Isa, atau para nabi lainnya.
Al-Qur’an sendiri memerintahkan kaum Muslim untuk berkata:
“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, serta apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, juga kepada Musa, Isa, dan seluruh nabi dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 136)
Pengakuan terhadap seluruh nabi merupakan bagian dari akidah Islam. Namun, menurut Imam Khamenei, sebagian orang berhenti sampai di sini. Mereka mengabaikan ayat-ayat berikutnya yang justru menjelaskan standar hidayah menurut Al-Qur’an.
Setelah menyebut kewajiban beriman kepada seluruh rasul, Al-Qur’an melanjutkan:
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ
“Jika mereka beriman sebagaimana kamu telah beriman, maka sungguh mereka telah memperoleh petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan.” (QS. Al-Baqarah: 137)
Bagi Imam Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengajarkan relativisme agama. Islam menghormati seluruh nabi, tetapi tetap meyakini bahwa petunjuk yang sempurna berada pada keimanan sebagaimana yang diajarkan Islam.
Karena itu, menghormati agama lain tidak berarti menghapus keyakinan terhadap kebenaran ajaran Islam sendiri.
Mengkritik Pluralisme Bukan Berarti Membenci Pemeluk Agama Lain
Menurut Imam Khamenei, kesalahan lain yang sering muncul adalah menganggap bahwa penolakan terhadap pluralisme identik dengan permusuhan terhadap orang lain.
Padahal Al-Qur’an justru mengajarkan keseimbangan antara ketegasan akidah dan keluhuran akhlak.
Nabi Muhammad ﷺ digambarkan sebagai sosok yang penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman. Al-Qur’an menyebut beliau sebagai:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Terhadap orang-orang beriman beliau sangat penyantun dan penyayang.” (QS. At-Taubah: 128)
Di sisi lain, Al-Qur’an juga menggambarkan karakter masyarakat beriman:
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Bersikap tegas terhadap pihak yang memusuhi mereka dan penuh kasih sayang di antara sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Imam Khamenei menegaskan bahwa ketegasan yang dimaksud bukanlah kebencian buta ataupun kezaliman. Ketegasan berarti tidak membiarkan identitas, keyakinan, dan prinsip-prinsip Islam ditembus oleh tekanan, intimidasi, atau dominasi pihak yang memusuhi umat.
Beliau mengibaratkannya seperti benteng pertahanan. Sebuah benteng tidak boleh rapuh sehingga siapa pun dapat masuk dan meruntuhkannya dari dalam.
Persatuan Lebih Penting daripada Sekat Buatan
Menariknya, setelah berbicara tentang ketegasan terhadap ancaman eksternal, Imam Khamenei justru mengalihkan perhatian kepada persoalan internal umat Islam.
Beliau mengingatkan bahwa sesama Muslim tidak boleh saling bermusuhan hanya karena identitas, kebangsaan, ataupun batas-batas geografis.
Menurut beliau, nama negara, perbedaan etnis, bahkan garis-garis yang digambar di atas peta politik modern tidak boleh berubah menjadi tembok yang memisahkan hati kaum Muslim.
Umat Islam diperintahkan untuk saling mengasihi, saling mempercayai, dan memelihara persaudaraan. Sebab kekuatan Islam tidak hanya terletak pada benar atau tidaknya sebuah keyakinan, tetapi juga pada kemampuan umatnya membangun persatuan.







