Dari Konsumen Menjadi Produsen Ilmu

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang bertahun-tahun hidup dari pengetahuan orang lain. Ia membaca buku yang ditulis di negeri lain, memakai teori yang dirumuskan di universitas asing, mengimpor teknologi yang tak sepenuhnya ia pahami, lalu menyebut dirinya berkembang. Pengetahuan datang seperti barang jadi: diterima, digunakan, dikagumi. Tetapi ada pertanyaan yang pelan-pelan menjadi semakin mengganggu: sampai kapan sebuah masyarakat hanya menjadi konsumen ilmu?

Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam pandangan  Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs tentang pembenahan perguruan tinggi dan dunia akademik. Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah universitas memiliki banyak buku, laboratorium, profesor, atau mahasiswa. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah universitas mampu melahirkan pengetahuan.

Belajar dari orang lain, tentu saja, bukan sesuatu yang memalukan. Justru sebaliknya. Peradaban ilmu selalu tumbuh dari proses saling belajar. Tidak ada pengetahuan besar yang lahir sepenuhnya dalam ruang hampa. Kita mengambil apa yang telah ditemukan orang lain, mempelajarinya, mengujinya, lalu mengembangkannya. Menjadi murid bukan kehinaan.

Tetapi menjadi murid berbeda dari menjadi peniru.

Di titik inilah kritik terhadap budaya akademik menjadi penting. Belajar berarti menyerap pengetahuan dengan pikiran yang aktif. Meniru berarti menerima kesimpulan orang lain seolah-olah ia telah menjadi kebenaran yang selesai. Yang pertama melahirkan kemungkinan baru; yang kedua membuat pikiran berhenti bekerja.

Sebuah universitas yang hanya mengajarkan teori dari luar negeri, tanpa keberanian mengujinya terhadap pengalaman masyarakat sendiri, pada akhirnya hanya menjadi gudang pengetahuan. Ia menyimpan banyak jawaban, tetapi mungkin tidak pernah belajar mengajukan pertanyaan sendiri.

Ilmu pengetahuan bukan benda mati yang cukup dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia hidup dalam pikiran manusia. Karena itu, pengetahuan yang benar-benar memiliki daya tahan adalah pengetahuan yang dipahami, dipertanyakan, diuji, dan pada akhirnya lahir dari kerja intelektual yang mandiri.

Baca Juga  Menjaga Istiqomah di Tengah Arus Penyimpangan

Masalah ini terasa lebih rumit ketika menyentuh ilmu sosial dan humaniora. Dalam ilmu-ilmu eksperimental, sebuah teori dapat diuji melalui laboratorium. Kesalahan tertentu dapat ditemukan melalui percobaan berulang. Namun dalam ilmu manusia, persoalannya jauh lebih berlapis. Ekonomi, manajemen, filsafat, politik, dan berbagai cabang ilmu sosial dipenuhi perdebatan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kita dapat melihatnya dalam ekonomi. Berbagai mazhab menawarkan penjelasan yang saling bertentangan tentang pasar, kemiskinan, distribusi kekayaan, atau peran negara. Dalam manajemen, teori datang dan pergi mengikuti perubahan zaman. Dalam filsafat, pertanyaan yang sama dapat melahirkan jawaban yang bertolak belakang selama berabad-abad.

Lalu, mengapa ilmu manusia harus diperlakukan seolah-olah seluruh jawabannya telah final?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika muncul gagasan tentang pengembangan ilmu-ilmu sosial yang berangkat dari nilai dan pengalaman masyarakat sendiri. Perdebatan semacam itu semestinya tidak segera ditutup hanya dengan mengatakan: “Itu sudah ilmu.” Justru karena ia ilmu, ia harus terbuka untuk dipikirkan kembali.

Namun berpikir kembali bukan berarti menolak semua yang berasal dari luar. Sikap demikian hanya akan melahirkan bentuk lain dari ketertutupan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk belajar tanpa kehilangan daya kritis; menerima tanpa menjadi pengikut; membuka pintu tanpa menyerahkan seluruh rumah.

Dalam konteks yang lebih luas, ketergantungan pada ilmu orang lain juga menyimpan persoalan yang bersifat strategis. Pengetahuan dapat diperlakukan seperti komoditas. Negara yang menguasai pengetahuan menentukan apa yang diproduksi, bagaimana ia digunakan, bahkan siapa yang boleh mengaksesnya. Mereka yang hanya membeli pengetahuan harus menerima apa yang tersedia.

Dan apa yang tersedia belum tentu selalu yang terbaik.

Pengetahuan yang diterima dari luar bisa saja tidak sepenuhnya ditransfer. Bisa jadi bagian terpentingnya tidak diberikan. Bisa pula yang sampai ke tangan kita adalah pengetahuan yang sudah tertinggal dari perkembangan mutakhir. Ketergantungan semacam ini membuat sebuah bangsa terus berada beberapa langkah di belakang.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag.19): Ketika Hati Terkunci, Hukum Alam Tetap Berjalan di Bawah Kehendak Tuhan

Sejarah menunjukkan bahwa ketergantungan intelektual bukan persoalan abstrak. Ia dapat berubah menjadi ketergantungan ekonomi, teknologi, bahkan politik. Bangsa yang tidak memproduksi pengetahuan sendiri akan lebih mudah menerima dunia sebagaimana dunia itu didefinisikan oleh orang lain.

Karena itu, membangun tradisi produksi ilmu bukan sekadar proyek akademik. Ia adalah proyek kemandirian.

Universitas dalam pengertian ini bukan hanya tempat mahasiswa memperoleh gelar. Ia semestinya menjadi ruang tempat kegelisahan intelektual tumbuh. Tempat pertanyaan yang belum memiliki jawaban justru mendapat penghormatan. Tempat seorang peneliti berani mengatakan bahwa teori yang selama ini dianggap mapan mungkin tidak cukup menjelaskan kenyataan di hadapannya.

Di situlah ilmu mulai menemukan kehidupan.

Kita mungkin tetap perlu membaca buku dari Harvard, Cambridge, Tokyo, Berlin, atau kota-kota lain yang menjadi pusat pengetahuan dunia. Kita tetap perlu belajar dari pengalaman masyarakat yang lebih dahulu menemukan sesuatu. Tetapi setelah membaca dan belajar, ada pekerjaan yang tidak boleh diserahkan kepada siapa pun: berpikir dengan kepala sendiri.

Sebab bangsa yang terus-menerus mengonsumsi ilmu orang lain pada akhirnya hanya mengenal dunia melalui mata orang lain. Ia tahu banyak hal, tetapi tidak selalu memahami dirinya sendiri.

Dan mungkin di situlah ukuran paling sederhana dari sebuah perguruan tinggi yang benar-benar hidup: bukan seberapa banyak pengetahuan yang mampu ia wariskan, melainkan seberapa berani ia melahirkan pengetahuan baru.

Sebab kemajuan tidak dimulai ketika kita berhenti belajar dari orang lain. Kemajuan dimulai ketika, setelah belajar, kita berani menghasilkan sesuatu yang kelak juga dapat dipelajari oleh orang lain.

Bagikan:
Terkait
Komentar