Persatuan Islam Dalam Ketaatan Kepada Rasulullah saw

KHAMENEI.ID– Ada jenis perpecahan yang tidak dimulai dari perang. Ia tumbuh perlahan dari prasangka, fanatisme, dan keyakinan bahwa kelompok sendiri adalah satu-satunya pemilik kebenaran. Mula-mula hanya perbedaan pendapat. Lalu menjadi jarak. Jarak berubah menjadi kecurigaan. Dan pada akhirnya, sesama bagian dari satu umat mulai saling memandang sebagai lawan.

Al-Quran mengingatkan bahaya itu dengan bahasa yang tegas:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat itu tidak berbicara tentang persatuan sebagai slogan. Ia berbicara tentang penyelamatan. Sebuah masyarakat yang pernah berada di ambang permusuhan dapat berubah menjadi saudara ketika menemukan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kelompoknya.

Di titik ini, persatuan Islam tidak tepat jika hanya dipahami sebagai taktik politik atau strategi menghadapi musuh dari luar. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: identitas umat itu sendiri. Persatuan bukan aksesori yang boleh dipakai ketika diperlukan lalu dilepas ketika kepentingan berubah. Ia merupakan bagian dari cara umat mengenali dirinya.

Karena itu Al-Quran memberikan peringatan keras terhadap mereka yang memecah agama dan berubah menjadi kelompok-kelompok yang saling membanggakan posisi masing-masing.

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, sedikit pun engkau (Nabi Muhammad) tidak bertanggung jawab terhadap mereka (engkau tidak termasuk bagian dari mereka)” (QS. Al- An’am: 159)

Baca Juga  Mengapa Imam Khamenei Menyebut Amerika sebagai Simbol "Jahiliah Modern"?

Demikian salah satu peringatan Al-Quran.

Masalahnya bukan semata-mata keberadaan perbedaan. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan berubah menjadi identitas yang menutup pintu persaudaraan. Ketika seseorang lebih sibuk mempertahankan nama kelompok daripada mencari kebenaran bersama, agama yang semestinya menyatukan justru dapat menjadi alasan untuk saling menjauh.

Dalam konteks yang lebih luas, Al-Quran bahkan menggambarkan pertikaian internal sebagai bentuk penderitaan yang dapat menimpa sebuah masyarakat. Allah berfirman:

أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

“Atau Dia menjadikan kalian berkelompok-kelompok dan membuat sebagian kalian merasakan keganasan sebagian yang lain” (QS Al- An’am: 65)

Bayangkan sebuah umat yang tidak membutuhkan musuh dari luar karena sebagian energinya telah habis untuk melawan sesamanya. Tidak ada pasukan asing yang perlu masuk ketika masyarakat sudah kehilangan kemampuan untuk saling mempercayai. Tidak ada benteng yang perlu dihancurkan ketika persaudaraan telah runtuh dari dalam.

Itulah sebabnya persatuan memiliki dimensi moral yang jauh lebih dalam daripada sekadar kesepakatan politik.

Namun bagaimana persatuan itu dibangun?

Gagasan pentingnya adalah bahwa persatuan tidak pertama-tama lahir dari keseragaman. Para nabi dan Rasul membangun masyarakat dengan menemukan titik yang dapat menyatukan manusia, lalu membawa mereka secara bertahap menuju kesatuan yang lebih dalam. Dalam Islam, titik tersebut berkaitan dengan ketaatan kepada Rasulullah saw.

Di sinilah makna ketaatan kepada Rasulullah saw menjadi penting. Umat tidak disatukan karena semua orang memiliki latar belakang, kepentingan, atau pendapat yang sama. Mereka disatukan karena memiliki rujukan yang lebih tinggi daripada ego kelompok masing-masing.

Persatuan yang sejati dengan demikian bukan sekadar duduk dalam satu ruangan atau mengucapkan slogan yang sama. Ia adalah kesediaan untuk menempatkan diri dalam sebuah identitas bersama. Identitas itu tidak dibangun oleh nama, suku, sejarah keluarga, atau afiliasi sosial, melainkan oleh hubungan manusia dengan jalan yang dipimpin Rasulullah saw.

Baca Juga  Ketika Doa Imam Ali Dikabulkan: Awal Derita Umat yang Kehilangan Pemimpinnya

Al-Quran menggambarkan bahwa pada akhirnya manusia akan dipanggil berdasarkan imam atau pemimpin yang mereka ikuti:

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

“Pada hari ketika Kami memanggil setiap manusia bersama imamnya” (QS. Al- Isra’: 71)

Gambaran ini menarik karena mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan dikenali bukan semata-mata melalui label-label duniawi. Nama, status, dan berbagai identitas sosial yang selama ini kita banggakan dapat kehilangan maknanya. Yang tersisa adalah siapa yang kita ikuti dan nilai apa yang membentuk diri kita.

Di sinilah gagasan persatuan kemudian bersentuhan dengan istilah taqrib, atau pendekatan. Persatuan dan pendekatan bukan hal yang persis sama. Pendekatan merupakan proses mendekatkan yang berjauhan; persatuan adalah keadaan ketika jarak itu tidak lagi menjadi penghalang bagi terbentuknya identitas bersama.

Maka pekerjaan membangun persatuan Islam bukan pekerjaan sehari. Ia menuntut kesabaran untuk mengurangi prasangka, keberanian mengoreksi fanatisme, dan kemauan melihat umat sebagai rumah yang lebih luas daripada kelompok sendiri.

Di zaman ketika perbedaan dapat disebarkan dalam hitungan detik melalui layar telepon, persoalan ini menjadi semakin mendesak. Satu kalimat dapat mengubah perbedaan menjadi permusuhan. Satu potongan video dapat menyalakan kemarahan. Algoritma bahkan sering membuat manusia hanya bertemu dengan suara yang memperkuat keyakinannya sendiri.

Karena itu, pertanyaan tentang persatuan umat sesungguhnya bukan hanya pertanyaan bagi para pemimpin agama. Ia adalah pertanyaan bagi setiap orang yang mengaku bagian dari umat.

Barangkali persatuan dimulai dari sesuatu yang sederhana: kesediaan untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk kehilangan saudara. Sebab sebuah umat tidak runtuh ketika pendapat-pendapatnya berbeda. Ia mulai runtuh ketika perbedaan membuat mereka lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang semestinya mereka jaga bersama.

Baca Juga  Keberanian Imam Ali: Tetap Menegakkan Kebenaran Meski Sendirian

Dan mungkin di situlah makna ketaatan kepada Rasulullah Muhammad saw menemukan kedalaman yang lain: bukan sekadar mengikuti ajaran dengan kata-kata, melainkan belajar kembali menjadi umat yang hatinya dapat dipertautkan oleh satu arah.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah umat kuat bukan karena semua orang berpikir dengan cara yang sama. Yang membuatnya kuat adalah ketika mereka tetap mampu berjalan bersama meski tidak selalu melihat dunia dari sudut yang sama.

Bagikan:
Terkait
Komentar