Perhitungan Musuh yang Berulang Kali Keliru

KHAMENEI.ID– Ada kekuatan yang tampak besar karena suara yang ditimbulkannya. Ia memiliki teknologi, uang, senjata, pengaruh, dan jaringan kekuasaan yang membuat orang lain gentar sebelum pertarungan dimulai. Namun sejarah berkali-kali memperlihatkan sesuatu yang ganjil: kekuatan sebesar itu tidak selalu pandai membaca masa depan.

Ada saat ketika mereka merasa sedang memberikan pukulan terakhir. Mereka menyusun perhitungan, mengukur kelemahan lawan, menentukan titik serang, lalu menunggu hasilnya. Tetapi justru dari arah yang tidak mereka duga, pukulan berbalik datang.

Gagasan semacam itu muncul dalam pidato Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, ketika berbicara kepada para komandan dan personel Angkatan Udara serta pertahanan udara. Ia mengingatkan bahwa ketika kekuatan yang dianggap benar berhadapan dengan kekuatan yang dianggap zalim, ukuran kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan yang terlihat dari luar. Ada sesuatu yang lebih sulit dihitung: daya tahan, keyakinan, kehadiran, dan kemampuan untuk tetap bergerak ketika lawan mengira semuanya telah selesai.

Di sinilah sejarah revolusi, menurut gagasan tersebut, menjadi semacam pelajaran tentang kesalahan perhitungan.

Sejak awal Revolusi Iran, kekuatan-kekuatan yang berseberangan dengannya berkali-kali mengira bahwa pukulan yang mereka berikan akan menjadi pukulan terakhir. Tetapi prediksi itu tidak selalu menjadi kenyataan. Apa yang tampak sebagai akhir justru menjadi awal dari babak berikutnya.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalannya bukan hanya tentang perang atau revolusi. Ia menyentuh satu hukum kehidupan yang lebih sederhana: manusia sering terlalu percaya pada apa yang dapat dihitung, sementara kehidupan kerap bergerak melalui sesuatu yang tidak masuk dalam tabel perhitungan.

Al-Quran menggambarkan keadaan semacam itu melalui firman Allah:

فَاَتاهُمُ اللهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا

Baca Juga  Ketika Janji Tuhan Terasa Terlambat

“Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka perhitungkan” (QS. Al-Hasyr: 2)

Ayat itu mengandung ironi yang dalam. Manusia membuat kalkulasi berdasarkan apa yang ia ketahui. Ia mengumpulkan informasi, menghitung kekuatan, memperkirakan kemungkinan, lalu menyimpulkan masa depan. Tetapi ada batas yang tidak bisa ditembus oleh kalkulator manusia: sesuatu yang belum terjadi.

Karena itu, kekuatan yang merasa paling mampu membaca keadaan justru bisa terjebak oleh keyakinannya sendiri. Ia mengira masa depan akan mengikuti garis yang telah digambarnya. Padahal sejarah tidak pernah menandatangani kontrak dengan manusia.

Gagasan ini kemudian menyentuh makna jihad dalam pengertian yang lebih luas. Jihad tidak selalu berarti pertempuran bersenjata. Dalam setiap zaman, medan perjuangan dapat berubah. Ada jihad militer, tetapi ada pula jihad ilmiah, penelitian, pendidikan, pembangunan, dan kerja intelektual. Setiap zaman melahirkan tantangannya sendiri, dan setiap tantangan menuntut bentuk perjuangan yang berbeda.

Di titik ini, kemenangan tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai kemampuan mengalahkan lawan dalam sebuah benturan terbuka. Ia juga berarti kemampuan untuk tetap hadir.

Sebuah masyarakat yang berhenti bergerak akan mudah dipatahkan bahkan tanpa diserang. Sebaliknya, masyarakat yang terus belajar, meneliti, bekerja, memperbaiki kesalahan, dan menjaga harapan memiliki daya hidup yang jauh lebih sulit dihitung oleh lawannya.

Sebab musuh mungkin dapat memperkirakan jumlah senjata. Ia mungkin dapat menghitung cadangan ekonomi, luas wilayah, jumlah personel, bahkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh sebuah serangan. Tetapi bagaimana menghitung keberanian seseorang yang memutuskan untuk tetap berdiri? Bagaimana mengukur daya tahan sebuah bangsa yang menolak menyerah? Bagaimana memasukkan harapan ke dalam sebuah kalkulasi strategis?

Barangkali justru di sanalah letak kelemahan setiap kekuatan yang terlalu percaya pada perhitungan.

Baca Juga  Sabar Revolusioner: Pelajaran Imam Ali tentang Menahan Diri demi Kemenangan yang Lebih Besar

Pidato tersebut juga membawa gagasan itu ke Amerika Serikat. Menurut Syahid Ali Khamenei qs, kekuatan besar itu sedang mengalami pelemahan dari arah yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Ia bahkan menunjuk perilaku para pemimpin Amerika sebagai salah satu faktor yang, dalam pandangannya, justru menggerus citra negaranya sendiri.

Terlepas dari bagaimana seseorang menilai kritik politik tersebut, ada satu pelajaran yang lebih luas dari pernyataan itu. Sebuah kekuatan tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Kadang-kadang ia melemah karena keputusan-keputusannya sendiri. Kadang sebuah bangunan besar tidak perlu dihantam palu dari luar karena retaknya telah tumbuh dari dalam.

Dalam kehidupan politik maupun kehidupan pribadi, ini adalah paradoks yang sering luput dari perhatian. Kita sibuk mencari siapa yang akan menjatuhkan kita, sementara tidak menyadari bahwa kesombongan, keliru membaca keadaan, kehilangan daya belajar, dan terlalu percaya diri dapat menjadi musuh yang jauh lebih berbahaya.

Karena itu, pesan paling penting dari gagasan tersebut barangkali bukan tentang siapa yang akan menang dalam pertarungan geopolitik. Ia tentang pentingnya tetap hadir dan tetap hidup.

Kehadiran berarti tidak menyerahkan ruang kepada keputusasaan. Keaktifan berarti tidak membiarkan keadaan menentukan seluruh nasib kita. Harapan berarti bekerja meskipun hasil belum terlihat.

Sebab sejarah sering berubah bukan ketika seseorang merasa paling kuat, melainkan ketika orang-orang yang dianggap lemah menolak berhenti.

Di sanalah perhitungan musuh mulai kehilangan kepastian. Mereka mungkin menghitung hari, tetapi tidak menghitung ketabahan. Mereka mungkin menghitung kerugian, tetapi tidak menghitung harapan. Mereka mungkin menghitung kekuatan hari ini, tetapi gagal melihat manusia yang sedang tumbuh untuk menghadapi hari esok.

Pada akhirnya, mungkin kemenangan bukan pertama-tama milik mereka yang memiliki perhitungan paling sempurna. Kemenangan lebih sering berpihak kepada mereka yang, ketika semua orang menyangka permainan telah berakhir, masih mempunyai alasan untuk berdiri dan melangkah.

Baca Juga  Cinta yang Menghidupkan: Mengapa Ahlul Bait Tidak Hanya Dikenang, tetapi Dicintai

Dan selama langkah itu belum berhenti, sejarah pun belum selesai.

Bagikan:
Terkait
Komentar