KHAMENEI.ID– Ada kekalahan yang dikenang sebagai kemenangan, dan ada kemenangan yang justru dilupakan sejarah. Karbala termasuk yang pertama. Di padang tandus itu, Husain bin Ali a.s kehilangan hampir seluruh orang yang berdiri di sisinya. Keluarganya menjadi tawanan. Darah tertumpah. Tubuh-tubuh bergelimpangan. Secara kasatmata, tidak banyak yang tersisa selain duka.
Namun sejarah kemudian bekerja dengan cara yang ganjil. Nama Husain a.s tidak hilang bersama mereka yang gugur. Justru dari tragedi itulah lahir sesuatu yang jauh lebih panjang daripada umur sebuah pemerintahan: kehormatan.
Pertanyaannya, kehormatan macam apa?
Dalam pembacaan atas gerakan Husain a.s, kemuliaan, kehormatan, atau martabat yang menolak kehinaan, tidak hanya tampak pada saat pedang berhadapan dengan pedang. Ia juga hadir dalam keberanian melawan kekuasaan yang menyimpang, dalam kemenangan manusia atas kelemahan dirinya sendiri, dan bahkan dalam cara seseorang menghadapi penderitaan.
Karbala, karena itu, bukan semata cerita tentang kematian. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia memilih untuk tetap tegak ketika dunia memintanya berlutut.
Husain a.s berdiri berhadapan dengan sebuah pemerintahan yang, dalam pandangan moralnya, telah mengubah makna kepemimpinan. Imamah, dalam pengertian ideal Islam, bukan sekadar posisi untuk memerintah. Ia adalah kepemimpinan yang menuntun manusia menuju kebaikan: menolong yang tersesat, menguatkan yang lemah, menjaga hak mereka yang berada dalam perjalanan.
Kekuasaan yang hanya menuntut kepatuhan adalah sesuatu yang lain.
Di titik ini, persoalan Karbala menjadi lebih luas daripada pertarungan antara dua tokoh sejarah. Ia menyentuh pertanyaan yang selalu hidup: kapan kekuasaan berhenti menjadi amanah dan berubah menjadi penaklukan?
Nama sebuah jabatan tidak banyak berarti. Seorang penguasa bisa disebut raja, presiden, pemimpin, atau apa saja. Jika kekuasaan digunakan untuk memaksakan kepentingan sendiri, mengabaikan hak manusia, dan menjadikan rakyat sekadar alat, hakikatnya tetap sama: dominasi.
Karena itu, tuntutan agar Husain a.s memberikan baiat bukan perkara administratif. Baiat berarti pengakuan. Ia diminta bukan sekadar untuk diam, melainkan memberikan legitimasi kepada kekuasaan yang dianggapnya telah menyimpang.
Di situlah jawaban Husain a.s menjadi tegas.
مثلی لا یبایع مثله
“orang seperti aku tidak mungkin memberikan baiat kepada orang seperti dia”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat persoalan besar: apakah seseorang boleh mempertahankan martabatnya dengan mengatakan tidak ketika seluruh kekuasaan menghendaki jawaban ya?
Dan Husain a.s memilih berkata tidak.
Dan penolakannya menemukan ungkapan yang kemudian hidup melampaui zamannya:
هَيْهَاتَ مِنَّا الذِّلَّةُ
“Jauh sekali kehinaan dari kami”
Kehormatan, dalam pengertian ini, bukan kesombongan. Ia justru lahir dari kesediaan membayar harga untuk sebuah prinsip. Seseorang belum tentu mulia karena mampu berbicara tentang kebenaran. Kemuliaan baru memperoleh bobot ketika ia bersedia berdiri di belakang ucapannya, bahkan ketika berdiri itu berarti kehilangan keselamatan.
Itulah sebabnya Karbala tidak mudah dibaca sebagai kekalahan.
Namun ada medan lain yang sering luput ketika Karbala hanya dibaca sebagai perlawanan politik. Medan itu tidak berada di padang perang, melainkan di dalam dada manusia.
Banyak orang mungkin berani melawan musuh yang terlihat. Tetapi tidak semua orang mampu melawan ketakutan, ambisi, kenyamanan, cinta berlebihan kepada dunia, atau keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri.
Di sinilah para pengikut Husain a.s memperlihatkan bentuk keberanian yang berbeda.
Ada ibu yang merelakan anaknya memasuki medan kematian. Ada pemuda yang meninggalkan kesenangan hidup. Ada orang-orang tua seperti Habib bin Muzahir dan Muslim bin Ausajah yang meninggalkan kenyamanan usia senja. Ada pula Hur bin Yazid al-Riyahi, seorang tokoh yang sebelumnya berada di pihak lawan, tetapi pada saat menentukan memilih meninggalkan kedudukannya dan bergabung dengan Husain a.s.
Mereka semua menghadapi perang yang sama: perang melawan diri sendiri.
Sebab kadang-kadang musuh terbesar bukanlah orang yang berdiri di seberang, melainkan suara kecil dalam diri yang berkata: selamatkan dirimu; jangan mengambil risiko; tunggu sampai keadaan lebih aman.
Karbala menunjukkan bahwa manusia bisa menang atas suara itu.
Dalam bahasa yang lebih sederhana,kemuliaan bermula dari kemampuan untuk tidak diperbudak oleh kelemahan sendiri. Dunia boleh menawarkan kenyamanan, tetapi manusia masih memiliki kebebasan untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada kenyamanan.
Dan di sinilah warisan Karbala menjadi panjang.
Mereka yang gugur jumlahnya sedikit. Tetapi teladan yang mereka tinggalkan menjadi besar. Dari satu generasi ke generasi lain, orang belajar bahwa keberanian bukan hanya kemampuan mengangkat senjata. Keberanian juga berarti mengalahkan ketakutan, menundukkan hawa nafsu, dan memilih yang benar ketika pilihan itu tidak menguntungkan diri sendiri.
Barangkali bagian paling sulit dari Karbala adalah adegan terakhirnya. Anak-anak terbunuh. Para sahabat gugur. Keluarga Husain a.s mengalami penderitaan dan penawanan. Air mata, darah, dan kehilangan memenuhi kisah itu.
Tetapi bahkan di tengah tragedi, kehormatan tidak lenyap.
Justru di sana ia menjadi semakin terang.
Sebab penderitaan tidak dengan sendirinya membuat seseorang hina. Yang menentukan adalah bagaimana manusia berdiri di hadapan penderitaan itu. Ada orang yang memiliki segalanya tetapi hidup dalam kehinaan. Ada pula orang yang kehilangan hampir segalanya, tetapi meninggalkan nama yang tidak bisa ditundukkan oleh zaman.
Karbala memperlihatkan paradoks tersebut.
Tubuh dapat dikalahkan, tetapi prinsip tidak selalu bisa dibunuh. Sebuah kelompok dapat dihancurkan, tetapi pesan yang mereka pertahankan bisa tumbuh menjadi kesadaran ribuan orang setelahnya.
Itulah sebabnya kehormatan Imam Husain a.s bukan terutama terletak pada hasil pertempuran. Ia terletak pada keteguhan untuk tidak menukar kebenaran dengan keselamatan.
Dalam dunia modern, pertanyaan itu masih mengintai. Kekuasaan terus berganti nama. Tekanan sosial berubah bentuk. Kepentingan ekonomi semakin rumit. Orang mungkin tidak lagi diminta secara terbuka untuk memberikan baiat kepada seorang penguasa, tetapi setiap zaman memiliki bentuk tekanannya sendiri: diam ketika semestinya berbicara, membenarkan ketika semestinya menolak, atau menukar prinsip dengan keuntungan.
Di tengah semua itu, Karbala mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus tidak nyaman: berapa harga yang bersedia kita bayar agar tidak kehilangan martabat?
Mungkin itulah alasan tragedi tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Karbala bukan hanya peristiwa yang terjadi di masa lampau. Ia adalah cermin. Setiap zaman akan melihat wajahnya sendiri di sana. Dan setiap manusia, pada suatu titik dalam hidupnya, akan berhadapan dengan pilihan yang serupa: menyelamatkan diri dengan menunduk, atau tetap berdiri meski tahu harga yang harus dibayar.
Husain a.s memilih berdiri.
Karena itu, setelah berabad-abad, yang tersisa dari Karbala bukan hanya kesedihan. Ada sesuatu yang lebih keras kepala daripada kesedihan: sebuah martabat yang menolak mati.







