KHAMENEI.ID– Ada saat ketika kebohongan tidak datang sebagai kebohongan. Ia mengenakan pakaian kebenaran, meminjam bahasa keadilan, lalu berjalan di tengah kerumunan tanpa mudah dikenali. Justru karena itulah ia berbahaya. Yang membuat sebuah masyarakat rapuh bukan semata-mata hadirnya orang yang terang-terangan memusuhi, melainkan ketika batas antara kawan dan lawan, antara kebenaran dan kepalsuan, sengaja dibuat kabur.
Dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian untuk berbicara. Yang dibutuhkan adalah kejernihan.
Gagasan tentang bahaya ruang yang keruh itu telah lama dikenal dalam khazanah politik dan moral Islam. Imam Ali a.s pernah mengingatkan bahwa awal munculnya fitnah adalah hawa nafsu yang diikuti dan ketetapan-ketetapan yang dibuat-buat. Namun ada bagian lain dari ucapannya yang terasa semakin relevan bagi kehidupan politik modern: seandainya kebatilan datang dalam keadaan murni, tanpa bercampur dengan kebenaran, orang yang mencari kebenaran tidak akan kesulitan mengenalinya.
Sebaliknya, seandainya kebenaran hadir tanpa dicampuri kebatilan, para penentangnya pun akan kesulitan menuduhnya sebagai sesuatu yang lain.
Masalah bermula ketika keduanya dicampur.
Dari campuran itulah lahir apa yang disebut fitnah: bukan sekadar kekacauan, melainkan keadaan ketika orang-orang yang ingin membela kebenaran pun mulai kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.
Di titik ini, fitnah bukan lagi hanya soal siapa yang berbohong. Ia menjadi persoalan tentang kabut informasi. Sebagian kebenaran ditempelkan pada sebagian kebatilan. Sebuah tuntutan yang masuk akal bisa berjalan berdampingan dengan agenda yang tersembunyi. Slogan yang terdengar luhur dapat dipakai untuk membawa kepentingan yang sama sekali berbeda. Akibatnya, masyarakat tidak lagi berhadapan dengan dua kutub yang jelas. Mereka berhadapan dengan wilayah abu-abu yang membuat penilaian moral menjadi samar.
Dalam ruang semacam itu, musuh bahkan tidak perlu menyembunyikan dirinya dengan sempurna. Cukup membuat orang lain sibuk bertengkar tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Itulah mengapa kejernihan ruang publik menjadi penting. Sebuah masyarakat yang sehat membutuhkan kemampuan untuk melihat siapa mengatakan apa, untuk kepentingan apa, dan pada akhirnya berdiri di sisi mana.
Bukan berarti setiap perbedaan pandangan harus dicurigai sebagai pengkhianatan. Justru sebaliknya. Perbedaan politik hanya dapat berlangsung sehat ketika batas-batas persoalan pokok tetap terang. Orang boleh berbeda dalam cara memandang pemerintahan, ekonomi, kebijakan publik, bahkan masa depan negaranya. Tetapi ketika kekuatan-kekuatan yang secara terbuka menindas manusia memasuki arena dan memberikan dukungan kepada salah satu pihak, masyarakat berhak mengetahui sikap pihak tersebut.
Di sinilah pentingnya ketegasan mereka yang memiliki pengaruh.
Orang biasa mungkin hanya menyampaikan pendapat kepada lingkaran kecil. Tetapi tokoh publik, pemimpin politik, intelektual, pemuka agama, jurnalis, dan siapa pun yang memiliki banyak pendengar memikul tanggung jawab yang lebih besar. Kata-kata mereka dapat menerangi keadaan, tetapi juga dapat memperpanjang kabut.
Karena itu, dalam situasi penuh fitnah, ucapan yang sengaja dibuat mendua bukanlah selalu tanda kebijaksanaan. Ada kalanya ia justru menjadi bentuk penghindaran dari tanggung jawab.
Namun persoalannya tidak berhenti pada keberanian menyebut siapa kawan dan siapa lawan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita masih memiliki kesediaan untuk membedakan kebenaran dari sesuatu yang sekadar tampak benar?
Zaman sekarang memperlihatkan betapa mudahnya sebuah potongan informasi dipisahkan dari konteksnya, lalu dipasang berdampingan dengan informasi lain yang sebenarnya bertentangan. Media sosial mempercepat proses itu. Satu kalimat benar dapat digunakan untuk mengantar kesimpulan yang salah. Sebuah gambar nyata dapat diberi narasi palsu. Pernyataan yang masuk akal dapat dipelintir menjadi pembenaran bagi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Kabut tidak selalu dibuat oleh kebohongan. Kadang-kadang ia dibuat oleh terlalu banyak kebenaran yang diletakkan dalam susunan yang menyesatkan.
Dalam keadaan seperti itu, kejernihan bukan berarti berbicara lebih keras. Kejernihan berarti bersedia memberikan batas. Apa yang kita dukung? Apa yang kita tolak? Nilai apa yang tidak dapat ditukar demi keuntungan politik sesaat? Dan ketika sebuah kekuatan yang jelas-jelas menindas manusia memberikan dukungan, apakah kita cukup berani mengatakan bahwa dukungan itu tidak dapat menjadi alasan untuk mengubah prinsip?
Pertanyaan semacam ini berlaku kepada semua kelompok. Ia tidak mengenal warna politik.
Sebab fitnah selalu menemukan celah ketika manusia lebih sibuk mempertahankan kelompoknya daripada mempertahankan kebenaran. Pada saat itu, seseorang dapat mengetahui bahwa sebuah pernyataan keliru, tetapi tetap membelanya karena keluar dari mulut orang yang ia sukai. Sebaliknya, ia dapat menolak sebuah gagasan yang benar hanya karena datang dari pihak yang ia benci.
Di situlah kabut mencapai bentuknya yang paling sempurna: bukan ketika manusia tidak memiliki informasi, melainkan ketika mereka kehilangan kemampuan untuk menilai.
Mungkin karena itu, seruan untuk memperjelas kebenaran sesungguhnya bukan sekadar nasihat politik. Ia adalah tuntutan moral. Dalam masyarakat yang dipenuhi suara, manusia membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan berbicara. Ia membutuhkan keberanian untuk berbicara dengan jelas dan tanggung jawab untuk mendengarkan dengan jernih.
Sebab kebatilan yang datang dengan wajah kebatilan mudah dikenali. Yang jauh lebih berbahaya adalah kebatilan yang membawa sepotong kebenaran di tangannya.
Dan ketika keduanya telah bercampur, tugas kita bukan menambah suara ke dalam kebisingan. Tugas kita adalah menyingkap kabut, perlahan, jujur, dan tanpa takut melihat bahwa kadang-kadang kebenaran tidak berdiri di pihak yang paling ramai.







