KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah janji terdengar lebih mustahil daripada kenyataan yang sedang dihadapi. Seorang ibu melihat bayinya dihanyutkan ke sungai karena ancaman kekuasaan. Sebuah bangsa hidup di bawah pendudukan dan perang. Sekelompok manusia yang jumlahnya kecil berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Dalam keadaan seperti itu, janji bukan sekadar kata-kata. Ia menjadi sesuatu yang harus dipertahankan ketika kenyataan justru mengajarkan sebaliknya.
Kisah Nabi Musa a.s menyimpan gambaran tentang itu. Ketika bayi Musa a.s berada dalam bahaya, Tuhan berfirman kepada ibunya:
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya termasuk para rasul” (QS. Al- Qashash: 7)
Ada dua janji di sana. Yang pertama sederhana, bahkan sangat manusiawi: Musa akan kembali kepada ibunya. Yang kedua jauh lebih besar: anak itu kelak akan menjadi seorang utusan Tuhan.
Janji pertama kemudian benar-benar terjadi. Musa a.s yang sempat berada di tangan keluarga Firaun dikembalikan kepada ibunya. Al-Quran menggambarkan peristiwa itu dengan kalimat yang menyentuh:
فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
“Lalu Kami mengembalikannya kepada ibunya agar hatinya menjadi tenteram, tidak bersedih, dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah itu benar” (QS. Al-Qashahs: 13)
Di titik ini terdapat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kisah tentang seorang anak yang kembali kepada ibunya. Kembalinya Musa a.s menjadi bukti bagi janji yang lain. Seolah-olah Tuhan memperlihatkan satu bagian dari masa depan terlebih dahulu agar manusia mempunyai alasan untuk mempercayai bagian yang belum terlihat.
Janji pertama telah menjadi kenyataan. Karena itu, janji kedua tidak lagi berdiri sendirian sebagai sesuatu yang hanya dibayangkan.
Logika semacam ini penting dalam membaca sejarah manusia. Masa depan hampir selalu datang tanpa membawa kepastian. Orang yang berjuang tidak pernah memperoleh seluruh peta perjalanan. Ia hanya melihat beberapa tanda bahwa jalan itu mungkin dilalui.
Dalam sebuah pertemuan dengan Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menggunakan kisah tersebut untuk berbicara tentang perjuangan Palestina. Ia menghubungkan pengalaman kelompok yang dianggapnya sebagai fi’ah qalilah kelompok yang sedikit dengan ayat Al-Quran tentang kemenangan kelompok kecil atas kelompok yang lebih besar:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ
“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah” (QS. Al-Baqarah: 249)
Pesan yang hendak dibangun dari kisah itu bukan semata-mata soal jumlah. Dalam sejarah, jumlah memang penting, tetapi tidak selalu menentukan arah akhir sebuah pertarungan. Ada kekuatan lain yang sering luput dihitung: ketahanan, keyakinan, kesediaan menanggung kehilangan, dan kemampuan mempertahankan tujuan ketika hasil belum terlihat.
Namun di sinilah persoalan menjadi lebih rumit bagi manusia modern.
Kita hidup dalam zaman yang terbiasa dengan hasil cepat. Sebuah pesan dikirim dan dalam hitungan detik memperoleh balasan. Barang dipesan hari ini, tiba esok hari. Keputusan bisnis diukur dari laporan mingguan. Bahkan perubahan hidup sering diharapkan berlangsung dalam hitungan bulan. Kita menjadi kurang sabar terhadap sesuatu yang membutuhkan waktu.
Padahal sebagian janji terbesar dalam kehidupan manusia bekerja dengan cara yang berbeda. Ia meminta seseorang bertahan cukup lama untuk menyaksikan tanda pertama dari apa yang diyakininya.
Ibu Musa a.s tidak mengetahui bagaimana anaknya akan kembali. Ia hanya menerima perintah dan janji. Ia tidak diberi seluruh penjelasan tentang masa depan. Ia harus berjalan di antara kecemasan dan kepercayaan.
Begitu pula sejarah tidak pernah memberi manusia jaminan bahwa perjuangan akan berakhir sesuai keinginannya. Yang tersedia hanyalah kemungkinan, keyakinan, dan keberanian untuk terus bergerak.
Karena itu, ayat tentang kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar tidak seharusnya dibaca sekadar sebagai romantisme kemenangan pihak yang lemah. Ia juga mengandung pertanyaan yang lebih sulit: apa yang membuat manusia tetap bertahan ketika kemenangan belum tampak?
Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan membedakan antara kenyataan hari ini dan makna dari perjalanan yang lebih panjang.
Kekalahan sementara tidak selalu berarti kegagalan. Kesendirian tidak selalu berarti kesalahan. Jumlah yang sedikit tidak otomatis berarti tidak berdaya. Sejarah penuh dengan perubahan yang pada mulanya tampak mustahil karena manusia hanya melihat keadaan pada satu titik waktu.
Dalam konteks Palestina, gagasan itu kemudian digunakan untuk membaca konflik yang panjang dan penuh korban sebagai bagian dari sebuah perjuangan yang diyakini belum selesai. Tetapi justru karena sejarah itu nyata, dengan manusia nyata yang kehilangan rumah, keluarga, dan kehidupan, pembicaraan tentang “janji” tidak boleh menghapus beratnya penderitaan yang berlangsung di lapangan.
Di sinilah kisah Musa a.s kembali memperoleh relevansinya. Janji Tuhan dalam kisah itu tidak menghapus ketakutan seorang ibu. Ia tidak membuat sungai menjadi aman. Ia tidak membuat Firaun kehilangan kekuasaan dalam satu malam. Yang berubah lebih dahulu adalah kemampuan manusia untuk bertahan di tengah ketidakpastian.
Mungkin itu sebabnya sebuah janji kadang bukan terutama tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Ia adalah kekuatan yang membuat seseorang sanggup melewati hari ini.
Ada janji yang sudah terpenuhi, tetapi ada pula yang masih menunggu waktu. Di antara keduanya terdapat ruang panjang bernama kesabaran. Di sanalah manusia diuji: apakah ia hanya percaya ketika hasil sudah berada di depan mata, atau tetap mampu menjaga keyakinannya ketika hasil itu belum terlihat?
Pada akhirnya, sejarah bukan hanya milik mereka yang menang. Ia juga milik mereka yang bertahan cukup lama untuk mengubah arti dari apa yang semula dianggap mustahil.
Dan mungkin, seperti ibu Musa a.s, kita tidak selalu perlu mengetahui seluruh jalan. Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah satu tanda bahwa sebuah janji pernah dipenuhi. Dari sana, manusia belajar mempercayai langkah berikutnya.







