KHAMENEI.ID – Selama puluhan tahun, Amerika Serikat diposisikan sebagai pusat gravitasi politik dunia. Kekuatan ekonomi, dominasi militer, jaringan aliansi, hingga pengaruh budaya menjadikannya simbol dari tatanan internasional pasca-Perang Dingin. Namun, benarkah dominasi itu akan bertahan selamanya?
Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengemukakan pandangan yang berbeda dari narasi arus utama. Menurutnya, dunia sedang menyaksikan sebuah perubahan besar: Amerika bukan sedang bergerak menuju puncak kejayaan baru, melainkan memasuki fase kemunduran yang berlangsung perlahan tetapi nyata. Bagi beliau, ini bukan slogan politik, melainkan pembacaan terhadap indikator-indikator yang dapat diamati.
Pandangan tersebut semakin relevan ketika dunia menghadapi perang berkepanjangan, krisis ekonomi global, dan perubahan konfigurasi geopolitik yang sulit diprediksi.
Kemunduran yang Tidak Hanya Bersifat Ekonomi
Dalam pidatonya pada Maret 2025, Imam Khamenei menegaskan bahwa Amerika berada di jalur pelemahan, bukan penguatan. Pelemahan itu, menurutnya, tidak hanya menyentuh sektor ekonomi, tetapi juga merambah pengaruh politik internasional, stabilitas politik domestik, hingga kohesi sosial di dalam negeri.
Yang menarik, beliau tidak menggambarkan kemunduran itu sebagai peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Sebaliknya, ia merupakan proses historis yang berlangsung bertahap. Sebuah negara adidaya dapat tetap memiliki kekuatan besar, tetapi secara bersamaan kehilangan daya pengaruh, legitimasi, dan kemampuan mengendalikan dinamika global seperti sebelumnya.
Dalam pandangan beliau, Amerika hari ini tidak lagi memiliki posisi yang sama seperti dua atau tiga dekade silam. Bahkan, menurutnya, kekuatan tersebut tidak akan kembali pada tingkat dominasi yang pernah dinikmati pada akhir abad ke-20.
Intervensi yang Berbalik Menjadi Beban
Salah satu faktor utama yang mempercepat kemunduran itu, menurut Imam Ali Khamenei, adalah kebijakan intervensi Amerika di berbagai kawasan dunia.
Selama bertahun-tahun, Washington terlibat dalam berbagai konflik internasional dengan dalih menjaga stabilitas, demokrasi, atau keamanan global. Namun, dari sudut pandang beliau, hasil yang tampak justru berbeda. Di banyak tempat, intervensi tersebut meninggalkan jejak perang, kehancuran infrastruktur, pengungsian massal, hingga tragedi kemanusiaan.
Lebih jauh lagi, beliau menilai bahwa meskipun sebagian elite politik dunia masih mempertahankan hubungan erat dengan Amerika, persepsi masyarakat global justru bergerak ke arah yang berlawanan. Semakin banyak bangsa yang memandang kebijakan luar negeri Amerika dengan skeptisisme, bahkan penolakan.
Dalam perspektif ini, kehilangan simpati publik internasional menjadi salah satu indikator penting berkurangnya pengaruh sebuah kekuatan besar.
Menariknya, Imam Ali Khamenei tidak hanya mendasarkan analisisnya pada sudut pandang Iran. Dalam salah satu pidatonya tahun 2023, beliau menyatakan bahwa banyak indikator kemunduran Amerika justru diakui oleh kalangan Barat sendiri.
Salah satu indikator paling nyata adalah ekonomi. Selama puluhan tahun, kekuatan ekonomi menjadi fondasi utama dominasi Amerika di panggung global. Namun, meningkatnya utang publik, ketidakstabilan pasar, kompetisi dengan kekuatan-kekuatan ekonomi baru, hingga perubahan arsitektur perdagangan internasional menunjukkan bahwa fondasi tersebut tidak lagi sekuat masa lalu.
Bagi Imam Ali Khamenei, ketika indikator-indikator utama sebuah negara mulai mengalami penurunan secara bersamaan, maka pelemahan itu bukan lagi sekadar prediksi, melainkan sebuah realitas yang sedang berlangsung.
Gaza dan Lahirnya Era De-Amerikanisasi
Dalam analisis Imam Khamenei, perubahan besar itu juga terlihat jelas di kawasan Asia Barat. Ia menyebut bahwa arah politik regional kini bergerak menuju apa yang disebutnya sebagai de-Americanization—berkurangnya dominasi dan pengaruh Amerika dalam menentukan dinamika kawasan.
Beliau memandang Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 sebagai salah satu peristiwa yang mempercepat perubahan tersebut. Meski operasi itu secara langsung ditujukan kepada rezim Zionis, menurutnya dampaknya jauh melampaui konflik Palestina-Israel.
Peristiwa itu, kata beliau, mengubah peta kebijakan Amerika di kawasan. Negara-negara regional mulai semakin aktif membangun konfigurasi politik yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Washington sebagai pusat pengambilan keputusan.
Dalam pembacaan Imam Ali Khamenei, perubahan geopolitik sering kali tidak dimulai dari deklarasi resmi, melainkan dari bergesernya keseimbangan pengaruh yang terjadi secara bertahap.
Gaza sebagai Cermin Krisis Tatanan Dunia
Bagi Imam Khamenei, tragedi kemanusiaan di Gaza juga memperlihatkan sisi lain dari krisis global: rapuhnya tatanan internasional yang selama ini diklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Beliau melihat paradoks yang sulit diabaikan. Di satu sisi, dunia berbicara tentang hukum internasional dan perlindungan warga sipil. Di sisi lain, korban terbesar justru adalah anak-anak, perempuan, rumah sakit, tenaga medis, dan kawasan permukiman.
Fenomena ini, menurut beliau, memperlihatkan adanya standar ganda dalam politik internasional. Ketika kekuatan-kekuatan besar memberikan dukungan kepada pihak yang dituduh melakukan pelanggaran kemanusiaan, maka kredibilitas sistem global ikut dipertanyakan.
Karena itu, tragedi Gaza bukan hanya persoalan regional, melainkan cermin dari krisis moral dalam tata kelola dunia modern.
Membaca Masa Depan Dunia Multipolar
Pandangan Imam Khamenei pada akhirnya bukan sekadar berbicara tentang naik atau turunnya satu negara. Yang lebih penting adalah perubahan struktur kekuasaan dunia.
Dominasi tunggal, menurut pembacaannya, perlahan memberi tempat kepada konfigurasi yang lebih beragam. Kekuatan-kekuatan baru bermunculan, pengaruh regional semakin menguat, sementara legitimasi negara adidaya semakin sering dipertanyakan.
Apakah proses ini akan melahirkan dunia yang lebih damai atau justru lebih penuh persaingan masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun satu hal yang ditekankan Imam Ali Khamenei adalah bahwa sejarah tidak pernah berhenti pada satu titik. Tidak ada kekuatan yang kebal terhadap hukum perubahan.
Bagi beliau, membaca dinamika global harus dilakukan dengan melihat fakta-fakta yang berkembang, bukan semata-mata menerima narasi yang telah lama mapan. Dalam kerangka itulah, kemunduran Amerika dipandang bukan sebagai harapan politik, melainkan sebagai bagian dari perubahan sejarah yang sedang berlangsung—perubahan yang akan menentukan wajah tatanan dunia pada dekade-dekade mendatang.







