Mengapa Dunia Islam Terus Dilanda Konflik? Ketika Persatuan Paling Dasar Pun Diabaikan

KHAMENEI.ID – Di tengah luasnya wilayah dunia Islam, besarnya jumlah penduduk Muslim, dan melimpahnya sumber daya yang dimiliki negeri-negeri Islam, sebuah pertanyaan besar terus mengemuka: mengapa umat Islam masih menghadapi begitu banyak konflik, peperangan, dan penderitaan?

Dalam pandangan Sayyid Ali Khamenei qs, jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang sangat mendasar: dunia Islam belum mampu mewujudkan tingkat persatuan yang paling sederhana sekalipun.

Persatuan, dalam pengertian yang paling minimal, bukanlah menyatukan seluruh mazhab menjadi satu, bukan pula menghapus perbedaan budaya dan pandangan politik. Tingkatan paling rendah dari persatuan adalah hal yang lebih sederhana: negara-negara Islam tidak saling menyerang, tidak saling merugikan, dan mampu berdiri bersama ketika menghadapi ancaman bersama.

Namun justru pada tingkatan paling dasar inilah dunia Islam sering kali gagal.

Palestina: Luka Besar Dunia Islam

Imam Khamenei menyebut persoalan Palestina sebagai salah satu tragedi terbesar yang dialami dunia Islam pada era modern.

Menurut beliau, masalah Palestina bukan sekadar sengketa politik atau perebutan wilayah. Ia berawal dari terusirnya sebuah bangsa dari tanah airnya sendiri, kemudian datang pihak lain yang menetap dan menguasai wilayah itu, sementara penduduk asli hidup dalam tekanan yang berkepanjangan.

Apa yang terjadi di Gaza—kehancuran infrastruktur, penderitaan warga sipil, dan berbagai krisis kemanusiaan—serta situasi di Tepi Barat, dipandang sebagai gambaran dari persoalan yang lebih luas: lemahnya solidaritas dan persatuan dunia Islam.

Pertanyaan yang diajukan Imam Khamenei sederhana tetapi mendasar: bagaimana mungkin tragedi sebesar itu terus berlangsung jika negara-negara Islam memiliki tingkat persatuan minimal, yakni berdiri bersama menghadapi ancaman bersama?

Menurutnya, apabila dunia Islam berpegang pada prinsip dasar persatuan tersebut, banyak peristiwa tragis mungkin tidak akan terjadi, atau setidaknya pihak yang melakukan penindasan tidak akan merasa leluasa untuk bertindak.

Baca Juga  Merawat Batas, Menjaga Kedaulatan: Mengapa Sebuah Bangsa Tak Boleh Kehilangan Identitas?

Perpecahan dan Harga yang Harus Dibayar

Palestina bukan satu-satunya contoh.

Konflik berkepanjangan di Yaman, ketidakstabilan di berbagai kawasan Afrika Utara, serta berbagai peperangan dan pertikaian di dunia Islam menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar akibat perpecahan.

Dalam pandangan Imam Khamenei, banyak krisis itu muncul karena umat Islam belum memberikan perhatian yang cukup terhadap batas minimal persatuan yang diajarkan Islam: tidak saling merugikan dan tidak membiarkan permusuhan internal membuka ruang bagi campur tangan pihak lain.

Perpecahan menjadikan dunia Islam mudah dipengaruhi, mudah diadu domba, dan sulit membangun kekuatan bersama.

Karena itu, persatuan bukan hanya sebuah cita-cita moral, melainkan juga kebutuhan strategis.

Tanggung Jawab Para Pemikir dan Tokoh Umat

Imam Khamenei menekankan bahwa upaya membangun persatuan memerlukan peran para pemikir, ulama, cendekiawan, dan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia Islam.

Dunia Islam, menurutnya, memiliki banyak sosok yang berilmu dan memiliki pengaruh sosial. Mereka diharapkan tidak sekadar berbicara tentang persatuan sebagai slogan, tetapi menjadikannya sebagai agenda nyata yang terus diperjuangkan.

Pada saat yang sama, generasi muda dan masyarakat Muslim pada umumnya sebenarnya memiliki kecenderungan untuk mendukung persatuan. Namun terdapat pula berbagai kekuatan yang terus berupaya menanamkan perpecahan, membangkitkan prasangka, dan memperbesar perbedaan.

Karena itu, menjaga persatuan bukan hanya soal membangun hubungan, tetapi juga tentang menghadapi segala upaya yang mendorong perpecahan.

Umat Islam di Bawah Tekanan

Dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara, dari Timur Tengah hingga Myanmar, komunitas-komunitas Muslim menghadapi berbagai bentuk tekanan dan tantangan.

Di berbagai kawasan, umat Islam menghadapi konflik, kemiskinan, diskriminasi, perang, atau krisis kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, persatuan tidak lagi sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata untuk menghadapi persoalan bersama.

Baca Juga  Sebuah Bangsa Tidak Boleh Lupa pada Prinsipnya

Persatuan yang dimaksud bukanlah meniadakan perbedaan. Dunia Islam tetap terdiri atas berbagai mazhab, bangsa, bahasa, dan budaya. Namun di atas seluruh keragaman itu, terdapat kepentingan yang lebih besar: menjaga martabat umat dan menghindari perpecahan yang merugikan semua pihak.

Mungkin pelajaran terpenting dari pandangan ini adalah bahwa persatuan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Ia dimulai dari hal yang paling mendasar: tidak saling menyerang, tidak membiarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan, dan mampu berdiri bersama menghadapi tantangan bersama.

Jika tingkatan paling dasar itu dapat diwujudkan, maka langkah-langkah yang lebih besar—kerja sama ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, keamanan bersama, hingga kebangkitan peradaban Islam—akan lebih mudah dicapai.

Sebab sebuah umat yang besar tidak hanya membutuhkan jumlah yang banyak atau sumber daya yang melimpah. Ia membutuhkan kesadaran bahwa kekuatan sejati lahir dari persatuan, dan bahwa perpecahan selalu menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan umat.

Bagikan:
Terkait
Komentar