KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang berhak menentukan nasib dunia?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun sejak berakhirnya perang-perang besar hingga hari ini, dunia terus hidup dengan sebuah kenyataan yang sulit dibantah: tidak semua negara memiliki suara yang sama.
Ada negara yang keputusannya dapat mengubah nasib jutaan manusia di luar wilayahnya.
Ada negara yang bahkan kesulitan menentukan masa depannya sendiri.
Imam Ali Khamenei qs menyebut struktur hubungan semacam itu sebagai sistem dominasi.
Menurutnya, dunia modern telah lama terbagi bukan hanya berdasarkan batas geografis, tetapi berdasarkan hubungan antara pihak yang mendominasi dan pihak yang didominasi.
Yang pertama merasa memiliki hak untuk menentukan.
Yang kedua sering kali dipaksa menerima.
Di sinilah kritik utama Revolusi Islam Iran terhadap tatanan internasional.
Imam Khamenei menolak gagasan bahwa kekuatan besar adalah wali bagi bangsa-bangsa lain. Tidak ada negara, betapapun kuat militernya, yang secara otomatis memperoleh hak untuk menentukan masa depan bangsa lain.
Pesannya tajam: kekuatan besar seharusnya mengurus urusannya sendiri dan membiarkan bangsa-bangsa menentukan masa depan mereka.
Masalahnya, sistem dominasi tidak selalu bekerja melalui invasi.
Kadang ia bekerja melalui tekanan ekonomi.
Kadang melalui dukungan terhadap rezim tertentu.
Kadang melalui propaganda.
Kadang melalui lembaga internasional.
Dan kadang melalui bahasa.
Inilah salah satu kritik paling menarik dalam pidato Imam Khamenei: kekuasaan tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga berusaha menguasai makna.
Istilah seperti terorisme, demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan dapat diperlakukan secara berbeda tergantung siapa yang menggunakannya.
Sebuah tindakan yang dilakukan oleh musuh dapat disebut terorisme.
Tindakan serupa yang dilakukan oleh sekutu dapat diberi nama lain.
Di sinilah bahasa berubah menjadi instrumen politik.
Imam Khamenei menilai bahwa propaganda global memiliki peran besar dalam mempertahankan sistem dominasi. Ketika media dan pusat-pusat kekuasaan memiliki kemampuan untuk menentukan siapa yang disebut korban dan siapa yang disebut pelaku, pertarungan politik tidak lagi hanya terjadi di medan perang.
Ia juga terjadi dalam pikiran manusia.
Karena itu, pembebasan sebuah bangsa tidak cukup hanya dengan mengusir kekuatan asing.
Bangsa itu juga harus membebaskan cara berpikirnya.
Salah satu gagasan paling penting yang ditawarkan adalah persatuan bangsa-bangsa yang tidak ingin tunduk pada dominasi kekuatan besar.
Namun persatuan itu, menurutnya, bukanlah ajakan untuk memulai perang melawan negara-negara kuat.
Tujuannya adalah pertahanan.
Persatuan diperlukan agar bangsa-bangsa dapat menjaga haknya dan tidak diperlakukan sebagai objek dalam permainan geopolitik.
Pesan ini sangat relevan ketika melihat ketimpangan kekuatan dalam lembaga internasional.
Imam Khamenei secara khusus mengkritik dua bentuk ketimpangan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: keanggotaan permanen dan hak veto.
Kritiknya sederhana.
Bagaimana sebuah organisasi dapat benar-benar mewakili seluruh bangsa di dunia jika beberapa negara memiliki kekuasaan istimewa untuk membatalkan kehendak negara-negara lain?
Pertanyaan itu tetap hidup hingga sekarang.
Sistem internasional berbicara tentang kesetaraan kedaulatan negara, tetapi dalam praktiknya kekuatan politik tidak pernah benar-benar merata.
Ada suara yang lebih berat.
Ada negara yang lebih sulit disentuh hukum.
Dan ada bangsa-bangsa yang haknya sering harus menunggu sampai kepentingan kekuatan besar mengizinkannya.
Menurut Imam Khamenei, inilah sebabnya bangsa-bangsa harus membangun kekuatan mereka sendiri.
Bukan hanya kekuatan militer.
Kekuatan terbesar sebuah negara, menurutnya, adalah rakyat yang sadar.
Pemerintah dapat memiliki tentara.
Tetapi tanpa kesadaran masyarakat, kekuatan itu rapuh.
Sebaliknya, sebuah bangsa yang memiliki pemahaman politik dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri dapat menjadi kekuatan yang jauh lebih sulit ditundukkan.
Pesan Revolusi Islam kepada bangsa-bangsa lain kemudian menjadi sangat jelas: jangan takut kepada kekuatan besar.
Ketakutan adalah salah satu alat utama dominasi.
Ketika sebuah bangsa yakin bahwa masa depannya harus ditentukan oleh orang lain, dominasi telah berhasil bahkan sebelum tekanan dilakukan.
Namun ketika sebuah bangsa percaya kepada dirinya sendiri, kepada rakyatnya, dan kepada kemampuannya menentukan jalan sendiri, hubungan internasional dapat berubah.
Tentu, jalan itu tidak mudah.
Kemandirian memiliki harga.
Tetapi ketergantungan juga memiliki harga.
Dan sering kali harga ketergantungan adalah hilangnya kemampuan untuk menentukan masa depan sendiri.
Bagi Imam Khamenei, dunia yang lebih adil tidak akan lahir ketika satu kekuatan menggantikan kekuatan lain sebagai penguasa dunia.
Dunia yang lebih adil hanya mungkin ketika tidak ada pihak yang menganggap dirinya pemilik dunia.
Sebab bumi ini bukan milik segelintir negara.
Dunia adalah milik seluruh manusia yang hidup di dalamnya.







