KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang terus berulang dalam sejarah: ancaman terbesar terhadap agama tidak selalu datang dari mereka yang memusuhinya secara terang-terangan. Sering kali, justru lahir dari orang-orang yang tampak paling religius. Bibir mereka fasih melafalkan ayat, dahi mereka hitam karena sujud, tetapi cara mereka memahami agama justru menjauhkan mereka dari ruh agama itu sendiri.
Sejarah Islam mencatat salah satu contoh paling dramatis melalui kemunculan kelompok Khawarij, yang dalam literatur klasik juga disebut māriqīn orang-orang yang keluar atau melesat dari agama sebagaimana anak panah meluncur meninggalkan busurnya. Ungkapan ini bukan sekadar metafora yang indah. Ia menggambarkan betapa cepat dan jauhnya seseorang dapat terseret dari hakikat agama, meskipun secara lahiriah masih membawa simbol-simbol keagamaan.
Kelompok ini muncul pada masa pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Setelah menghadapi kelompok pembangkang dan para pelanggar janji, Imam Ali a.s harus berhadapan dengan lawan yang jauh lebih rumit: mereka yang mengaku membela agama dengan penuh semangat, tetapi menafsirkannya secara sempit dan menyimpang.
Yang membuat mereka berbahaya bukan karena jumlahnya, melainkan karena keyakinan mereka bahwa hanya merekalah yang benar. Mereka membangun seluruh pandangan hidup di atas pemahaman agama yang keliru. Ironisnya, mereka enggan belajar kepada orang yang justru menjadi rujukan utama dalam memahami Al-Qur’an, yaitu Imam Ali a.s sendiri, sahabat Nabi saw, ahli ilmu, sekaligus penafsir Al-Qur’an yang paling memahami konteks turunnya wahyu.
Di sinilah pelajaran besar sejarah itu bermula. Kesalehan lahiriah ternyata tidak selalu sejalan dengan kejernihan berpikir. Seseorang dapat menghafal banyak ayat, tetapi tetap tersesat ketika memutuskan hubungan antara teks dan hikmah.
Khawarij dikenal gemar mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan ketika Imam Ali a.s sedang memimpin shalat berjemaah atau berkhutbah, mereka sengaja membacakan ayat yang diarahkan sebagai sindiran kepada beliau. Mereka menjadikan ayat sebagai alat perlawanan politik. Kalimat-kalimat suci berubah fungsi, bukan lagi sebagai petunjuk, melainkan sebagai senjata untuk menyerang pihak yang berbeda.
Slogan mereka pun terdengar sangat menggetarkan:
لَا حُكْمَ إِلَّا لِلّٰهِ
“Tidak ada hukum selain milik Allah”
Kalimat itu sepenuhnya benar. Tidak ada seorang Muslim yang mengingkarinya. Namun Imam Ali a.s melihat sesuatu yang lebih dalam daripada bunyi sebuah slogan. Beliau menjawab dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu mutiara paling terkenal dalam Nahj al-Balaghah:
كَلِمَةُ حَقٍّ يُرَادُ بِهَا بَاطِلٌ
“Itu adalah kalimat yang benar, tetapi digunakan untuk tujuan yang batil”
Jawaban singkat ini terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Sebab persoalannya bukan terletak pada benar atau salahnya sebuah kalimat, melainkan pada bagaimana kalimat itu dipakai. Sebuah kebenaran dapat berubah menjadi alat propaganda ketika dilepaskan dari konteksnya. Ayat suci dapat menjadi pembenaran kekerasan apabila ditafsirkan tanpa ilmu dan tanpa kebijaksanaan.
Imam Ali a.s kemudian menjelaskan bahwa memang benar seluruh hukum berasal dari Allah. Namun manusia tetap membutuhkan pemerintahan agar kehidupan dapat berjalan. Dengan adanya pemimpin, keamanan terjaga, hak orang lemah dapat dibela, musuh dapat dihadapi, dan masyarakat memperoleh ketertiban. Tanpa kepemimpinan, kekacauan justru akan merajalela, sekalipun semua orang mengaku hanya tunduk kepada Allah.
Pandangan ini memperlihatkan kedewasaan politik dalam Islam. Agama tidak berhenti pada slogan-slogan ideal, tetapi juga berbicara tentang bagaimana kehidupan bersama harus diatur secara realistis demi kemaslahatan manusia.
Yang menarik, kelompok Khawarij bukanlah gerakan yang sepenuhnya berdiri sendiri. Di balik militansi mereka, terdapat permainan politik yang jauh lebih besar. Berbagai riwayat menunjukkan adanya hubungan dengan tokoh-tokoh dari kubu Muawiyah dan Amr bin Ash di Syam. Ada kepentingan politik yang memanfaatkan semangat keagamaan sebagian orang untuk melemahkan pemerintahan Imam Ali a.s.
Sejarah pun menunjukkan pola yang hampir tidak pernah berubah. Fanatisme mudah dijadikan kendaraan oleh mereka yang memiliki agenda kekuasaan. Orang-orang yang tulus tetapi dangkal pengetahuannya sering kali menjadi alat bagi kepentingan yang bahkan tidak mereka sadari. Mereka merasa sedang membela agama, padahal sesungguhnya sedang diperalat oleh strategi politik yang lebih besar.
Karena itu, Imam Ali a.s tidak hanya menghadapi peperangan fisik, tetapi juga peperangan melawan cara berpikir yang keliru. Dalam Perang Nahrawan, beliau berhasil mematahkan kekuatan militer Khawarij. Akan tetapi, ideologi mereka tidak serta-merta lenyap. Gagasan ekstrem selalu lebih sulit dikalahkan daripada pasukan bersenjata.
Benar saja. Sebagian pengikut mereka tetap hidup di tengah masyarakat. Dari rahim kelompok inilah kemudian muncul seorang pembunuh yang akhirnya mengakhiri kehidupan Imam Ali a.s saat beliau sedang menuju shalat Subuh di Masjid Kufah. Sebuah akhir yang tragis, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa ekstremisme sering kali lahir bukan karena kurangnya semangat beragama, melainkan karena hilangnya kebijaksanaan dalam memahami agama.
Dalam konteks yang lebih luas, kisah Khawarij bukan sekadar lembaran sejarah Islam abad pertama. Ia adalah cermin bagi setiap zaman. Ketika agama hanya dipahami melalui potongan-potongan teks tanpa keluasan ilmu, ketika slogan lebih dihargai daripada hikmah, dan ketika merasa paling benar menjadi identitas, maka benih-benih māriqīn dapat tumbuh kembali dalam bentuk yang berbeda.
Agama sejatinya tidak hanya mengajarkan bagaimana berbicara atas nama Tuhan, tetapi juga bagaimana merendahkan hati di hadapan kebenaran. Sebab semakin dalam seseorang memahami agama, semakin ia menyadari bahwa kebenaran bukanlah alat untuk menghakimi orang lain, melainkan cahaya yang pertama-tama harus menerangi dirinya sendiri.







