Dunia yang Tak Pernah Tinggal di Tempat

KHAMENEI.ID – Ada sesuatu yang sering kita salahpahami dari dunia: kita mengira apa yang sedang berada di tangan kita akan tetap menjadi milik kita. Kekayaan, kedudukan, kesehatan, nama baik, bahkan kesempatan yang hari ini terasa begitu dekat, diam-diam kita perlakukan seperti sesuatu yang akan bertahan sampai usia menutup pintu.

Padahal dunia tidak bekerja seperti itu.

Dalam salah satu nasihatnya, Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah sesuatu yang berputar dan berpindah tangan. Apa yang memang menjadi bagian kita akan datang kepada kita, bahkan ketika kita berada dalam kelemahan. Sebaliknya, sesuatu yang ditakdirkan pergi tidak selalu dapat dipertahankan hanya dengan kekuatan yang kita miliki.

Rasulullah Muhammad saw bersabda:

الدنیا دُوَل، فما کان لك أتاك علی ضعفك وما کان منها علیك لم تدفعه بقوّتك ومن انقطع رجاءه مما فات، استراح بدنه ومن رضی بما قَسَمه اللّه قرّت عینه

“Dunia itu berputar dan berpindah tangan. Apa yang menjadi bagianmu akan datang kepadamu meski dalam keadaan lemah, sedangkan apa yang ditimpakan kepadamu tidak akan dapat kau tolak hanya dengan kekuatanmu. Barang siapa memutus harapannya dari sesuatu yang telah luput darinya, tubuhnya akan beristirahat (sehat). Dan barang siapa ridha terhadap apa yang telah Allah bagi untuknya, matanya akan tenteram.”

Kata duwal dalam nasihat itu menarik. Ia merupakan bentuk jamak dari daulah, sesuatu yang beredar, berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Seolah-olah Nabi saw sedang mengingatkan bahwa salah satu hukum paling dasar kehidupan adalah perubahan.

Hari ini seseorang berada di atas, esok mungkin di bawah. Hari ini sehat, beberapa tahun kemudian tubuh mulai mengenal batasnya. Hari ini memiliki harta, suatu keadaan bisa mengubah semuanya. Jabatan datang dan pergi. Pengaruh tumbuh lalu menyusut. Bahkan orang-orang yang dahulu memenuhi rumah kita dengan suara, pada suatu hari bisa hanya tinggal nama dalam ingatan.

Baca Juga  Ketika Sebuah Bangsa Percaya pada Kemenangan: Pelajaran Perang dan Iman Menurut Imam Khamenei

Di titik ini, manusia kerap melakukan kesalahan yang sama: menganggap keadaan sementara sebagai keadaan permanen.

Kita bukan hanya menikmati sesuatu yang datang, tetapi mulai menggantungkan ketenangan kepadanya. Kekayaan bukan lagi sekadar alat, melainkan ukuran harga diri. Jabatan bukan lagi amanah, melainkan identitas. Kesehatan bukan lagi karunia, melainkan sesuatu yang dianggap pasti. Ketika semuanya berubah, yang runtuh bukan hanya keadaan di luar diri, tetapi juga dunia di dalam diri.

Karena itu, nasihat Nabi saw bukan sekadar ajakan untuk menerima kehilangan. Ia mengajak manusia memahami sifat dunia sebelum dunia mengajarinya dengan cara yang menyakitkan.

Apa yang menjadi bagian kita akan menemukan jalannya. Sebaliknya, sesuatu yang memang bukan lagi bagian kita tidak selalu dapat dipertahankan dengan ambisi, tenaga, atau kecemasan. Ada batas pada kemampuan manusia untuk menggenggam sesuatu.

Namun kalimat ini tidak berarti manusia harus pasif. Ada perbedaan penting antara menerima perubahan dunia dan menyerah kepada keadaan. Manusia tetap harus bekerja, berusaha, membangun kehidupan, mencari ilmu, merawat kesehatan, memperjuangkan kebaikan, dan menjalankan tanggung jawabnya. Dunia tidak dicela hanya karena ia dunia.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang menjadikan keinginan pribadinya sebagai pusat dari seluruh kehidupannya.

Dalam pengertian inilah nasihat tentang “memutus harapan dari sesuatu yang telah luput” perlu dipahami. Yang dimaksud bukan meninggalkan segala urusan dunia, apalagi berhenti mengejar kemajuan atau kebaikan. Yang perlu diputus adalah keterikatan kepada sesuatu yang sudah berlalu dan tidak lagi berada dalam kuasa kita.

Ada kehilangan yang sebenarnya sudah selesai, tetapi terus kita hidupkan dalam pikiran.

Kita mengulang percakapan yang telah berlalu. Menyesali keputusan yang tidak mungkin diubah. Membayangkan bagaimana hidup seandainya sebuah kesempatan tidak terlewat. Menghitung kembali uang yang hilang. Mengingat penghinaan yang pernah diterima. Menunggu sesuatu yang sudah jelas tidak kembali.

Baca Juga  Ketika Anak Muda Menolak Menyerah pada Masa Depan

Tubuh berada di hari ini, tetapi pikiran masih tinggal di masa lalu.

Maka Nabi saw mengatakan: orang yang memutus harapannya dari sesuatu yang telah luput akan mendapatkan ketenteraman pada tubuhnya. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi semakin dipikirkan semakin dalam. Sebagian kelelahan manusia barangkali bukan karena beratnya kehidupan, melainkan karena ia terus berusaha menggenggam sesuatu yang sudah pergi.

Dalam konteks yang lebih luas, menerima pembagian Tuhan juga bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Justru ia membebaskan manusia dari kecemasan yang berlebihan terhadap hasil. Kita bekerja sebaik mungkin, tetapi tidak memaksa kehidupan tunduk sepenuhnya pada keinginan kita.

Ada hal-hal yang dapat diperjuangkan. Ada pula hal-hal yang hanya dapat diterima.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya.

Di sinilah dunia yang terus berubah justru dapat menjadi guru. Ia mengajarkan bahwa tidak ada kepemilikan yang benar-benar mutlak. Apa yang berada di tangan kita hari ini pada akhirnya hanya sebuah titipan yang sedang singgah. Kita boleh mencintainya, merawatnya, dan menggunakannya untuk kebaikan. Tetapi kita tidak perlu menyembahnya dengan kecemasan ketika ia mulai pergi.

Barangkali ketenteraman bukanlah keadaan ketika seluruh keinginan terpenuhi. Ketenteraman muncul ketika manusia tidak lagi memaksa dunia menjadi seperti yang ia inginkan.

Sebab dunia memang duwal: berputar, berpindah, berubah. Yang datang akan suatu hari pergi. Yang hilang mungkin membuka ruang bagi sesuatu yang lain. Dan di antara datang serta pergi itulah manusia belajar satu hal yang paling sulit, memiliki tanpa menggenggam terlalu erat, berusaha tanpa kehilangan kewarasan, dan menerima tanpa merasa seluruh hidup telah berakhir.

Pada akhirnya, mungkin bukan dunia yang harus berhenti berubah agar kita tenang. Kitalah yang perlu belajar berdamai dengan kenyataan bahwa dunia memang tidak pernah tinggal di tempat.

Baca Juga  Ketika Kekuasaan Menyembunyikan Wajahnya
Bagikan:
Terkait
Komentar