KHAMENEI.ID –
Menafsir Ayat 6–7 Surah Al-Baqarah tentang orang-orang kafir dan alasan mengapa kebenaran tidak lagi mampu menembus hati mereka.
Pada awal Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an memperkenalkan manusia ke dalam beberapa kelompok ketika berhadapan dengan wahyu. Ada orang-orang bertakwa yang menjadikan wahyu sebagai petunjuk. Ada pula mereka yang menolak. Setelah menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa, ayat keenam dan ketujuh menghadirkan wajah kelompok yang berlawanan: orang-orang kafir.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka, apakah engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.” Lalu ayat berikutnya menjelaskan keadaan mereka: “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup.”
Pertanyaannya kemudian: siapa sebenarnya yang dimaksud dengan kafir dalam ayat ini? Apakah setiap kelemahan iman, kesalahan, atau perilaku buruk seseorang sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam kelompok yang disebut ayat ini?
Dalam penafsiran Imam Ali Khamenei qs, persoalan ini perlu dibedakan secara cermat.
Kekafiran Memiliki Tingkatan
Dalam satu pengertian, kata kufr memang memiliki cakupan yang lebih luas. Ada riwayat yang membagi kekafiran ke dalam beberapa tingkatan, dan sebagian tingkatannya bahkan dapat ditemukan pada orang yang secara lahiriah masih tergolong sebagai orang beriman.
Artinya, seseorang dapat memiliki iman secara lahir, tetapi dalam perilaku tertentu justru memperlihatkan unsur-unsur yang berdekatan dengan kekafiran. Dalam masyarakat yang hidup di bawah sistem yang zalim dan menolak nilai-nilai ketuhanan, misalnya, dapat ditemukan orang-orang yang secara nama disebut beriman, tetapi perilakunya justru menunjukkan keadaan batin yang sangat jauh dari iman.
Namun, menurut penjelasan Imam Khamenei, bukan kelompok inilah yang secara khusus dimaksud dalam ayat keenam Surah Al-Baqarah.
Ayat ini berbicara tentang kelompok yang secara sadar berhadapan dengan agama dan menolak pokok ajarannya. Ketika Al-Qur’an, misalnya, memerintahkan Nabi untuk berjihad menghadapi orang-orang kafir dan munafik, yang dimaksud bukanlah setiap mukmin yang imannya lemah atau seorang beriman yang melakukan kesalahan. Orang seperti itu masih berada dalam wilayah pembinaan, perbaikan, dan bimbingan.
Karena itu, ada perbedaan antara kelemahan iman dengan sikap menolak kebenaran.
Kekafiran dalam konteks ayat ini menunjuk kepada mereka yang mengambil posisi berlawanan dengan kebenaran yang telah datang melalui wahyu. Mereka bukan sekadar belum mengetahui. Mereka berhadapan dengan ajaran yang datang, tetapi memilih menolaknya.
Sebelum Wahyu Datang, Tidak Semua Orang Disebut Kafir
Ada satu hal yang juga penting. Sebelum dakwah tauhid datang, masyarakat tentu belum mengenal secara terperinci ajaran yang dibawa Nabi. Ketika Nabi Muhammad saw. pertama kali menyampaikan tauhid di Makkah, misalnya, masyarakat belum memiliki pengetahuan sebelumnya tentang dakwah tersebut sebagai sebuah sistem yang lengkap.
Mereka hidup dalam lingkungan yang didominasi kemusyrikan. Mereka menyembah berhala, mempercayai berbagai bentuk kekuatan selain Allah swt, dan menjalani kehidupan yang banyak dipengaruhi hawa nafsu.
Dengan datangnya dakwah tauhid, keadaan berubah. Kebenaran mulai diperkenalkan. Di titik inilah manusia menghadapi pilihan.
Sebagian orang mendengar seruan itu dan membiarkan fitrahnya menjawab. Mereka memiliki tingkat kesadaran awal—taqwa dalam pengertian paling dasar—yang membuat mereka berhati-hati agar tidak menolak sesuatu hanya karena belum terbiasa dengannya. Mereka membuka diri terhadap kebenaran, kemudian menerima iman. Dari sinilah mereka menjadi bagian dari orang-orang yang memperoleh petunjuk.
Tetapi sebagian lainnya mengambil jalan berbeda.
Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Kepentingan
Mengapa seseorang menolak kebenaran?
Menurut penjelasan Imam Khamenei, salah satu persoalan utama terletak pada dorongan-dorongan batin manusia. Kebenaran tidak selalu ditolak karena manusia tidak mampu memahaminya. Kadang-kadang kebenaran justru ditolak karena menerimanya akan mengganggu kepentingan yang selama ini dinikmati.
Bayangkan sebuah masyarakat ketika gagasan tentang pemerintahan berdasarkan Islam, Al-Qur’an, dan kehendak Allah mulai diperkenalkan. Bagi orang yang kekuasaannya berdiri di atas dasar yang bertentangan dengan prinsip ketuhanan, menerima gagasan tersebut bukan perkara sederhana. Ada sesuatu yang harus ia pertaruhkan: kedudukan, kekuasaan, pengaruh, bahkan seluruh bangunan kepentingan yang selama ini menopangnya.
Maka persoalannya bukan lagi semata-mata apakah ia memahami kebenaran atau tidak. Ada kepentingan yang membuatnya tidak ingin menerima kebenaran.
Hal serupa dapat terjadi pada seseorang yang bertahun-tahun membangun pemikiran, menyebarkan gagasan, dan mempertahankan pandangan tertentu. Ketika datang suatu kebenaran yang berlawanan dengan semua yang selama ini ia perjuangkan, menerima kebenaran itu berarti mengakui bahwa sebagian dari bangunan pemikirannya harus ditinggalkan.
Dan manusia tidak selalu mudah melakukan itu.
Di sinilah kekafiran dapat menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ketidaktahuan. Ia dapat tumbuh dari keterikatan pada kepentingan, kekuasaan, kebiasaan, hawa nafsu, atau keyakinan yang telah dipertahankan terlalu lama.
Dari Menolak Kebenaran hingga Menutup Diri
Orang yang bertakwa, sebagaimana telah dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya, menjaga dirinya agar tidak terhalang dari kebenaran. Ia waspada terhadap hawa nafsunya sendiri. Ia tidak ingin kepentingan pribadi menjadi ukuran untuk menentukan benar dan salah.
Sebaliknya, orang yang terus mempertahankan penolakan terhadap kebenaran dapat sampai pada keadaan ketika pintu penerimaan dalam dirinya semakin tertutup.
Karena itu Al-Qur’an mengatakan, “Allah telah mengunci hati mereka dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup.”
Imam Khamenei menjelaskan gambaran ini bukan sekadar sebagai persoalan organ fisik. Hati berkaitan dengan kemampuan batin untuk menerima dan memahami kebenaran. Pendengaran menunjuk pada kemampuan untuk benar-benar mendengarkan. Sedangkan penglihatan juga dapat bermakna kemampuan melihat dan memahami kenyataan.
Seseorang bisa memiliki mata, tetapi tidak melihat kebenaran. Ia bisa memiliki telinga, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Ia bisa memiliki akal, tetapi menutup pintunya sebelum sebuah gagasan sempat diperiksa.
Hati yang terbuka bukan berarti menerima semua hal tanpa berpikir. Justru sebaliknya: ia memberi kesempatan kepada suatu gagasan untuk masuk, kemudian mengujinya. Jika benar, diterima; jika salah, ditolak.
Yang bermasalah adalah ketika pintu itu ditutup sejak awal.
Tidak ada gagasan baru yang boleh masuk. Tidak ada kebenaran yang boleh diuji. Tidak ada kemungkinan bahwa dirinya sendiri mungkin keliru.
Dalam keadaan seperti itu, peringatan tidak lagi banyak berpengaruh. Bukan karena kebenaran kehilangan kekuatannya, melainkan karena manusia telah membangun penghalang di dalam dirinya sendiri.
Kekafiran sebagai Sikap terhadap Kebenaran
Dari sini, pembahasan ayat keenam dan ketujuh memperlihatkan bahwa kekafiran bukan sekadar label identitas. Ia berkaitan dengan sikap manusia terhadap kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya.
Ada orang yang belum tahu, kemudian diberi tahu dan menerima. Ada yang belum memahami, lalu mencari dan akhirnya menemukan. Ada pula yang mengetahui, tetapi menolak karena kebenaran tersebut berlawanan dengan kepentingannya.
Perbedaan itulah yang membuat perjalanan manusia menuju petunjuk tidak berhenti pada persoalan pengetahuan.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tetap menolak kebenaran. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kesadaran dan kewaspadaan batin dapat membuka dirinya terhadap petunjuk, kemudian bergerak dari satu tingkat pemahaman menuju tingkat berikutnya.
Karena itu, setelah menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai mereka yang memperoleh petunjuk, Al-Qur’an menghadirkan orang-orang kafir sebagai gambaran yang berlawanan: manusia yang terus menutup dirinya dari kebenaran sampai peringatan tidak lagi memberi pengaruh.
Ayat keenam dan ketujuh dengan demikian bukan hanya berbicara tentang siapa yang percaya dan siapa yang tidak percaya. Ia juga memperlihatkan bagaimana manusia bisa sampai pada keadaan ketika ia tidak lagi mau menerima kebenaran.
Dan mungkin di situlah peringatan ayat ini menjadi paling dekat dengan manusia: bukan sekadar bertanya apakah kita sudah beriman, melainkan apakah hati kita masih cukup terbuka untuk menerima kebenaran ketika ia datang dalam bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan kita.






