KHAMENEI.ID – Ada jenis kebusukan yang tidak segera terlihat. Ia tidak berada di wajah, pakaian, atau tubuh yang tampak di hadapan orang lain. Ia bersembunyi lebih dalam: di hati yang menyimpan iri, dendam, kebencian, kesombongan, dan niat yang tak pernah benar-benar dibersihkan.
Karena itu, seseorang bisa tampak begitu bersih di hadapan manusia, tetapi diam-diam sedang menyimpan sesuatu yang jauh lebih kotor di dalam dirinya.
Pesan semacam itulah yang disampaikan Nabi Isa a.s kepada para hawariyyun. Dalam sebuah nasihat yang dikutip dalam Tuhaf al-‘Uqul, beliau mengingatkan bahwa tubuh yang tampak sehat tidak banyak berarti jika bagian dalamnya rusak. Membersihkan kulit, wajah, dan pakaian tidak cukup apabila hati tetap dipenuhi kotoran.
بِحَقٍّ أَقُولُ لَكُمْ لَا يُغْنِي عَنِ الْجَسَدِ أَنْ يَكُونَ ظَاهِرُهُ صَحِيحًا وَبَاطِنُهُ فَاسِدًا
“Demi kebenaran, aku berkata kepada kalian: tidaklah berguna bagi tubuh jika bagian luarnya sehat, sementara bagian dalamnya rusak”
Perumpamaan ini terasa sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menembus sesuatu yang sering kita abaikan. Kita terbiasa merawat apa yang dapat dilihat. Penampilan diperhatikan, ucapan dijaga, reputasi dibangun, bahkan citra kesalehan bisa dipoles. Namun hati tidak memiliki cermin yang mudah dipakai untuk melihat apakah ia sedang sehat atau perlahan membusuk.
Di titik ini, nasihat Nabi Isa a.s menjadi jauh lebih dekat dengan kehidupan kita. Sebab persoalannya bukan sekadar kebersihan fisik dan kebersihan batin. Ia berbicara tentang jarak antara apa yang tampak dan apa yang sesungguhnya hidup di dalam diri.
Seseorang dapat berbicara tentang kesabaran sambil menyimpan kemarahan. Berbicara tentang keikhlasan sambil berharap dipuji. Mengajarkan persaudaraan sambil memelihara kebencian terhadap orang lain. Bahkan seseorang dapat berbicara tentang Tuhan dengan begitu indah, sementara hatinya sendiri semakin jauh dari-Nya.
Namun jika ditarik lebih jauh, Nabi Isa a.s tidak berhenti pada perumpamaan tentang tubuh. Beliau memberikan gambaran yang lebih tajam: manusia jangan sampai menjadi seperti sebuah ayakan atau saringan tepung.
Ayakan mengeluarkan tepung yang halus dan baik, tetapi menahan ampas dan kulit-kulit kasar di dalamnya. Begitu pula manusia yang hanya pandai mengeluarkan kata-kata bijak dari mulut, tetapi membiarkan kedengkian dan kebusukan tetap menetap di dada.
لَا تَكُونُوا كَالْمُنْخَلِ يُخْرِجُ مِنْهُ الدَّقِيقُ الطَّيِّبُ وَيُمْسِكُ النُّخَالَةَ، كَذَلِكَ أَنْتُمْ تُخْرِجُونَ الْحِكْمَةَ مِنْ أَفْوَاهِكُمْ وَيَبْقَى الْغِلُّ فِي صُدُورِكُمْ
“Janganlah kalian seperti ayakan yang mengeluarkan tepung yang baik dan menahan ampas. Demikian pula kalian mengeluarkan hikmah dari mulut kalian, sementara kedengkian tetap tinggal di dada kalian”
Betapa mudahnya perumpamaan ini menemukan wajahnya di zaman sekarang. Kita hidup dalam dunia yang penuh nasihat. Setiap hari ada kutipan tentang kesabaran, video tentang keikhlasan, ceramah tentang akhlak, tulisan tentang cinta, dan berbagai kalimat bijak yang dapat dibagikan hanya dengan satu sentuhan.
Pengetahuan moral menjadi semakin mudah diperoleh. Tetapi kemudahan mengetahui kebaikan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.
Bahkan ada ironi yang lebih dalam: kita mungkin menjadi semakin terampil berbicara tentang sesuatu yang justru belum berhasil kita lakukan.
Kita tahu bagaimana menasihati orang lain agar tidak marah, tetapi belum selesai dengan amarah sendiri. Kita tahu pentingnya memaafkan, tetapi masih menyimpan daftar panjang kesalahan orang lain. Kita berbicara tentang rendah hati, tetapi diam-diam membutuhkan pengakuan atas setiap kebaikan yang kita lakukan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih berbahaya: untuk siapa sebenarnya kita melakukan kebaikan?
Nabi Isa a.s menyebut orang-orang semacam itu sebagai “hamba dunia”. Beliau mengibaratkan mereka seperti lampu yang menerangi orang lain, tetapi membakar dirinya sendiri.
يَا عَبِيدَ الدُّنْيَا إِنَّمَا مَثَلُكُمْ مَثَلُ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ
“Wahai hamba-hamba dunia, sesungguhnya perumpamaan kalian seperti lampu yang menerangi manusia, tetapi membakar dirinya sendiri”
Perumpamaan lampu biasanya terdengar indah. Kita sering mengatakan seseorang rela “membakar dirinya” demi menerangi orang lain. Tetapi Nabi Isa a.s menghadirkan sisi yang berbeda. Ada keadaan ketika seseorang begitu sibuk memberi manfaat kepada orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak pernah tumbuh.
Ia mengajarkan banyak orang untuk mendekat kepada Tuhan, tetapi dirinya sendiri semakin jauh. Ia mendorong orang lain memperbanyak ibadah, tetapi hatinya tetap kosong. Ia mengajak anak-anak muda mencintai pengorbanan, perjuangan, dan kehidupan spiritual, sementara dirinya sendiri tetap terbelenggu oleh dunia.
Inilah bahaya ketika kebaikan hanya berhenti sebagai pekerjaan untuk orang lain.
Ibadah, nasihat, doa, dan ilmu seharusnya pertama-tama menyentuh hati orang yang melakukannya. Nasihat yang kita ucapkan kepada orang lain mestinya juga menjadi teguran bagi diri sendiri. Doa yang dibaca di tengah jamaah semestinya tidak hanya diarahkan kepada telinga mereka yang mendengarnya, tetapi juga kepada hati yang mengucapkannya.
Barangkali karena itu para ulama dan orang-orang saleh selalu menaruh perhatian besar pada keadaan batin. Dalam kisah tentang Syekh Hasan Ali Isfahani, yang dikenal sebagai Nakha’i atau “Nakhudki”, misalnya, terdapat ungkapan tentang membaca dzikir untuk hati yang gelap. Ada sesuatu yang penting dalam cara pandang itu: dzikir bukan sekadar suara yang keluar dari mulut, melainkan cahaya yang pertama-tama harus diarahkan kepada diri sendiri.
Ketika mengucapkan la ilaha illallah, mungkin yang paling perlu mendengarnya bukan orang di sebelah kita. Ketika mengucapkan astaghfirullah, mungkin yang paling membutuhkan ampunan bukan mereka yang kita anggap berdosa, melainkan diri kita sendiri.
Begitu pula ketika membaca doa. Doa tidak seharusnya berubah menjadi pertunjukan kesalehan yang hanya dinikmati orang lain. Ia mestinya menjadi ruang sunyi tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya apa yang tampak dari luar. Kita adalah apa yang kita simpan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan mungkin itulah bagian paling menggetarkan dari nasihat Nabi Isa a.s: jangan sampai kita menjadi cahaya bagi banyak orang, tetapi gelap bagi diri sendiri. Jangan sampai kata-kata kita mengangkat orang lain, sementara hati kita tetap tergeletak di tempat yang sama.
Sebab kebersihan sejati tidak berhenti pada kulit. Ia baru bermula ketika seseorang berani membersihkan ruang paling tersembunyi dalam dirinya; tempat yang tidak dapat dilihat manusia, tetapi tidak pernah tersembunyi dari Tuhan.







