Imam Khamenei: Mengapa Mimbar Jumat Harus Membicarakan Dunia dan Akhirat

KHAMENEI.ID – Ketika seorang khatib berdiri di mimbar Jumat, apa yang seharusnya dibicarakan? Apakah cukup menjelaskan ibadah, akhlak, dan kehidupan akhirat, ataukah mimbar juga perlu membahas politik, persoalan ekonomi, perkembangan dunia, dan masalah yang dihadapi masyarakat sehari-hari?

Imam Khamenei memberikan jawaban yang tegas dalam pidatonya kepada para santri dan ulama Provinsi Mazandaran pada 1995. Menurut beliau, seorang ulama harus membimbing masyarakat melalui penjelasan yang mencakup kehidupan secara luas. Karena itu, khatib Jumat tidak seharusnya membatasi pembicaraan hanya pada urusan ritual.

Beliau mencontohkan khutbah Jumat yang membahas agama sekaligus pemerintahan, politik internasional, pembangunan kembali, pertanian, etika, kehidupan dunia, dan akhirat. Bagi Imam Khamenei, keluasan tema tersebut bukan penyimpangan dari fungsi mimbar. Justru itulah gambaran mimbar yang menjalankan tanggung jawabnya secara utuh.

Pandangan ini berangkat dari pemahaman bahwa agama tidak hidup terpisah dari realitas manusia. Masyarakat menjalankan ibadah di tengah kondisi ekonomi tertentu, menghadapi keputusan politik yang memengaruhi kehidupan mereka, dan berhadapan dengan persoalan sosial yang membutuhkan pertimbangan moral.

Jika mimbar hanya membicarakan kehidupan akhirat tanpa membantu masyarakat memahami persoalan dunia, sebagian kebutuhan mereka akan luput dari perhatian. Sebaliknya, jika pembicaraan publik hanya berisi urusan dunia tanpa pertimbangan moral dan spiritual, masyarakat juga kehilangan salah satu sumber refleksi mengenai tujuan hidup dan tanggung jawabnya.

Karena itu, Imam Khamenei menempatkan tugas ulama sebagai pekerjaan menjelaskan, bukan sekadar menyampaikan ceramah rutin. Ulama harus mampu menghubungkan prinsip agama dengan keadaan nyata yang dihadapi masyarakat.

Persoalan pertanian, misalnya, mungkin tampak jauh dari pembahasan agama jika agama dipahami sebatas ritual. Namun, bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada hasil panen, pertanian berkaitan langsung dengan penghidupan keluarga, kesejahteraan masyarakat, dan tanggung jawab sosial. Begitu pula pembangunan, yang menyentuh persoalan rumah, pekerjaan, fasilitas umum, dan masa depan generasi berikutnya.

Baca Juga  Mengapa Islam Memuliakan Kerja: Bukan Sekadar Hasil, tetapi Kesungguhan

Politik juga memiliki dampak nyata. Keputusan pemerintah dapat memengaruhi pendidikan, pekerjaan, distribusi sumber daya, serta hak dan kewajiban warga. Karena itu, pembicaraan tentang politik tidak otomatis berada di luar kepentingan moral dan keagamaan.

Meski demikian, keluasan tema bukan berarti mimbar boleh digunakan untuk menyampaikan apa saja tanpa pertimbangan. Jika seorang khatib membicarakan persoalan politik atau sosial, ia tetap dituntut menjelaskan masalah secara bertanggung jawab, membedakan fakta dari pendapat, serta tidak menyamarkan kepentingan tertentu sebagai kebenaran agama yang tidak boleh dipertanyakan.

Tantangan ini semakin penting ketika informasi bergerak cepat dan masyarakat menghadapi beragam klaim yang saling bertentangan. Mimbar keagamaan dapat menjadi ruang untuk membantu masyarakat memahami persoalan, tetapi juga dapat kehilangan fungsinya jika pembicaraan hanya mengulang slogan atau memperuncing perbedaan tanpa memberikan penjelasan yang memadai.

Di sinilah konsep tabyin yang ditekankan Imam Khamenei menemukan relevansinya. Menjelaskan bukan sekadar berbicara panjang. Penjelasan yang baik membantu orang memahami apa yang sedang terjadi, mengapa suatu persoalan penting, prinsip apa yang berkaitan dengannya, dan bagaimana persoalan tersebut sebaiknya dipikirkan.

Mimbar Jumat, dalam kerangka ini, bukan sekadar tempat untuk mengingatkan manusia tentang kewajiban spiritual. Ia juga dapat menjadi ruang pendidikan publik, tempat persoalan masyarakat dibahas melalui pertimbangan etis dan keagamaan.

Namun, hubungan antara mimbar dan kehidupan publik juga memerlukan tanggung jawab. Khatib perlu memahami persoalan yang dibicarakan, menyampaikan informasi secara cermat, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpikir. Wibawa agama tidak semestinya digunakan untuk menggantikan penalaran, melainkan untuk mendorong pemahaman yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, pesan Imam Khamenei bukan sekadar bahwa khutbah Jumat boleh membicarakan politik atau ekonomi. Pokok gagasannya lebih luas: ulama memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan agama dalam hubungannya dengan kehidupan manusia secara menyeluruh.

Baca Juga  Ketika Negeri Menuntut Gerak: Tentang Kerja, Tanggung Jawab, dan Rasa Tidak Boleh Diam

Dunia dan akhirat bukan dua wilayah yang sepenuhnya terpisah. Cara manusia bekerja, memperlakukan sesama, mengelola kekuasaan, membangun masyarakat, dan mengambil keputusan di dunia juga berkaitan dengan tanggung jawab moralnya.

Mimbar yang hidup bukan hanya mengingatkan manusia ke mana mereka akan pergi setelah mati, tetapi juga membantu mereka memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan sebelum sampai ke sana.

Sumber: Pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan sejumlah santri, cendekiawan agama, dan ulama Provinsi Mazandaran, 14 Oktober 1995 (22 Mehr 1374)

Bagikan:
Terkait
Komentar