Tafsir Surah Al-Fatihah (Bag. 12): Peringatan Al-Qur’an tentang Bahaya Kemunduran Iman

KHAMENEI.ID – 

Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna “ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn” dalam Surah Al-Fatihah

Setiap hari, seorang muslim memohon kepada Allah swt agar ditunjukkan jalan orang-orang yang telah diberi nikmat. Namun, doa itu tidak berhenti di sana. Al-Qur’an segera melanjutkannya dengan kalimat yang tidak kalah penting:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 7).

Mengapa setelah memohon jalan orang-orang yang diberi nikmat, seorang mukmin masih harus meminta agar tidak termasuk golongan yang dimurkai atau tersesat?

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat sebuah kenyataan yang, menurut beliau, merupakan salah satu pelajaran paling pahit dalam Al-Qur’an. Beliau menyebutnya sebagai irtijā’—kemunduran, kembali ke belakang, atau kehilangan hasil perjuangan yang telah dicapai. Dalam istilah lain, ia juga menyebutnya sebagai irtidād dalam makna umum, yaitu berbalik dari jalan yang telah ditempuh sehingga seluruh capaian spiritual dan sosial terancam lenyap.

Yang menarik, menurut Imam Ali Khamenei, penyakit ini bukan terutama mengancam masyarakat yang belum mengenal petunjuk Allah swt. Justru ia mengintai mereka yang telah memperoleh nikmat terbesar: hidayah.

Seseorang yang belum menemukan jalan tentu belum dapat dikatakan menyimpang darinya. Sebaliknya, orang yang telah mengenal jalan lurus selalu menghadapi kemungkinan untuk berpaling apabila tidak menjaga istiqamah. Karena itu, bahaya terbesar bukan hanya tersesat sejak awal, melainkan mundur setelah pernah melangkah maju.

Dalam perspektif beliau, inilah salah satu alasan mengapa Surah Al-Fatihah terus diulang dalam setiap salat. Ayat ini bukan sekadar mengajarkan manusia mencari hidayah, tetapi juga mengingatkan bahwa hidayah harus dijaga.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah (Bag. 16): Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Jalan Para Nabi, Syuhada, dan Orang Saleh

Menurut Imam Khamenei, frasa “orang-orang yang Engkau beri nikmat” sendiri dapat dipahami dalam dua keadaan yang berbeda.

Kelompok pertama adalah mereka yang pernah memperoleh nikmat Allah, tetapi kemudian menyia-nyiakannya. Mereka pernah merasakan petunjuk, menerima karunia, bahkan berada dalam posisi yang dimuliakan Allah swt. Namun, karena mengingkari nikmat itu, mereka akhirnya terjerumus ke dalam kemurkaan dan kesesatan.

Kelompok kedua adalah mereka yang juga memperoleh nikmat Allah swt, tetapi tetap memeliharanya hingga akhir kehidupan. Mereka istiqamah dalam ketaatan sehingga tidak termasuk golongan yang dimurkai ataupun tersesat.

Ketika seorang muslim membaca Surah Al-Fatihah, menurut Imam Khamenei, ia sesungguhnya sedang memohon agar termasuk kelompok kedua.

Untuk menjelaskan hal itu, beliau mengaitkan Surah Al-Fatihah dengan ayat lain dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69).

Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat terbesar bukanlah kekuasaan, kemakmuran, atau kedudukan. Nikmat terbesar adalah berada di jalan para nabi, para ṣiddīqīn, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Namun Al-Qur’an juga menghadirkan contoh lain.

Imam Ali Khamenei menunjuk Bani Israil sebagai pelajaran sejarah yang sangat penting. Allah sendiri berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu di atas segala umat (pada masa itu).” (QS. Al-Baqarah [2]: 47).

Baca Juga  Tafsir surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 4)

Menurut beliau, ayat ini membuktikan bahwa Bani Israil pernah menjadi kaum yang menerima nikmat besar dari Allah. Mereka memperoleh para nabi, wahyu, dan berbagai karunia yang tidak diberikan kepada banyak umat lain pada zamannya.

Namun sejarah kemudian menunjukkan bahwa nikmat itu tidak otomatis menjamin keselamatan. Ketika petunjuk diabaikan dan nikmat tidak disyukuri, keadaan mereka berubah. Karena itulah, dalam sejumlah riwayat yang dinukil dari Imam Ja’far ash-Shadiq as, frasa “al-maghdhūbi ‘alaihim” dijelaskan dengan menunjuk kepada kaum Yahudi, sedangkan “aḍ-ḍāllīn” kepada kaum Nasrani. Imam Ali Khamenei menyampaikan riwayat ini sebagai bagian dari khazanah tafsir yang menjelaskan contoh-contoh historis yang disebut dalam Al-Qur’an.

Namun, menurut beliau, pesan Al-Qur’an tidak berhenti pada sejarah umat-umat terdahulu.

Justru peringatan itu diarahkan kepada umat Islam sendiri.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kaum beriman agar tidak mengalami kemunduran setelah memperoleh petunjuk. Salah satunya melalui firman Allah swt:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 144).

Pada ayat lain Allah swt juga memperingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti orang-orang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang, lalu kamu menjadi orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 149).

Menurut Imam Khamenei, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kemunduran bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi pada sebuah masyarakat yang telah memperoleh petunjuk. Sebuah umat dapat kehilangan arah apabila melupakan prinsip-prinsip yang dahulu mengangkat derajatnya.

Baca Juga  Jihad Tabyin: Saat Para Intelektual Wajib Bicara

Karena itu, membaca “ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn” bukan sekadar mengingat sejarah bangsa lain. Seorang mukmin sedang memohon agar dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya tidak mengulangi pengalaman pahit itu. Ia memohon agar nikmat iman tidak berubah menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah swt, dan agar petunjuk yang telah diterimanya tidak berakhir dengan kesesatan.

Di situlah letak kedalaman Surah Al-Fatihah. Setiap hari Al-Qur’an mengajarkan bahwa memperoleh hidayah adalah karunia yang agung, tetapi menjaganya adalah amanah yang jauh lebih besar. Jalan lurus bukan hanya tentang bagaimana seseorang memulai perjalanan menuju Allah, melainkan juga tentang bagaimana ia tetap setia hingga akhir.

Dalam pandangan Imam Khamenei, inilah salah satu pelajaran terbesar yang terkandung dalam penutup Surah Al-Fatihah. Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu untuk dikenang, melainkan cermin bagi setiap generasi. Sebab, setiap umat yang telah memperoleh nikmat Allah swt selalu menghadapi ujian yang sama: apakah mereka akan mensyukuri nikmat itu dengan istiqamah, atau justru kehilangan semuanya karena memilih berpaling dari jalan yang telah ditunjukkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar