Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs di Hadapan Para Guru dan Pekerja
Bismillahirrahmanirrahim
Pertama-tama, saya ucapkan selamat datang kepada seluruh saudara-saudari terkasih—para guru dan pekerja. Saya berharap dengan taufik dan karunia Tuhan, Anda sekalian sebagai dua lapisan masyarakat yang aktif dan konstruktif, dapat selalu menjalankan peran dan tanggung jawab besar Anda dengan sebaik-baiknya di negara tercinta dan lingkungan Islam kita. Hal ini sendiri akan menjadi jaminan bagi kemajuan negara.
Saya menyampaikan belasungkawa atas peringatan syahadah Imam Shadiq as kepada para Syiah dan pencari petunjuk dari obor ilahi yang agung tersebut. Kami juga memperingati syahadah mahaguru yang mulia, mendiang Ayatullah Motahhari. Semakin lama waktu berlalu sejak syahadahnya, peninggalan serta berkah spiritual dan intelektualnya justru menunjukkan dimensi-dimensi baru. Karya pemikiran dan ilmiah ulama mulia tersebut dari hari ke hari semakin tampak di ufuk pers negara dan pengetahuan agama kita. Manusia pun menyadari betapa berharganya kehidupan seorang ulama yang pemikir dan bertanggung jawab.
Penting bagi kaum muda, terutama mereka yang bergelut dengan kearifan dan ilmu—seperti para ulama, guru, mahasiswa, dan penulis—untuk menjalin hubungan erat dengan karya-karya Syahid Motahhari dan membaca buku-buku beliau. Buku-buku tersebut benar-benar memberikan wawasan yang luas dan, dalam banyak hal, memberikan cara pandang baru bagi pembacanya. Kami memohon kepada Allah Swt agar melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada ruh yang suci ini, menjadikan masyarakat kita menghargainya, dan memudahkan jalan bagi masyarakat kita untuk meneliti, mengkaji, berinovasi, serta memahami lebih dalam di bidang pengetahuan manusia dan Islam.
Namun, ada dua momen penting yang tidak boleh kita lewati begitu saja. Satu berkaitan dengan para pekerja dan yang lainnya berkaitan dengan para guru. Kedua lapisan masyarakat ini adalah pembangun masyarakat.
Mengenai Para Pekerja
Poin yang perlu saya sampaikan adalah bahwa bekerja merupakan sebuah nilai dan keutamaan Islami. Bekerja bukan sekadar seseorang melakukan aktivitas untuk membangun dan memproduksi—baik produksi industri, teknis, pertanian, maupun produksi apa pun yang bermanfaat bagi masyarakat—dan melakukan pekerjaan demi sesuap nasi. Lebih dari itu, setiap pekerja yang produktif sedang menghidupkan dan mewujudkan sebuah keutamaan Islami. Kerja adalah keutamaan dan nilai.
Dengan kata lain, sistem Islam dan tanah air kita tercinta, sejak tahun-tahun setelah revolusi hingga hari ini, selalu berhadapan langsung dengan musuh. Ini adalah kenyataan yang jelas bahwa selama bertahun-tahun, musuh-musuh Islam dan Iran, serta musuh-musuh keutamaan dan kebenaran, tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memukul Republik Islam dan rakyat Iran. Tentu saja, mereka sering kali gagal, namun mereka telah menunjukkan kebusukan dan niat buruk mereka.
Oleh karena itu, lingkungan Iran Islami adalah lingkungan perjuangan untuk menghadapi musuh. Dunia saat ini adalah dunia perjuangan. Siapa pun yang tidak bertahan dan berjuang menghadapi “serigala-serigala pemangsa manusia,” maka habislah dia. Bangsa yang tidak melawan musuh dan para penjajah dunia akan binasa; sebagaimana contoh nyata yang kita lihat di dunia.
Dalam medan perjuangan jihad dan Islami yang besar ini, bekerja adalah sebuah perjuangan. Anda para pekerja, baik di pabrik, di ladang, atau di titik mana pun Anda bekerja, pekerjaan tersebut membuat negara Anda tidak bergantung pada musuh dan pihak asing, serta membantu pembangunan negara dan kenyamanan rakyat. Anda sedang berjuang, dan perjuangan ini sangat efektif.
Saya sering mengutip hadis ini:
“رَحِمَ اللهُ اِمْرَءً عَمِلَ عَمَلاً فَأَتْقَنَهُ” “Allah merahmati seseorang yang melakukan suatu pekerjaan, lalu ia melakukannya dengan baik dan kokoh (profesional).” (1)
Pekerja Muslim harus melaksanakan dan menyerahkan hasil pekerjaannya lebih tinggi dan lebih baik daripada standar atau batas-batas kerja yang ada. Ini adalah budaya dan perintah Islam.
Mengenai Para Guru dan Pendidikan
Jika kita mempelajari riwayat-riwayat tentang guru, akan jelas bagi kita betapa tinggi nilai pendidikan menurut pandangan Islam. Misalnya, diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda:
“إنَّ اللهَ وَ مَلائِکَتَهُ حَتّی النَّملَةَ فی جُحرِها یُصَلُّونَ عَلی مُعَلِّمِ الخَیرِ” “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, bahkan semut di liangnya (dan seluruh makhluk), bershalawat (mendoakan) bagi pengajar kebaikan.” (2)
Ini adalah keistimewaan yang sangat besar. Maknanya adalah lingkungan masyarakat Islam harus seperti sekolah; lingkungan tempat belajar dan mengajar.
Pesan saya adalah, baik Anda seorang pekerja, pedagang, guru, mahasiswa, laki-laki, maupun perempuan; pada usia berapa pun, Anda harus selalu dalam kondisi belajar (ta’allum). Ada begitu banyak buku. Alokasikan waktu untuk membaca buku. Betapa banyak waktu kita terbuang sia-sia di perjalanan, di bus, saat mengantri, atau dalam obrolan yang tidak berguna. Jika waktu-waktu yang terbuang itu dikumpulkan, jumlahnya akan lebih banyak daripada masa studi seorang mahasiswa yang rajin.
Di sisi lain, setiap orang harus berusaha menjadi “guru” bagi satu sama lain; yakni mengajarkan apa yang mereka ketahui kepada orang lain. Dalam riwayat disebutkan:
“Seorang alim yang menyembunyikan ilmunya adalah terlaknat.”
Ini tidak hanya berlaku untuk ilmu agama. Dokter yang menyembunyikan ilmunya, insinyur yang menyembunyikan ilmunya, atau pekerja ahli yang menyembunyikan pengalamannya agar dimonopoli sendiri, semuanya termasuk dalam hal ini. Masyarakat harus menjadi lingkungan tempat saling belajar dan mengajar.
Perjuangan Melawan Kezaliman
Hari ini kita melihat dunia adalah medan perjuangan dua arah. Di satu sisi adalah para pemegang kekuasaan yang zalim, dan di sisi lain adalah bangsa-bangsa yang tertindas (mustadh’afin). Tangan-tangan kekuasaan yang kotor telah memenuhi dunia dengan kezaliman dan kecurangan (zulm wa jawr).
Sesuai dengan apa yang dikatakan Amirul Mukminin as tentang sebuah sistem pada masanya, hari ini bisa dikatakan tentang sistem arogan global (istikbar):
“مَا مِنْ بَیْتِ وَبَرٍ وَ لَا مَدَرٍ إِلَّا دَخَلَهَا ظُلْمُهُمْ وَ نَبَا بِهَا سُوءُ رَأْیِهِمْ” “Tidak ada rumah dari bulu (kemah) maupun dari tanah (permanen) kecuali kezaliman mereka memasukinya dan kebijakan buruk mereka merusaknya.” (6)
Tugas bangsa kita adalah melawan kezaliman dan ketidakadilan tersebut. Bagaimana caranya? Perjuangan ini mungkin bisa dilakukan dengan tangan kosong tanpa senjata, tetapi tidak bisa dilakukan dengan tangan kosong tanpa ilmu, pengetahuan, dan iman. Perjuangan ini menuntut kewaspadaan penuh, iman yang sempurna, dan upaya menyeluruh dari semua lapisan masyarakat—terutama generasi muda. Dan ini adalah tugas para guru.
Kami berharap Allah Swt memberikan taufik agar setiap dari kita dapat menjalankan tugas pendidikan dan pertumbuhan spiritual masyarakat sesuai kebutuhan. Semoga Allah memberikan berkah kepada seluruh guru di negara kita dan mencurahkan rahmat-Nya kepada semua orang yang sedang membangun negara ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Baca Juga:
Menelusuri Cinta, Rahasia, dan Keteladanan dalam Islam dalam Diri Fathimah
Lebih Mulia dari Sahabat? Paradoks Iman Tanpa Pernah Melihat Nabi
Antara Mimbar dan Istana: Siapa Sebenarnya yang Terseret Dunia?
Haji dan Politik Umat: Dari Ayat “Bara’ah” Menuju Persatuan Dunia Islam







