Mengapa Manusia Merindukan Keadilan yang Tak Pernah Datang 

KHAMENEI.ID— Dunia modern terus berbicara tentang kemajuan, tetapi diam-diam gagal menjawab satu pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia: mengapa keadilan selalu terasa begitu jauh? Teknologi berkembang luar biasa, gedung-gedung menjulang, kecerdasan buatan semakin canggih, tetapi manusia tetap hidup di tengah jurang ketimpangan. Sebagian kecil orang menguasai hampir seluruh kekayaan dunia, sementara jutaan lainnya bertahan hidup dalam kecemasan dan keterasingan.

Di tengah situasi itulah, konsep “menanti Imam Mahdi afs” sering kali dipahami secara sempit, sekadar menunggu datangnya seorang penyelamat di akhir zaman. Padahal, dalam tradisi Islam, khususnya dalam pemikiran Syiah, inti dari penantian itu bukan sekadar menunggu sosok, melainkan menunggu tegaknya keadilan.

Sebuah hadis yang sangat terkenal menggambarkan misi Imam Mahdi afs dengan kalimat singkat namun mengguncang:

يملأ الأرض قسطاً وعدلاً بعد ما ملئت ظلماً وجوراً
“Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan setelah dunia dipenuhi kezaliman dan penindasan.”

Kalimat itu sesungguhnya berbicara tentang harapan terbesar manusia sepanjang sejarah. Bukan sekadar kemenangan politik, bukan pula dominasi agama tertentu, melainkan kerinduan universal tentang dunia yang lebih adil.

Karena itu,  “pokok dari segala hal adalah keadilan.” Bahkan penantian panjang kaum Syiah terhadap Imam Mahdi afs pada dasarnya adalah penantian terhadap lahirnya dunia yang dibangun di atas keadilan.

Ini penting dipahami, sebab agama sering kali direduksi menjadi urusan ritual pribadi semata. Orang merasa cukup dengan ibadah individual, tetapi tidak peduli pada ketimpangan sosial. Padahal, dalam banyak ajaran Islam, keadilan justru ditempatkan sebagai fondasi utama kehidupan manusia.

Tanpa keadilan, agama bisa berubah menjadi simbol kosong.

Tanpa keadilan, hukum mudah dibeli.

Tanpa keadilan, kekuasaan hanya menjadi alat penindasan yang dibungkus slogan moral.

Baca Juga  Imam Ali dan Krisis Jiwa Para Penguasa: Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Mengenal Amanah

Mungkin itu sebabnya mengapa hampir semua revolusi besar dalam sejarah manusia selalu lahir dari rasa lapar terhadap keadilan. Dari budak-budak Romawi hingga rakyat modern di jalanan kota besar, manusia selalu memiliki satu mimpi yang sama: diperlakukan sebagai manusia.

Dan menariknya, konsep Imam Mahdi hadir bukan untuk mematikan perjuangan itu, melainkan untuk menjaganya tetap hidup.

Dalam riwayat panjang, disebutkan bagaimana Allah Ta’ala menjanjikan kasih sayang, rahmat, dan kedekatan-Nya kepada orang-orang yang beriman dan mengikuti jalan para Imam sebagai hujjah, penuntun moral bagi manusia. Riwayat itu tidak sekadar menyebut nama-nama para Imam dari Imam Hasan a.s, Imam Husain a.s, Imam Sajjad a.s, hingga Imam Mahdi afs, tetapi juga menggambarkan kesinambungan misi spiritual dan sosial mereka.

Ada pesan yang sangat halus di sana: kepemimpinan sejati dalam agama bukan hanya soal otoritas, tetapi soal menjaga arah moral manusia agar tidak tersesat dalam kekuasaan dan kerakusan.

Imam Mahdi afs, dalam konteks itu, bukan sekadar figur eskatologis yang akan muncul di akhir zaman. Ia adalah simbol puncak dari cita-cita keadilan yang tidak pernah boleh mati.

Masalahnya, banyak orang ingin dunia adil tanpa mau terlibat dalam perjuangan menegakkan keadilan. Mereka menunggu Imam Mahdi afs, tetapi diam terhadap korupsi. Mereka berbicara tentang akhir zaman, tetapi menormalisasi ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merindukan dunia tanpa kezaliman, tetapi tetap nyaman menjadi bagian dari sistem yang menindas orang lain.

Di situlah intizhar “penantian” menjadi konsep yang sangat aktif, bukan pasif.

Menanti bukan berarti duduk diam sambil menghitung hari. Menanti berarti mempersiapkan dunia agar layak menyambut keadilan. Dalam tradisi Islam, penantian terbaik justru dilakukan dengan memperbaiki diri, melawan ketidakadilan, menjaga integritas, dan membela orang-orang yang dilemahkan.

Baca Juga  Islamofobia dan Proyek Islam Kaffah: Mengapa Dunia Takut pada Kebangkitan Islam

Sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku menunggu pemimpin keadilan, tetapi dirinya sendiri terbiasa hidup dalam ketidakadilan?

Dunia hari ini sebenarnya sedang mengalami krisis besar: bukan kekurangan hukum, tetapi kekurangan nurani. Banyak negara memiliki konstitusi hebat, tetapi gagal melindungi rakyat kecil. Banyak pemimpin berbicara tentang demokrasi, tetapi lebih sibuk melayani oligarki. Banyak orang mengutuk tirani masa lalu, tetapi diam ketika penindasan terjadi di depan mata.

Dalam suasana seperti itu, konsep Imam Mahdi afs menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa sejarah manusia tidak boleh berakhir dalam keputusasaan. Bahwa seburuk apa pun dunia hari ini, keadilan tetap mungkin diperjuangkan.

Dan mungkin, inilah sisi paling menarik dari ajaran tentang Imam Mahdi afs: ia bukan hanya menawarkan harapan metafisik, tetapi juga tanggung jawab moral.

Harapan tanpa tanggung jawab hanya melahirkan pelarian spiritual.

Sebaliknya, harapan yang disertai perjuangan melahirkan keberanian.

Karena itu, keadilan dalam Islam bukan cita-cita abstrak yang menggantung di langit. Ia harus hadir dalam cara manusia bekerja, memimpin, berdagang, berbicara, bahkan memperlakukan keluarga dan tetangganya. Dunia yang adil tidak lahir tiba-tiba dari langit; ia dimulai dari manusia-manusia yang menolak menjadi bagian dari kezaliman kecil sehari-hari.

Pada akhirnya, menanti Imam Mahdi afs sesungguhnya adalah menanti kemenangan nilai-nilai kemanusiaan atas kerakusan dan penindasan. Ia adalah keyakinan bahwa sejarah tidak akan selamanya dikuasai oleh tiran, bahwa kebohongan tidak akan selalu menang, dan bahwa manusia masih memiliki kemungkinan untuk hidup dalam dunia yang lebih bermartabat.

Maka pertanyaan terbesarnya mungkin bukan lagi: “Kapan Imam Mahdi afs datang?”

Melainkan: apakah manusia hari ini benar-benar siap hidup dalam dunia yang dipenuhi keadilan?

Baca Juga  Haji, Persatuan Umat, dan “Haji Bara’ah”: Gagasan Imam Ali Khamenei tentang Politik Spiritual Islam
Bagikan:
Terkait
Komentar