Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Bismillahirrahmanirrahim

Kami telah menyampaikan pendahuluan mengenai keharusan menafsirkan Al-Qur’an dan keharusan merujuk kepadanya, serta metode kerja tafsirnya. Ringkasnya adalah bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, kami lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat berbahasa Persia saat ini, yaitu mengetahui terjemahan yang jelas dan lancar dari Al-Qur’an, kemudian menjelaskan konsep-konsep Al-Qur’an pada tingkat menengah.

(Maksud dari tingkat menengah adalah bahwa sebagian besar konsep Al-Qur’an memiliki puncak-puncak mistis (irfani), filosofis, dan makrifat. Kami tidak akan terlalu mendalami puncak-puncak tersebut kecuali dalam hal-hal yang mendesak و diperlukan). Misalnya, dalam Surah Al-Hamd ini, Imam (Khomeini) r.a. memberikan beberapa sesi pelajaran tafsir seputar topik ini yang merupakan puncak dari pembahasan irfani. Saya sendiri tidak mampu menjangkau puncak-puncak tersebut، dan untuk saat ini bagi masyarakat umum, saya menganggap tingkat menengah ini lebih mendesak, meskipun kelompok khusus tentu saja membutuhkan puncak-puncak itu juga. Dengan pendahuluan ini, kita memulai Surah Al-Hamd yang diberkati.

Definisi Surah

Pertama-tama, Surah adalah sebuah pasal atau bagian dari Al-Qur’an yang berputar di sekitar satu atau beberapa tema sentral. Setiap surah Al-Qur’an yang Anda perhatikan, Anda akan melihat satu tema dasar dengan beberapa tema utama di dalamnya, dan materi lainnya berputar di sekeliling tema utama tersebut. Bagian ini disebut “Surah”. Tentu saja, pembagian semacam ini berbeda dengan pembagian pasal yang biasa ada pada buku-buku karya manusia. Tidaklah demikian bahwa materi Al-Qur’an terbagi-bagi (secara kaku); misalnya materi tentang Tuhan, manusia, hari kiamat, kehidupan pribadi, atau kumpulan sistem sosial manusia masing-masing dijelaskan dalam satu pasal tersendiri.

Pasal-pasal Al-Qur’an yang disebut Surah ini, meskipun masing-masing merujuk dan berfokus pada satu tema utama, namun di dalam kumpulan tersebut terdapat berbagai materi dari seluruh pengetahuan yang tersebar di dalam Al-Qur’an. Dengan membaca satu surah, manusia akan mengenal sebagian besar pengetahuan Al-Qur’an, dan dengan tadabur pada satu surah, ia akan mencapai kedalaman makrifat Ilahi. Bagaimanapun, pembagian pasal ini dalam istilah Al-Qur’an dinamakan “Surah”.

Baca Juga  Persatuan Bukanlah Sebuah Taktik

Keistimewaan Surah Al-Hamd: Ummul Qur’an

Surah Al-Hamd berbeda dengan surah-surah lainnya. Jika seseorang bertanya, “Apa tema sentral Surah Al-Hamd?”, tidak mungkin memberikan satu jawaban saja kepadanya. Surah Al-Hamd adalah semacam “daftar isi” dari seluruh makrifat Al-Qur’an, atau katakanlah dari seluruh makrifat yang dibutuhkan seorang Muslim untuk senantiasa dipupuk dalam jiwanya dan diperdalam pemahamannya. Dalam Surah Al-Hamd semua itu ada melalui isyarat. Sebagai contoh, saya akan menyebutkan sebagian makrifat yang ada dalam Surah Al-Hamd:

  • “Tuhan” – makrifat tertinggi dari semua agama dan Islam.
  • Hubungan limpahan rahmat umum (faydh ‘am) Ilahi dengan seluruh maujud dan makhluk, yang merupakan salah satu konsep paling dasar dalam agama, yaitu hubungan Tuhan dengan seluruh maujud melalui pemberian nikmat secara umum.
  • Hubungan khusus Tuhan dengan hamba-hamba-Nya yang mukmin, di mana dari kedua pemberian ini (umum dan khusus) diistilahkan sebagai “Rahmat”.
  • Rububiyah Ilahi, di mana Rububiyah itu sendiri adalah konsep yang sangat penting dan termasuk makrifat Al-Qur’an yang luhur، yang akan kami jelaskan sedikit dalam makna Rabbul ‘Alamin.
  • Keterkaitan segala kebaikan dan keindahan wujud kepada Tuhan, yang merupakan salah satu pilar penting makrifat Al-Qur’an، di mana kita mencapai makrifat ini dalam Surah Al-Hamd di bawah kata Al-Hamd.
  • Masalah Penghambaan (Ubudiyah), penghambaan manusia dan di hadapan Tuhan, atau dengan kata lain penghambaan seluruh wujud di hadapan Tuhan:
    إِنْ كُلُّ مَنْ فِی السَّماواتِ وَالْأرْضِ إلّا آتِی الرَّحْمنِ عَبْدًا “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam: 93) Seluruh wujud memiliki penghambaan di hadapan Tuhan, contoh nyatanya adalah manusia. Penghambaan manusia di hadapan Tuhan ini adalah salah satu pilar dasar makrifat Islam yang sepenuhnya berbeda dengan makrifat sebagian agama lain.
  • Masalah Petunjuk (Hidayah) Ilahi dan mencarinya dari cakupan limpahan Tuhan.
  • Masalah Kiamat (Ma’ad) yang juga merupakan salah satu rukun terpenting makrifat Ilahi.
  • Pembagian manusia menjadi tiga kelompok: mereka yang diberi petunjuk, mereka yang sesat, dan mereka yang dimurkai.
  • Pada akhirnya, memohon kepada Tuhan (Berdoa).
Baca Juga  Bertahan di Tengah Dunia yang Mengajarkan Ketamakan 

Semua makrifat ini, yang masing-masing merupakan pasal sangat penting dari pengetahuan Ilahi, semuanya ada di dalam Al-Qur’an dan semuanya hadir dalam Surah Al-Hamd dalam bentuk singkat dan isyarat. Tentu saja, saat kita mengatakan “isyarat”, maknanya bukanlah bahasa sandi, melainkan dengan menjelaskan semua kata dalam Surah Al-Hamd ini, semua makrifat tersebut dapat dikenali dan dipahami. Jadi, Surah Al-Hamd memiliki perbedaan ini dengan surah Al-Qur’an lainnya، yaitu tidak memiliki satu tema sentral saja, melainkan merupakan kumpulan dari tema-tema sentral dan induk masalah-masalah Al-Qur’an. Karena itulah Surah Al-Hamd disebut “Ummul Qur’an”. Umm berarti sesuatu yang segala sesuatu kembali kepadanya; rujukan, tujuan. Orang Arab menyebut ibu sebagai “Umm” karena anak kembali kepadanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita melihat dalam tafsir yang saya sebutkan tadi, Imam (Khomeini) menjelaskan tentang huruf ba pada Bismillah dan kedudukan Bismillah selama satu atau dua sesi pertemuan atau lebih.

 

Penjelasan Bismillahir Rahmanir Rahim

Surah ini, seperti semua surah lainnya kecuali Surah Al-Bara’ah (At-Taubah), dimulai dengan nama Allah. Alasan mengapa Surah Al-Bara’ah tidak dimulai dengan kalimat agung ini secara ringkas adalah karena Bismillah menunjukkan rahmat, kelembutan, dan perhatian, sedangkan ayat-ayat awal Surah Al-Bara’ah menunjukkan kemarahan, kekuasaan, dan pembalasan (berlepas diri), sehingga surah tersebut tidak memiliki kesesuaian dengan Bismillah. Jika dalam perjalanan tafsir Al-Qur’an kita sampai pada surah tersebut, kita akan membicarakannya lebih lanjut.

Mengapa surah-surah Al-Qur’an dan setiap pekerjaan dalam Islam—setiap ucapan, setiap gerakan, dan tindakan—dimulai dengan nama Tuhan? Memulai dengan nama Tuhan menunjukkan arah dan keterkaitan pekerjaan atau ucapan tersebut. Sebagaimana memulai dengan nama siapa pun atau apa pun juga memiliki khasiat yang sama. Ketika Anda memulai pekerjaan dengan nama Tuhan, Anda memahamkan bahwa pekerjaan ini adalah milik Tuhan. Sebagaimana Anda memahamkan bahwa tempat kembalinya pekerjaan ini juga kepada Tuhan، artinya arah pekerjaan ini adalah menuju Tuhan. Oleh karena itu, ketika sebuah surah—kumpulan kata-kata cahaya—dimulai dengan nama Tuhan, artinya ucapan ini milik Tuhan، menuju kepada Tuhan، dan searah dengan makrifat Tuhan.

  • Bismillah: Huruf Ba pada Bismillah berarti “dengan memohon pertolongan” kepada nama ini. Ba tersebut sama dengan ba yang dalam bahasa Persia digunakan dengan makna yang hampir sama.
  • Ism: Berarti “nama”. Basm berarti “dengan nama”.
  • Bismillah: Berarti “Dengan nama Allah”, dengan memohon pertolongan dari nama ini, atau dengan menyertai nama ini, atau dengan memperhatikan nama ini.
  • Allah: Adalah nama Tuhan. Sebagian mengatakan Allah itu asalnya adalah Al-Ilah, di mana Alif dan Lam makrifah masuk ke atas kata Ilah. Ilah berarti sembahan (ma’bud), yaitu sosok yang hati dan jiwa terpesona serta tertuju kepadanya. Alif dan Lam adalah huruf penentu, artinya Ilah dan sembahan tertentu yang merupakan pencipta langit, bumi, dan semua maujud. Lambat laun kata tersebut menyatu dan menjadi “Allah”. Sebagian lain mengatakan asalnya bukan Al-Ilah, melainkan kata “Allah” memang diciptakan (sebagai nama) untuk nama Tuhan dan Zat Suci Sang Pencipta. Nama-nama yang kita baca untuk Tuhan adalah sifat-sifat Tuhan yang bersandar pada Zat-Nya. “Allah” adalah nama (Zat) Tuhan. Jadi Bismillah berarti “Dengan nama Allah”.
Baca Juga  Jangan Lari dari Dunia: Cara Islam Menyembuhkan Salah Paham tentang Akhirat

Baca Juga:

Shalat Part 1: Risalah Edukatif | Kumpulan Hukum Shalat 

Haji, Persatuan, dan Harapan: Membaca Ayat-Ayat Ketahanan dalam Pesan Haji

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (1): Dari Ide yang Menggerakkan Iran, ke Istilah yang Kita Abaikan

 

Bagikan:
Terkait
Komentar