Brigadir Jenderal Reza Talaee Nik menyampaikan pernyataan tersebut setibanya di Kirgistan untuk menghadiri pertemuan menteri pertahanan negara-negara anggota SCO (Organisasi Kerja Sama Shanghai). Kedatangannya disambut oleh Jenderal Talantbek Talipov, komandan Pasukan Pertahanan Udara Kirgistan.
Jenderal Iran tersebut menyatakan bahwa AS tidak lagi berada dalam posisi untuk mendiktekan kebijakan-kebijakannya kepada negara-negara merdeka. Ia menambahkan bahwa realitas ini telah menjadi jelas bagi dunia melalui ketahanan rakyat dan Angkatan Bersenjata Iran selama perang agresi AS-Israel baru-baru ini.
Ia mengatakan bahwa Washington pada akhirnya harus menerima untuk melepaskan tuntutan-tuntutannya yang melanggar hukum dan tidak masuk akal.
Simbol “Terorisme Negara”
Talaee Nik lebih lanjut mencatat bahwa saat ini banyak pihak di seluruh dunia menganggap AS dan rezim Zionis sebagai simbol terorisme negara.
Meskipun Iran tetap siap untuk memastikan pertahanan yang kuat dan memenuhi kebutuhan Angkatan Bersenjatanya, wakil menteri tersebut menyatakan bahwa Iran juga siap untuk berbagi kapabilitas militer defensifnya dengan negara-negara merdeka, khususnya anggota SCO.
Ia menekankan bahwa Iran siap mentransfer pengalamannya dalam mengalahkan AS kepada anggota SCO lainnya.
Konteks Konflik
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan perang agresi tanpa provokasi terhadap Iran. Dalam peristiwa tersebut, Pemimpin Revolusi Islam saat itu, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, beserta beberapa pejabat militer senior gugur (syahid).
Angkatan Bersenjata Iran membalas dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) selama berminggu-minggu yang menargetkan posisi militer Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta kawasan Teluk Persia. Serangan balik tersebut menimbulkan kerusakan berat dalam **100 gelombang serangan** selama periode 40 hari.
Gencatan Senjata dan Negosiasi
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan selama dua minggu tercapai pada 8 April, membuka jalan bagi pembicaraan di Islamabad. Selama negosiasi tersebut, Iran mengajukan proposal sepuluh poin yang mencakup penarikan pasukan AS dan penghapusan sanksi.
Iran telah mempertegas bahwa setiap upaya untuk kembali ke negosiasi gencatan senjata bergantung pada pencabutan blokade angkatan laut AS. Para pejabat berpendapat bahwa blokade yang terus berlanjut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gen catan senjata.







