KHAMENEI.ID– Setiap orang terpesona pada peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Momen ketika Malaikat Jibril datang membawa pesan langit dan mengucapkan satu kata yang mengubah sejarah manusia: “Iqra” bacalah. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa wahyu itu tidak turun lebih awal? Mengapa Muhammad harus menunggu hingga usia empat puluh tahun?
Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah kenyataan penting yang sering terlupakan. Wahyu tidak turun kepada seseorang secara kebetulan. Sebelum menerima amanah terbesar dalam sejarah kemanusiaan, Nabi Muhammad saw terlebih dahulu mengalami proses pembangunan spiritual yang panjang. Sebelum menjadi penyampai pesan Tuhan, beliau harus menjadi manusia yang siap menerima pesan itu.
Nabi saw sendiri pernah menjelaskan tujuan utama kenabiannya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”
Kalimat ini mengandung makna yang sangat mendalam. Jika misi kenabian adalah menyempurnakan akhlak manusia, maka pembawa misi itu harus terlebih dahulu menjadi teladan tertinggi dalam akhlak. Tidak mungkin seseorang ditugaskan membimbing manusia menuju puncak moralitas jika dirinya sendiri belum mencapai kematangan moral.
Karena itulah Al-Qur’an, bahkan pada masa-masa awal kenabian, sudah memberikan kesaksian yang luar biasa kepada Muhammad saw:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sungguh, engkau berada di atas budi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menarik. Ia turun pada awal dakwah, bukan setelah Nabi berhasil membangun peradaban besar atau memimpin negara. Seakan-akan Allah ingin menegaskan bahwa sebelum tugas besar itu dimulai, fondasinya sudah selesai dibangun: akhlak yang agung.
Di sinilah kita menemukan sisi lain dari kehidupan Nabi saw sebelum masa kenabian. Banyak orang mengenalnya sebagai pedagang sukses yang jujur dan terpercaya. Namun yang jarang disadari adalah bagaimana beliau menggunakan keberhasilannya.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa keuntungan besar yang diperolehnya dari perdagangan tidak membuatnya tenggelam dalam kemewahan. Sebaliknya, harta itu banyak disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Semakin dekat kepada kesuksesan duniawi, semakin jauh beliau dari keterikatan terhadap dunia itu sendiri.
Barangkali inilah pelajaran pertama dari proses pembentukan spiritual Nabi saw: kebesaran tidak lahir dari apa yang dimiliki seseorang, melainkan dari kemampuannya melepaskan diri dari apa yang dimilikinya.
Menjelang usia empat puluh tahun, ada kebiasaan yang semakin sering dilakukan Muhammad saw. Beliau mendaki Gua Hira di Jabal Nur, sebuah tempat sunyi yang menghadap hamparan langit dan padang pasir Makkah. Di sana beliau tidak sedang mencari ketenaran, pengikut, atau kekuasaan. Beliau sedang mencari makna.
Dari puncak Hira, beliau memandangi langit yang luas, gugusan bintang yang berkelip, gunung-gunung yang kokoh, serta manusia-manusia yang hidup dengan berbagai watak dan jalan hidup. Semua itu tidak dilihat sebagai pemandangan biasa. Dalam setiap fenomena, beliau menemukan tanda-tanda kehadiran Tuhan.
Semakin lama beliau merenung, semakin dalam kerendahan hatinya. Semakin banyak beliau mengamati alam semesta, semakin kecil beliau merasa di hadapan Sang Pencipta.
Di era modern, manusia justru sering mengalami kebalikan. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin besar rasa percaya dirinya. Semakin tinggi teknologi yang dikuasai, semakin kuat ilusi bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.
Muhammad menunjukkan jalan yang berbeda. Pengetahuan tidak membuatnya sombong. Pengamatan terhadap alam tidak menjauhkannya dari Tuhan. Justru semakin luas pandangannya, semakin dalam ketundukannya.
Sebuah riwayat menggambarkan kondisi batin Nabi menjelang turunnya wahyu. Ketika beliau mencapai usia empat puluh tahun, Allah Ta’ala melihat hatinya sebagai hati yang paling bersih, paling luas, paling taat, paling khusyuk, dan paling rendah hati dibandingkan manusia lain pada zamannya.
Menarik untuk dicermati bahwa yang dinilai bukan kecerdasannya, bukan kekayaannya, bahkan bukan popularitasnya. Yang menjadi ukuran adalah kualitas hati.
Di zaman yang mengukur keberhasilan dengan angka, jabatan, dan pencapaian materi, pesan ini terasa sangat menusuk. Langit tidak membuka pintunya karena seseorang kaya. Langit juga tidak terbuka karena seseorang terkenal. Yang membuka pintu-pintu itu adalah kesiapan jiwa.
Riwayat tersebut kemudian menggambarkan momen yang menakjubkan. Ketika kesiapan itu mencapai puncaknya, tabir antara dunia manusia dan alam gaib mulai tersingkap. Pintu-pintu langit dibuka. Para malaikat turun. Muhammad saw mulai menyaksikan realitas yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan manusia biasa.
Hingga akhirnya datanglah Jibril, malaikat pembawa wahyu.
Ia mendekat kepada Muhammad saw dan berkata:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Inilah awal kerasulan. Namun sesungguhnya, kisah itu tidak dimulai pada malam turunnya wahyu. Ia dimulai bertahun-tahun sebelumnya, ketika seorang manusia memilih kesunyian daripada keramaian, memilih perenungan daripada kesibukan yang tak bermakna, memilih membersihkan hati daripada mengejar pujian manusia.
Wahyu turun pada malam tertentu. Tetapi persiapan untuk menerima wahyu berlangsung sepanjang hidup.
Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari kisah Nabi saw sebelum bi’tsah (waktu pengangkatan sebagai Nabi). Perubahan besar tidak pernah lahir secara instan. Bahkan manusia terbaik dalam sejarah pun harus melewati proses panjang pembentukan diri sebelum menerima amanah besar.
Di tengah dunia yang serba cepat, kita sering ingin hasil tanpa proses, kedalaman tanpa perenungan, dan pengaruh tanpa pembentukan karakter. Padahal sejarah kenabian mengajarkan sesuatu yang berbeda: sebelum Tuhan mempercayakan tugas besar kepada seseorang, Dia terlebih dahulu membangun kapasitas batinnya.
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah kapan peluang besar akan datang kepada kita. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika peluang itu datang, apakah hati kita sudah siap menerimanya?







