TEHERAN – Ibu kota Iran memutih. Rabu sore itu, ribuan orang tumpah ruah ke jalanan, mengubah poros utama dari Alun-alun Imam Hossein hingga Alun-alun Azadi menjadi lautan manusia. Mereka berkumpul untuk merayakan milad Imam Reza—Imam kedelapan dalam tradisi Syiah—namun suasana tahun ini terasa berbeda. Tak sekadar seremoni religius, kerumunan ini membawa pesan politik yang pekat.

Di sepanjang rute pawai, bendera triwarna Iran berkibar bersanding dengan poster-poster wajah mendiang Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Seyed Ali Khamenei. Kehadiran massa yang masif ini seolah menjadi panggung unjuk kekuatan sekaligus ruang bagi publik untuk memperbarui janji setia mereka terhadap cita-cita revolusi yang diletakkan oleh Imam Khomeini.
Namun, ada yang baru dalam yel-yel yang membahana. Di tengah riuh rendah doa, terselip pesan kesetiaan yang dialamatkan kepada pemimpin baru, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei. Melalui spanduk-spanduk besar dan slogan yang diteriakkan serempak, massa memberikan sinyal dukungan penuh bagi suksesi kepemimpinan di tengah situasi dalam negeri yang masih bergejolak.
Nuansa heroik menyelimuti jalannya aksi hingga pukul sembilan malam. Bukan tanpa alasan, rapat umum tahun ini digelar di bawah bayang-bayang trauma agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang baru saja menghantam Iran. Gugurnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei dalam konflik tersebut telah mengubah wajah perayaan tahunan ini menjadi simbol perlawanan yang lebih simbolis dan epik.

Bagi warga Iran, berkumpul di Azadi bukan sekadar merayakan hari kelahiran sang Imam, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa di tengah kepungan sanksi dan ancaman perang, barisan mereka belum retak. Fenomena serupa dilaporkan juga terjadi serentak di berbagai kota besar di seluruh penjuru negeri.







