Di tengah banjir informasi dan perang narasi yang tak pernah berhenti, ada satu istilah yang kembali mengemuka: jihad tabyin—perjuangan dalam menjelaskan kebenaran. Dalam sejumlah ceramahnya, Imam Ali Khamenei menyebut konsep ini sebagai warisan panjang sejarah Islam, yang jejaknya dimulai dari sosok perempuan paling berpengaruh dalam keluarga Nabi: Fatimah Az-Zahra sa.
Narasi ini dimulai dari masa yang sangat singkat setelah wafat Nabi Muhammad. Dalam periode penuh guncangan itu, Fatimah tampil bukan sebagai figur domestik, melainkan sebagai suara publik yang lantang. Ia menyampaikan dua khutbah yang kemudian dikenal sebagai karya retorika luar biasa dalam tradisi Islam. Salah satunya dibuka dengan kalimat terkenal, “الحمد لله على ما أنعم وله الشكر على ما ألهم”—pujian kepada Tuhan atas nikmat dan ilham-Nya—yang disampaikan di hadapan para sahabat. Para ahli retorika bahkan menilai khutbah ini sebanding dengan khazanah pidato klasik yang kelak dihimpun dalam karya-karya besar khotbah Islam. Khutbah kedua ditujukan kepada perempuan Muhajirin dan Anshar, dengan ungkapan tajam yang menggambarkan kekecewaan dan kritik sosial terhadap situasi politik saat itu.
Dalam perspektif Imam Khamenei, dua khutbah ini bukan sekadar pidato religius, melainkan contoh awal jihad tabyin: perjuangan melalui kata, argumen, dan penjelasan. Ia melihat Fatimah sebagai figur yang menggunakan bahasa untuk mempertahankan nilai, mengoreksi arah masyarakat, dan menjaga warisan Nabi Muhammad saw di tengah perubahan politik yang cepat. Dalam pandangan ini, kata-kata bukan sekadar retorika; ia adalah instrumen perjuangan.
Gagasan ini kemudian melompat jauh ke abad ke-20. Khamenei menyebut tokoh yang ia anggap sebagai pelaku jihad tabyin terbesar di era modern: Ruhullah Khomeini qs. Ia menggambarkan bagaimana revolusi Iran tidak dimulai dengan tank atau senjata, melainkan dengan ceramah, kaset pidato, dan bahasa yang mampu menggerakkan massa. Dari awal gerakan hingga pidato legendaris di Behesht-e Zahra, Imam Khomeini membangun revolusi melalui persuasi publik. Dalam narasi ini, kemenangan revolusi dipahami sebagai kemenangan penjelasan—kemenangan kata-kata atas kekuasaan monarki yang dianggap korup dan otoriter.
Imam Khamenei menekankan bahwa banyak kelompok lain pada masa itu memilih jalur bersenjata, termasuk kelompok-kelompok bersenjata berhaluan kiri. Mereka bergerak cepat, menggunakan senjata, dan berharap perubahan datang melalui konfrontasi fisik. Namun, menurut narasi pidato ini, upaya tersebut berakhir dengan kegagalan, represi, atau penyimpangan ideologis. Beliau bahkan mengisahkan pertemuan dengan seorang pemuda yang terlibat dalam kelompok bersenjata Marxist. Ketika disarankan untuk berbicara kepada rakyat dan menjelaskan gagasan mereka, pemuda itu menjawab: “Itu cara Islam.” Jawaban yang, dalam logika ini, justru menguatkan tesis bahwa kekuatan Islam terletak pada persuasi moral.
Di sinilah konsep jihad tabyin berubah dari kisah sejarah menjadi seruan masa kini. Menurut Imam Khamenei, perjuangan menjelaskan kebenaran tidak berhenti pada masa Fatimah atau Khomeini. Ia berlanjut pada generasi sekarang—khususnya para penceramah dan pelantun syair keagamaan. Dalam tradisi Syiah, mereka bukan sekadar pengisi acara keagamaan, melainkan penjaga memori kolektif dan identitas spiritual masyarakat.
Beliau mengajak melihat peran ini dengan sudut pandang baru. Aktivitas keagamaan yang sering dipandang seremonial sebenarnya adalah bagian dari rantai panjang sejarah narasi. Dari masa keluarga Nabi hingga revolusi modern, suara-suara yang menjaga ingatan kolektif dianggap berperan dalam mempertahankan identitas keagamaan dan politik. Dalam kerangka ini, perubahan sosial tidak selalu lahir dari kekuatan militer, melainkan dari kemampuan memengaruhi hati dan pikiran masyarakat.
Bagi pembaca masa kini, gagasan ini terasa relevan dalam era media sosial dan perang informasi global. Jika dahulu khutbah disampaikan di masjid atau kaset pidato diedarkan secara diam-diam, kini medan jihad tabyin meluas ke ruang digital. Narasi, opini, dan informasi bersaing memperebutkan perhatian publik setiap detik. Pertanyaan yang muncul: siapa yang menguasai narasi, dan bagaimana kebenaran dipertahankan di tengah banjir informasi?
Di ujung pidato itu, pesan yang tersisa bersifat reflektif. Sejarah, dalam pandangan ini, bukan sekadar rangkaian peristiwa, melainkan rangkaian narasi yang diperjuangkan. Dari mimbar Fatimah hingga revolusi Iran, dari khutbah klasik hingga media modern, perjuangan menjelaskan kebenaran dianggap sebagai benang merah yang terus menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Dan mungkin, di era ketika informasi bisa menjadi senjata paling kuat, jihad tabyin menemukan maknanya yang paling relevan.







