Terjemahan Bahasa Mandarin untuk Buku “Cell No. 14: The Autobiography of Ayatollah Khamenei” Diluncurkan di Pameran Buku Internasional Beijing

Di luar riuh rendah suara mesiu di medan laga, konflik soft power acap kali melahirkan gelombang reaksi yang sulit ditebak. Sejarah mencatat, setelah serangan 11 September 2001, dunia justru menyaksikan lonjakan minat baca Al-Qur’an yang tajam, memaksa penerbit-penerbit Barat merilis ulang kitab suci itu demi memuaskan rasa ingin tahu publik.

Pola serupa kini berulang di Asia Timur. Serangan Amerika-Zionis ke Iran pada 28 Februari lalu, yang berujung pada gugurnya Pemimpin Umat, Imam Ali Khamenei qs, memantik gairah baru di Tiongkok. Publik di negeri itu mendadak haus akan sosok sang Pemimpin Syahid dan ingin membedah napas Revolusi Islam dari akarnya.

Menangkap momentum tersebut, penerbitan terjemahan bahasa Mandarin buku Cell No. 14: The Autobiography of Ayatollah Khamenei menjadi langkah strategis. Peluncuran buku ini bertepatan dengan ajang Pameran Buku Internasional Beijing ke-30, sebuah panggung prestisius bagi dunia literasi global.

Buku setebal 359 halaman ini digarap serius oleh Chi Wen Deng, profesor di Beijing International Studies University. Bukan sekadar karya terjemahan biasa, kehadiran buku ini dipandang sebagai kelanjutan dari interaksi panjang Iran-Tiongkok yang mencakup ranah ilmiah, budaya, hingga seni.

Tak hanya edisi cetak yang menyapa rak-rak toko buku di Tiongkok, versi digitalnya pun kini telah melenggang di berbagai platform daring. Reaksinya di luar dugaan: potongan-potongan memoar, catatan pribadi, hingga narasi blak-blakan tentang masa lalu sang Pemimpin Revolusi yang syahid tersebut viral di media sosial Tiongkok. Di ruang digital mereka, sosok Khamenei menjadi perbincangan hangat, mencerminkan ketertarikan yang melampaui batas geografis.

Cell No. 14: The Autobiography of Ayatollah Khamenei memang bukan sekadar autobiografi. Di dalamnya, pembaca diajak menyelami jeruji besi penjara dan dinginnya pengasingan selama masa perjuangan revolusioner. Yang membuat buku ini menonjol dibandingkan catatan serupa lainnya adalah kejernihan hikmah dan wawasan moral yang ia tawarkan.

Baca Juga  Persatuan Dunia Islam dan Ketakutan Amerika: Pandangan Imam Ali Khamenei tentang Politik Perpecahan

Bagi kaum muda Tiongkok yang membacanya, buku ini menjadi cermin kontras: di satu sisi mereka disuguhi potret kekejaman rezim Pahlavi yang represif, namun di sisi lain, mereka melihat keteguhan, resistensi, serta keimanan revolusioner yang tak goyah diterjang badai. Dilengkapi dengan narasi otobiografi asli, dokumentasi foto, dan indeks yang komprehensif, buku ini seolah menawarkan “kunci” bagi pembaca untuk memahami mengapa nama Khamenei terus berkibar meski raganya telah tiada.

Baca juga: Biografi Imam Ali Khamenei QS, jejak pendidikan agama, penjara, pengasingan, hingga menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam

Bagikan:
Terkait
Komentar