KHAMENEI.ID– Ada perbedaan besar antara mengetahui bahwa sesuatu itu benar dan pernah mengalaminya sendiri. Kita bisa membaca tentang keberanian, membicarakan keteguhan, bahkan meyakini bahwa kesulitan pada akhirnya dapat dilalui. Namun semua itu berubah ketika hidup benar-benar menempatkan kita di hadapan sebuah rintangan.
Di situlah sebuah keyakinan diuji: apakah ia hanya tinggal sebagai kalimat yang diucapkan, atau telah menjelma menjadi pengalaman yang membentuk watak.
Perang delapan tahun Iran-Irak, atau yang di Iran disebut sebagai periode “Pertahanan Suci” dilihat bukan semata sebagai rangkaian pertempuran. Di balik kehancuran, kehilangan, dan panjangnya masa pertahanan, terdapat pengalaman sosial yang meninggalkan jejak lebih dalam: pengalaman bahwa sebuah masyarakat dapat bertahan ketika berhadapan dengan tekanan yang tampaknya jauh lebih besar daripada kemampuannya.
Salah satu warisan terpenting dari perang itu, dalam pandangan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, adalah terjaganya semangat revolusi dan daya gerak di tengah generasi muda serta masyarakat. Perang menjadi semacam ruang ujian yang memaksa keyakinan turun dari kepala ke kenyataan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan cita-cita. Ia membutuhkan pengalaman bahwa cita-cita itu mungkin diperjuangkan.
Dalam kehidupan masyarakat, hambatan hampir selalu datang bersama keinginan untuk bergerak maju. Semakin tinggi tujuan yang hendak dicapai, semakin banyak pula rintangan yang mungkin muncul. Terlebih ketika tujuan itu tidak semata-mata berhubungan dengan keuntungan material atau perebutan kekuasaan. Cita-cita yang membawa dimensi moral dan spiritual, yang menolak dominasi keserakahan dan ketundukan kepada kepentingan duniawi, hampir selalu berhadapan dengan kekuatan yang ingin mempertahankan keadaan lama.
Karena itu, persoalan terpenting bukanlah apakah sebuah masyarakat akan menghadapi kesulitan. Kesulitan hampir pasti datang. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apakah masyarakat itu percaya bahwa ia mampu melewatinya?
Di titik ini, pengalaman menjadi lebih kuat daripada sekadar pengetahuan.
Al-Quran mengajarkan prinsip tawakal dengan kalimat yang begitu singkat:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat itu mungkin telah dibaca ribuan kali. Ia dapat dihafalkan, dikutip dalam ceramah, ditulis dalam buku, bahkan dijadikan penguat ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan. Tetapi mengetahui prinsip tawakal dan mengalami bagaimana tawakal bekerja adalah dua perkara yang berbeda.
Syahid Ali Khamenei menggunakan kisah Nabi Ibrahim a.s untuk menggambarkan perbedaan itu. Ketika Ibrahim a.s meminta kepada Tuhan agar diperlihatkan bagaimana orang mati dihidupkan kembali, Tuhan bertanya apakah ia belum percaya. Ibrahim a.s menjawab bahwa ia percaya, tetapi ia ingin hatinya menjadi tenteram.
قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Benar, aku percaya. Tetapi agar hatiku menjadi tenteram” (QS. Al-Baqarah: 260)
Ada sesuatu yang manusiawi dalam permintaan itu. Keimanan bukan hanya perkara mengetahui. Ada saat ketika manusia membutuhkan pengalaman yang membuat sebuah kebenaran terasa sampai ke kedalaman dirinya.
Kita mungkin tahu bahwa keberanian diperlukan. Tetapi keberanian baru mempunyai bobot ketika seseorang berdiri di tengah ketakutan dan tetap memilih untuk bertahan. Kita mungkin percaya bahwa kesulitan dapat dilewati. Namun keyakinan itu memperoleh bentuknya ketika jalan di depan benar-benar tertutup dan seseorang tetap mencari celah untuk melangkah.
Begitu pula dengan tawakal.
Ia bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika semua pilihan masih tersedia. Tawakal menemukan maknanya ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar daripada kekuatannya, tetapi tetap tidak menyerah kepada keputusasaan.
Pengalaman perang, dengan segala tragedinya, menjadi ruang tempat keyakinan semacam itu diuji. Sebuah masyarakat yang sebelumnya hanya membaca tentang pertolongan Tuhan kini merasa pernah menyaksikan sendiri bagaimana keteguhan dapat mengubah hubungan antara manusia dan hambatan.
Dari sana lahir sesuatu yang lebih sulit dihancurkan daripada kemenangan dalam satu pertempuran: kepercayaan diri kolektif.
Sebuah bangsa yang pernah melewati masa sulit dengan bertahan akan memandang kesulitan berikutnya secara berbeda. Bukan karena rintangan menjadi lebih kecil, melainkan karena ukuran dirinya telah berubah. Ia pernah mengalami tekanan, tetapi tidak runtuh. Ia pernah berada dalam keadaan sulit, tetapi tetap bergerak.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah salah satu persoalan manusia modern. Kita hidup di tengah banjir informasi tentang bagaimana menghadapi krisis, bagaimana menjadi kuat, bagaimana tetap optimistis. Tetapi informasi tidak selalu melahirkan ketangguhan. Kadang-kadang justru pengalamanlah yang mengubah seseorang.
Kita tidak menjadi kuat hanya karena membaca bahwa manusia harus kuat. Kita menjadi kuat setelah melewati sesuatu yang pernah kita kira tidak mungkin kita lewati.
Karena itu, kalimat Al-Quran yang lain terasa seperti gema dari pengalaman tersebut:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu menjadi lemah dan jangan bersedih hati; kamu akan menjadi unggul jika kamu benar-benar beriman” (QS. Ali Imran: 139)
Ayat itu bukan janji bahwa hidup akan terbebas dari kesulitan. Justru sebaliknya, ia mengandaikan adanya kesulitan. Yang ditawarkan adalah kemungkinan untuk tidak dikalahkan olehnya.
Pada akhirnya, barangkali warisan paling penting dari sebuah masa sulit bukanlah cerita tentang bagaimana seseorang atau sebuah bangsa tidak pernah jatuh. Warisan itu justru terletak pada pengetahuan yang lebih sederhana: jatuh tidak selalu berarti selesai.
Ada pengalaman-pengalaman tertentu yang baru kita pahami setelah melewatinya. Kita baru mengetahui seberapa kuat keyakinan kita ketika ia berhadapan dengan ketakutan. Kita baru memahami arti keteguhan ketika menyerah menjadi pilihan yang paling mudah. Dan kita baru benar-benar mengerti tawakal ketika semua yang berada dalam kendali manusia terasa tidak lagi cukup.
Barangkali karena itulah pengalaman menjadi penting bagi sebuah bangsa maupun bagi seorang manusia. Sebab pada akhirnya, keyakinan yang hanya tinggal di dalam pikiran mudah goyah oleh badai. Tetapi keyakinan yang telah melewati badai akan memiliki ingatan.
Dan ingatan tentang pernah bertahan itulah yang membuat seseorang berani menghadapi badai berikutnya.







