KHAMENEI.ID –
Mengapa Surah Al-Fatihah tidak hanya mengajarkan kita meminta hidayah, tetapi juga memilih teladan yang benar?
Setiap hari, seorang muslim berdoa:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6–7).
Selama ini, perhatian banyak orang sering berhenti pada permohonan “jalan yang lurus”. Padahal, Al-Qur’an tidak membiarkan istilah itu tetap abstrak. Jalan lurus segera diberi identitas: ia adalah jalan orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah swt.
Lalu siapakah mereka?
Dalam salah satu penjelasannya mengenai Surah Al-Fatihah, Imam Ali Khamenei (qs) menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan seorang mukmin untuk mencari petunjuk, tetapi juga mengajarkan kepada siapa ia harus meneladani perjalanan hidupnya. Hidayah bukan sekadar mengetahui arah, melainkan berjalan di jejak orang-orang yang telah membuktikan kesetiaan mereka kepada Allah swt.
Karena itu, menurut beliau, ungkapan “الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” bukan sekadar doa, tetapi penunjuk tentang siapa yang layak dijadikan contoh.
Imam Ali Khamenei menghubungkan ayat ini dengan firman Allah swt dalam Surah An-Nisa’:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69).
Ayat ini, menurut beliau, menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Mereka adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dalam konteks ceramah tersebut, Imam Khamenei secara khusus menempatkan para syuhada sebagai salah satu contoh nyata dari golongan yang termasuk “orang-orang yang diberi nikmat”.
Namun, beliau juga mengingatkan bahwa memperoleh nikmat Allah bukanlah jaminan seseorang akan tetap berada di jalan yang benar hingga akhir.
Di sinilah letak pelajaran penting yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah.
Menurut Imam Khamenei, Al-Qur’an memperlihatkan bahwa ada dua kelompok manusia yang sama-sama pernah menerima karunia Allah.
Kelompok pertama adalah mereka yang menerima nikmat, lalu menjaga amanah itu hingga akhir. Mereka tetap istiqamah, tidak menyimpang, dan tidak menjadi sasaran kemurkaan Allah. Inilah golongan yang dimaksud dalam doa “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat”.
Kelompok kedua adalah mereka yang juga pernah menerima karunia Allah swt, tetapi kemudian mengingkarinya. Mereka menyia-nyiakan nikmat tersebut hingga akhirnya keluar dari jalan yang benar.
Sebagai contoh, Imam Khamenei menunjuk Bani Israil.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan mereka:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 47).
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar pernah menjadi umat yang memperoleh limpahan nikmat Ilahi. Akan tetapi, menurut penjelasan Imam Khamenei, sejarah kemudian memperlihatkan bagaimana sebagian dari mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut hingga akhirnya termasuk ke dalam golongan yang mendapat kemurkaan Allah.
Karena itulah, beliau membedakan antara dua jenis “orang-orang yang diberi nikmat”. Ada yang mampu menjaga nikmat itu dengan kesetiaan dan ketaatan, tetapi ada pula yang kehilangan kehormatan tersebut karena kufur terhadap karunia yang pernah mereka terima.
Dalam konteks inilah Imam Khamenei memaknai doa yang setiap hari dibaca dalam Surah Al-Fatihah. Ketika seorang mukmin memohon agar ditunjukkan jalan orang-orang yang diberi nikmat, ia sesungguhnya tidak sekadar meminta keberhasilan sesaat. Ia memohon agar termasuk ke dalam golongan yang tetap setia hingga akhir, bukan mereka yang pernah memperoleh karunia, tetapi kemudian tergelincir darinya.
Beliau kemudian mengaitkan pemahaman ini dengan pentingnya mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, semangat berjihad, keteguhan, dan ketahanan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Nilai-nilai itu harus ditanamkan agar menjadi jalan hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam kerangka itulah Imam Khamenei memandang para syuhada sebagai teladan yang harus dipelajari, dikenang, dan dijadikan inspirasi. Bukan semata karena pengorbanan mereka, melainkan karena mereka dipandang sebagai bagian dari orang-orang yang tetap berada di jalan yang lurus hingga akhir hayatnya.
Dengan demikian, doa “صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” bukan hanya permohonan agar diberi nikmat. Ia juga merupakan permohonan agar mampu menjaga nikmat itu dengan istiqamah. Sebab, menurut penafsiran Imam Khamenei, keberhasilan seorang mukmin tidak hanya diukur dari seberapa besar karunia yang pernah diterimanya, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan kesetiaan kepada Allah swt hingga akhir perjalanan hidup.
Membaca ayat ini setiap hari berarti mengingatkan diri bahwa jalan lurus selalu memiliki teladan. Al-Qur’an telah memperkenalkan siapa mereka, sekaligus memperingatkan bahwa nikmat yang tidak dijaga dapat berubah menjadi kehilangan. Karena itu, yang dimohon bukan sekadar menjadi orang yang pernah memperoleh karunia Allah swt, melainkan menjadi bagian dari mereka yang tetap teguh di atas karunia itu sampai akhir.







