Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs: “yang menjadi prinsip utama adalah selalu berada di samping para pemuda”

Kenangan  Sa’id Tasyakkuri tentang Percakapan dengan Pemimpin Revolusi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs di Sela-sela Pameran “Epos Goharshad”

Yang Mulia Ayatullah Sayyid Ali  Khamenei qs pada hari Selasa, 8 Farvardin 1396 HS/ 28 Maret 2017, mengunjungi pameran karya seni dan dokumen sejarah yang berkaitan dengan peristiwa Masjid Goharshad yang diselenggarakan di Haram Suci Imam Ali bin Musa Ar-Ridha as. Beliau juga berbincang secara langsung dengan sebagian seniman dan pemilik karya yang hadir di tempat pameran.Sa’id Tasyakkuri, sutradara teater dan penulis cerita, dalam wawancara dengan situs informasi KHAMENEI.IR menyampaikan kenangan pertemuan dan percakapannya dengan Pemimpin Revolusi Islam di sela-sela pameran tersebut, yang teksnya dipublikasikan sebagai berikut.

Musim semi Mashhad setiap tahun, dengan kehadiran Pemimpin Revolusi, memiliki aroma dan rasa perubahan. Namun saya merasa nikmat yang diberikan kepada saya pada musim semi tahun 96 ini tidak terhitung banyaknya. Saya bersyukur kepada Allah, karena segala yang saya lalui sendirian dalam penulisan novel “Paris, Paris” (dengan tema kebangkitan Goharshad), kali ini dan tahun ini seakan merupakan sebuah awal baru. Saya melewati para peziarah yang berlalu-lalang di pelataran harum makam suci, lalu setelah serangkaian protokoler, saya memasuki Aula Cermin. Di samping para sahabat penyelenggara peringatan kebangkitan Goharshad, teman-teman saya di Husainiyah Seni Mashhad, dan beberapa sahabat lama saya, semuanya menunggu pertemuan itu…

Yang Mulia Pemimpin Revolusi Islam datang, dan saya dijadwalkan menyampaikan kepada beliau laporan tentang proses penulisan “novel kolektif” pertama; sebuah novel bertema peristiwa Goharshad yang sedang ditulis secara kolektif di Husainiyah Seni bersama para penulis muda yang merupakan masa depan dunia novel kami. Kedatangan Pemimpin Revolusi Islam dan rombongan dimulai dengan kunjungan ke pameran dan para seniman. Setelah kunjungan beliau ke pameran selesai, tibalah giliran saya. Saya berada di hadapan beliau; seperti biasa, hangat dan jauh dari segala bentuk formalitas, kami saling menanyakan kabar. Beliau bertanya tentang hari-hari ini dan karya-karya baru saya, lalu saya menyampaikan kepada beliau: setelah pertemuan beberapa bulan lalu ketika saya datang menghadap Anda karena penulisan novel “Maftun dan Firuzeh”, saya merasa harus terjadi sesuatu yang baru dalam dunia penulisan novel kita.

Baca Juga  Aku ahli mengepang rambut dengan baik

beliau menyimak dengan seksama. Saya melanjutkan: kita sama sekali tidak memiliki novel dokumenter, dan kerja kolektif pun sama sekali belum pernah kita lakukan. Novel kolektif tidak bisa dilakukan hanya dengan kehadiran dua orang. Dibutuhkan pelatihan, dan baik dalam teknik maupun isi diperlukan keyakinan hati. Novel kolektif adalah kehadiran sebuah kelompok dengan usia yang beragam, yang perbedaannya dengan sejarah lisan terletak pada teknik novelnya.

Pemimpin Revolusi memandang saya dengan tatapan tajam dan penuh kebaikan, lalu berkata: “Apa karya barumu?” Saya berkata: saya sedang membentuk dan merekrut sebuah tim penulis muda agar di Husainiyah Seni Mashhad, dengan jerih payah yang telah dilakukan teman-teman dalam mengumpulkan dokumen-dokumen peristiwa Goharshad, kami dapat memulai sebuah novel kolektif.

beliau berkata: “Dengan para pemuda? Betapa sulitnya pekerjaan itu! Sampai sekarang kita belum pernah memiliki contohnya di Iran. Pekerjaanmu sangat sulit.”

Saya berkata: tujuan saya dari penyusunan karya ini adalah mendidik para penulis muda dan memulai penulisan novel dokumenter dan kreatif.

Beliau berkata: “Novel kolektif! Ini adalah pekerjaan yang untuk pertama kali dilakukan di sini, dan jika berhasil, itu akan menjadi pekerjaan yang bernilai dan penting, dan melalui itu para penulis muda akan diserahkan kepada masyarakat seni; pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang penulis matang dan berpikiran mendalam. Banyak orang berperan dalam peristiwa Goharshad yang jarang disebut dalam riwayat dan kisah-kisah yang dinukil dari masa itu; orang-orang seperti almarhum Haj Husain Qumi dan almarhum Aghazadeh yang merupakan tokoh-tokoh terkenal Mashhad.”

Pemimpin Revolusi bertanya: “Kamu sendiri juga menulis di dalamnya?” Saya menjawab: “Ya, Yang Mulia.” Sebuah senyum tampak di wajah beliau: “Prinsip utamanya memang ini, bahwa engkau berada di samping para pemuda. Novel kolektif adalah pekerjaan yang sulit dan saya berharap ia berhasil.”

Baca Juga  Ketika Sebuah Bangsa Diuji Kehilangan Pemimpinnya: Antara Duka, Keteguhan, dan Masa Depan Revolusi

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs melakukan pertemuan yang hangat dengan masing-masing sahabat, lalu pergi menuju kumpulan sahabat lainnya dan percakapan dengan para seniman terus berlanjut, hingga beliau menunaikan shalat

Beliau memberikan kepada saya unsur yang hilang dari novel kolektif itu, dan ucapan beliau kepada masing-masing seniman menjadi pembuka jalan dan penguat hati, ketika pada salah satu bagian dari pernyataan beliau, beliau berkata;

“Ini sungguh sangat memprihatinkan bahwa peristiwa Masjid Goharshad, dengan keagungan dan kepentingan sebesar ini, tidak memiliki pantulan apa pun dalam sejarah kita, dalam sastra kita, dan dalam buku-buku novel kita. Alhamdulillah, kalian telah bekerja dengan baik. Sejauh yang saya lihat dan sejauh pemahaman saya sekarang menjangkaunya, menurut saya itu sangat menarik dan baik; baik karya-karya lukisan dan grafis maupun karya-karya laporan dan naratif; semuanya sangat baik.”

Setelah pidato selesai, ketika hendak pergi, Yang Mulia Pemimpin Revolusi Islam memanggil saya, mencium dahi saya, dan berkata: “Saya mendoakan keberhasilan Anda.”

Itu adalah sebuah hari raya yang megah bagi saya. Yang Mulia Tuanku pergi. Di dalam hati saya, taman demi taman penuh rasa syukur mulai bersemai, dan dengan tenang seakan saya berkata kepada semua orang: “Musim semi ini dan hadiah hari raya ini akan selalu saya ingat sampai kapanpun!”

Baca Juga:

Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 1)

Aku ahli mengepang rambut dengan baik

 

Bagikan:
Terkait
Komentar