KHAMENEI.ID– Setiap hari kita dibanjiri kabar. Layar ponsel menyajikan potongan video, cuplikan pidato, judul-judul yang memancing emosi, dan komentar yang datang lebih cepat daripada kesempatan untuk berpikir. Di tengah derasnya arus informasi itu, kita sering merasa telah mengetahui banyak hal, padahal sesungguhnya hanya melihat permukaannya. Barangkali, inilah salah satu penyakit terbesar zaman modern: terburu-buru menyimpulkan sebelum benar-benar memahami.
Dalam tradisi Islam, kemampuan melihat lebih dalam itu disebut bashirah kejernihan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kenyataan dan ilusi, antara kebenaran dan sekadar kesan. Bashirah bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan hasil dari kesediaan mendengar, berpikir, mengamati, lalu mengambil pelajaran.
Amirul Mukminin Imam Ali a.s menggambarkan proses itu dengan kalimat yang sangat ringkas namun mendalam:
فَإِنَّمَا الْبَصِيرُ مَنْ سَمِعَ فَتَفَكَّرَ وَنَظَرَ فَأَبْصَرَ
“Sesungguhnya orang yang memiliki bashirah adalah orang yang mendengar, lalu berpikir, kemudian memperhatikan, sehingga akhirnya benar-benar melihat”
Kalimat itu menunjukkan bahwa melihat bukanlah pekerjaan mata semata. Ada perjalanan batin yang harus dilalui. Mendengar saja tidak cukup. Informasi yang diterima harus dipikirkan. Setelah dipikirkan, seseorang perlu melihat kenyataan dengan mata yang terbuka. Dari sanalah lahir pemahaman yang jernih.
Di titik ini, Imam Ali a.s mengingatkan bahwa banyak orang tergelincir bukan karena kurang informasi, melainkan karena menolak melihat kenyataan. Mereka menutup mata terhadap fakta yang sebenarnya sangat jelas. Mereka hanya memilih apa yang sesuai dengan prasangka, kepentingan, atau kenyamanan mereka sendiri.
Fenomena itu terasa begitu dekat dengan kehidupan hari ini. Betapa sering seseorang membagikan berita tanpa membaca isinya. Betapa mudah orang memihak hanya karena kesamaan kelompok. Bahkan, tidak sedikit yang menolak fakta hanya karena datang dari pihak yang tidak disukainya. Mata memang terbuka, tetapi hati telah memutuskan lebih dulu apa yang ingin dipercaya.
Padahal, bashirah menuntut keberanian untuk melihat sesuatu apa adanya, meskipun hasilnya tidak selalu menyenangkan.
Dalam konteks yang lebih luas, sikap ini menjadi fondasi bagi kedewasaan pribadi maupun sosial. Masyarakat yang kehilangan kemampuan berpikir mendalam akan mudah dipermainkan oleh propaganda. Mereka bereaksi cepat terhadap isu, tetapi lambat memahami akar persoalan. Akibatnya, peristiwa besar sering dipandang secara dangkal, sementara pelajaran penting justru terlewatkan.
Al-Qur’an memberikan contoh tentang bagaimana kesombongan dapat membutakan seseorang terhadap kebenaran. Allah berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. An-Naml: 14)
Ayat ini berbicara tentang sekelompok manusia yang sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi memilih mengingkarinya karena ego dan ambisi. Penolakan mereka bukan lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari keengganan menerima kenyataan.
Namun, Imam Ali a.s mengajak kita untuk tidak sibuk menunjuk orang lain. Musuh yang terang-terangan menolak kebenaran memang selalu ada, tetapi tantangan yang lebih dekat justru berada dalam diri sendiri. Seberapa sering kita enggan melihat fakta karena takut keyakinan kita terguncang? Seberapa sering kita menghindari sudut pandang yang berbeda hanya karena merasa sudah pasti benar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi cermin yang jauh lebih berguna daripada sekadar mencari kesalahan orang lain.
Gagasan ini kemudian menyentuh satu kebiasaan yang tampaknya sederhana, tetapi menentukan kualitas hidup: jangan melewati peristiwa secara sepintas. Setiap kejadian menyimpan pelajaran. Setiap krisis mengandung pesan. Bahkan kegagalan, kehilangan, atau konflik sering kali menjadi ruang terbaik untuk mengenali diri sendiri. Orang yang memiliki bashirah tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Ia bertanya mengapa sesuatu terjadi, apa hikmahnya, dan ke mana peristiwa itu sedang mengarah.
Sebaliknya, mereka yang terbiasa hidup di permukaan akan mudah terombang-ambing oleh keadaan. Hari ini mereka marah, besok mereka memuji, lusa mereka kembali mencela, semuanya bergantung pada arus yang sedang kuat berembus. Mereka kehilangan pijakan karena tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang mereka hadapi.
Imam Ali a.s menggambarkan orang yang memiliki bashirah sebagai pribadi yang mengambil pelajaran dari pengalaman, kemudian menempuh jalan yang jelas sehingga terhindar dari jurang kesesatan. Bashirah bukan hanya membuat seseorang memahami kenyataan, tetapi juga mengarahkannya untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
Barangkali, inilah alasan mengapa orang-orang besar dalam sejarah tidak dikenal karena cepat bereaksi, melainkan karena mereka sabar membaca keadaan. Mereka tidak terjebak dalam hiruk-pikuk sesaat. Mereka melihat pola yang tidak dilihat kebanyakan orang. Mereka mampu membedakan mana gejala dan mana akar persoalan.
Di zaman ketika segala sesuatu bergerak dalam hitungan detik, nasihat Imam Ali a.s terasa semakin relevan. Kita tidak kekurangan informasi. Yang kita kekurangan adalah keheningan untuk berpikir. Kita tidak kekurangan berita. Yang sering hilang adalah keberanian membuka mata terhadap kenyataan yang mungkin berbeda dari keinginan kita.
Pada akhirnya, bashirah bukanlah anugerah yang turun begitu saja. Ia lahir dari kebiasaan mendengar dengan rendah hati, berpikir dengan jernih, melihat dengan mata yang terbuka, lalu belajar dari setiap peristiwa. Sebab kesalahan terbesar bukanlah tidak mengetahui sesuatu, melainkan melewati begitu banyak tanda kehidupan tanpa pernah benar-benar melihatnya.







